Ditulis Oleh: Tim Penulis
Ditinjau Oleh: Mifta Novikasari S.P. M.K.M
Bahaya sukrosa untuk anak tidak hanya berasal dari permen atau minuman bersoda, tetapi juga bisa tersembunyi di dalam susu pertumbuhan yang dikonsumsi si Kecil setiap hari. Sukrosa adalah gula tambahan yang paling sering ditemukan dalam produk makanan dan minuman anak.
Moms mungkin sudah familiar dengan anjuran untuk membatasi makanan manis bagi si Kecil, namun memahami apa itu sukrosa, bagaimana dampaknya terhadap kesehatan si Kecil, serta bagaimana membatasi asupannya, adalah langkah penting yang bisa Moms ambil untuk melindungi tumbuh kembang si Kecil sejak dini.
Apa Itu Sukrosa dan Mengapa Berbeda dengan Laktosa?
Sukrosa adalah gula disakarida yang tersusun dari satu molekul glukosa dan satu molekul fruktosa.
Dalam dunia nutrisi, sukrosa termasuk dalam kategori "gula bebas" (free sugars), yaitu semua gula yang ditambahkan ke makanan oleh produsen, juru masak, atau konsumen, termasuk gula yang secara alami terdapat dalam madu, sirup, dan jus buah.
Sukrosa vs laktosa adalah perbedaan yang penting untuk Moms pahami. Laktosa adalah gula yang secara alami terkandung dalam susu, termasuk ASI dan susu sapi. Berbeda dengan sukrosa yang merupakan gula tambahan, laktosa adalah gula alami yang dicerna lebih lambat oleh tubuh sehingga tidak memicu lonjakan gula darah yang tajam.
Ditambah lagi, laktosa memiliki peran fungsional yang tidak dimiliki sukrosa, yaitu membantu meningkatkan penyerapan kalsium di usus kecil melalui mekanisme penurunan pH usus, yang memudahkan transpor kalsium.
3 Risiko Konsumsi Sukrosa Berlebih pada Anak
Dampak efek gula tambahan, seperti sukrosa pada kesehatan anak tidak bersifat langsung dan instan. Umumnya, Moms baru dapat melihat dampaknya seiring waktu. Maka itu, penting untuk Moms memperhatikannya sejak dini.
Beberapa efek gula tambahan untuk kesehatan si Kecil, di antaranya:
1. Karies Gigi
Dampak negatif dan bahaya sukrosa yang paling sering terjadi adalah karies gigi pada anak.
Sukrosa juga dikenal lebih mudah memicu kerusakan gigi dibandingkan dengan jenis gula lain, termasuk laktosa. Cara kerjanya cukup sederhana, Moms. Bakteri di dalam mulut dapat menggunakan sukrosa untuk menghasilkan zat yang membantu plak menempel lebih kuat di permukaan enamel gigi.
Sebuah studi menemukan bahwa sukrosa dalam jumlah yang cukup banyak dan sering bisa mengubah keseimbangan bakteri di mulut. Ini dapat memicu kondisi yang disebut dysbiosis oral.
Terlebih lagi ada juga studi yang menemukan bahwa konsumsi gula yang lebih tinggi konsisten berhubungan dengan angka karies dini atau early childhood caries yang lebih tinggi pada anak usia di bawah 6 tahun.
Karies dini bukan hanya masalah tampilan gigi, ya, Moms. Kondisi ini juga bisa berkaitan dengan anak yang lebih sulit makan, tidur terganggu, lebih sering absen sekolah, dan kualitas hidup yang menurun.
2. Obesitas dan Gangguan Metabolisme
Risiko obesitas anak adalah salah satu dampak jangka panjang dari konsumsi sukrosa berlebih yang perlu Moms perhatikan.
Penelitian menunjukkan bahwa gula bebas dapat menambah asupan kalori tanpa memberikan nutrisi penting yang spesifik, sehingga bisa meningkatkan risiko kenaikan berat badan yang tidak sehat. Hal ini juga menjadi salah satu alasan mengapa bahaya sukrosa untuk anak perlu dipahami sejak dini, terutama jika Si Kecil sering mengonsumsi makanan atau minuman manis.
Berdasarkan informasi dari WHO menemukan bahwa semakin tinggi asupan gula bebas, semakin besar pula kaitannya dengan peningkatan berat badan.
Selain itu, analisis dari beberapa studi jangka panjang menunjukkan bahwa anak-anak yang paling sering mengonsumsi minuman bergula atau sugar-sweetened beverages (SSB) memiliki kemungkinan lebih besar mengalami overweight atau obesitas dibandingkan anak yang konsumsinya paling rendah.
Bukan cuma itu, Moms. Penelitian lain yang diterbitkan dalam jurnal Nutrients (2023) menemukan bahwa konsumsi SSB berkaitan dengan peningkatan obesitas dan risiko gangguan metabolik pada anak serta remaja, termasuk resistensi insulin, diabetes tipe 2, hipertensi, dan sindrom metabolik.
Inilah salah satu efek gula tambahan yang perlu Moms waspadai, terutama bila asupannya berasal dari produk yang dikonsumsi rutin.
Baca Juga: Apa yang Perlu Diperhatikan dalam Kemasan Susu? Cek di Sini!
3. Risiko Masalah Jantung
American Heart Association (AHA) dalam pernyataan ilmiahnya menjelaskan bahwa konsumsi 10 gram gula tambahan per hari dari minuman berkaitan dengan peningkatan glukosa puasa, insulin puasa, dan HOMA-IR, yaitu salah satu indeks untuk melihat resistensi insulin.
Temuan ini menunjukkan bahwa dampak gula tambahan pada kesehatan jantung dan metabolisme anak bisa mulai terlihat bahkan pada tingkat konsumsi yang lebih rendah dari rata-rata konsumsi anak saat ini.
Karena itu, saat memilih makanan atau minuman harian untuk Si Kecil, Moms bisa mulai membedakan sukrosa vs laktosa.
Sukrosa umumnya ditambahkan sebagai pemanis, sedangkan laktosa adalah gula alami dalam susu. Dengan memahami perbedaannya, Moms bisa lebih cermat membatasi gula tambahan tanpa harus langsung menghilangkan semua sumber nutrisi yang dibutuhkan anak.
Berapa Batas Gula Tambahan untuk Anak?
Menurut WHO, asupan gula bebas, termasuk sukrosa, sebaiknya tidak lebih dari 10% dari total energi harian. WHO juga menyarankan batas yang lebih rendah, yaitu di bawah 5%, untuk manfaat kesehatan tambahan.
Rekomendasi ini bisa menjadi panduan awal bagi Moms untuk memahami kapan bahaya sukrosa untuk anak perlu mulai diwaspadai, terutama jika Si Kecil sering mengonsumsi makanan atau minuman manis.
American Academy of Pediatrics (AAP) memberikan batas yang lebih mudah dibayangkan dalam angka harian. Anak usia di atas 2 tahun sebaiknya mengonsumsi gula tambahan kurang dari 25 gram atau sekitar 6 sendok teh per hari. Sementara itu, untuk anak di bawah 2 tahun, AAP menyarankan agar makanan dan minuman dengan gula tambahan dihindari.
Batas ini bukan berarti Moms harus menghitung setiap gram gula secara berlebihan setiap hari, ya. Angka tersebut bisa menjadi panduan agar Moms lebih cermat membaca label produk, terutama makanan dan minuman yang dikonsumsi si Kecil secara rutin. Ini penting karena sumber gula tambahan tidak selalu terlihat jelas.
Batasan ini juga tidak hanya berlaku untuk permen, minuman bersoda, atau jus kemasan. Sukrosa yang tersembunyi dalam produk susu pertumbuhan, sereal sarapan, biskuit, saus, dan berbagai produk kemasan lainnya ikut dihitung dalam total gula harian. Inilah salah satu efek gula tambahan yang sering tidak disadari, karena sumbernya bisa datang dari produk yang terlihat seperti makanan atau minuman harian biasa.
Bahaya Tersembunyi Sukrosa dalam Susu dan Minuman Anak
Banyak Moms tidak menyadari bahwa beberapa produk susu dan minuman anak bisa menggunakan sukrosa sebagai pemanis untuk membuat rasanya lebih manis dan lebih mudah diterima si Kecil. Jika dikonsumsi sesekali dalam jumlah wajar, hal ini mungkin tidak langsung terasa dampaknya.
Namun, jika si Kecil minum susu pertumbuhan dua kali sehari dan masih mendapatkan gula tambahan dari camilan, biskuit, sereal, atau minuman kemasan lain, total asupan sukrosa hariannya bisa bertambah tanpa Moms sadari.
Di sinilah Moms perlu memahami sukrosa vs laktosa saat membaca label susu. Sukrosa biasanya ditambahkan sebagai pemanis, sedangkan laktosa adalah gula alami yang memang sudah terdapat dalam susu. Jadi, saat memilih produk untuk si Kecil, Moms sebaiknya tidak hanya melihat klaim di bagian depan kemasan, tetapi juga memeriksa daftar komposisi dan informasi nilai gizi.
Sukrosa atau gula tambahan bisa muncul dengan berbagai nama pada label komposisi, seperti:
gula pasir,
sukrosa,
sirup jagung,
sirup jagung fruktosa tinggi,
dekstrosa,
atau madu.
Jika nama-nama tersebut muncul di bagian awal daftar komposisi, artinya kandungannya kemungkinan cukup dominan dalam produk tersebut.
Moms juga perlu memperhatikan paparan rasa manis yang terlalu sering sejak dini. Jika si Kecil terbiasa dengan produk yang rasanya sangat manis, ia bisa lebih mudah menyukai makanan dan minuman dengan kadar gula yang lebih tinggi.
Inilah salah satu efek gula tambahan yang sering tidak langsung terlihat, tetapi bisa memengaruhi kebiasaan makan si Kecil dalam jangka panjang.
4 Tips Mengurangi Asupan Sukrosa Tanpa Mengorbankan Nutrisi si Kecil
Menghindari dampak dan bahaya sukrosa tidak berarti mengurangi nutrisi untuk anak, Moms. Ada langkah-langkah praktis yang bisa diterapkan sehari-hari.
1. Biasakan Membaca Label Nilai Gizi
Mulai sekarang, Moms sebaiknya membaca dulu semua label nilai gizi ketika berbelanja makanan atau minuman untuk si Kecil.
Moms bisa perhatikan baris "Total Gula" dan "Gula Tambahan" pada tabel informasi nilai gizi. Pilih produk dengan angka gula tambahan yang lebih rendah dan kandungan serat pangan yang lebih tinggi, karena serat membantu memperlambat penyerapan gula dalam tubuh.
2. Pilih Camilan dengan Rasa Manis Alami
Buah bisa menjadi pilihan camilan yang lebih baik karena mengandung serat, vitamin, dan mineral. Moms bisa memberikan pisang, apel, pir, atau buah lain sesuai usia dan kemampuan makan si Kecil. Namun, tetap perhatikan porsi dan bentuk penyajiannya agar sesuai dengan kebutuhan anak.
Jika si Kecil terbiasa makan camilan manis, Moms bisa menggantinya secara bertahap. Misalnya, pilih buah potong, yogurt plain dengan buah, atau makanan rumahan yang rasa manisnya lebih mudah Moms kontrol.
3. Hindari Minuman Manis sebagai Pilihan Sehari-hari
Minuman manis sering menjadi sumber gula tambahan yang tidak disadari. HealthyChildren dari AAP menyarankan agar anak lebih sering diberikan air putih dan susu, serta membatasi minuman seperti soda, sport drink, teh manis, kopi manis, dan minuman buah berpemanis.
Jika si Kecil sudah terbiasa dengan minuman manis, Moms bisa menguranginya perlahan. Misalnya, mulai dengan mengurangi frekuensi, mengganti sebagian dengan air putih, atau memilih susu tanpa tambahan sukrosa. Perubahan bertahap biasanya lebih mudah diterima anak dibandingkan dengan perubahan yang terlalu mendadak.
4. Pilih Susu Pertumbuhan Berlabel 0 Gram Sukrosa
Saat memilih susu untuk si Kecil, periksa apakah produk tersebut mengandung 0 gram sukrosa. Susu tanpa sukrosa tetap bisa terasa manis karena mengandung laktosa sebagai gula alami susu, dan laktosa memberikan manfaat tambahan berupa dukungan penyerapan kalsium yang lebih optimal untuk pertumbuhan tulang si Kecil.
Untuk bantu melengkapi kebutuhan nutrisi harian si Kecil, Moms dapat memilih LACTOGROW. LACTOGROW satu-satunya susu pertumbuhan dengan L. reuteri* dan 0g sukrosa. Selain itu, LACTOGROW juga diperkaya dengan inulin, DHA, ARA, omega 3 & 6, 13 vitamin, dan 7 mineral untuk membantu perut si kecil jadi lebih nyaman dan nutrisi terserap optimal.
Pertanyaan Seputar Bahaya Sukrosa untuk Anak
Mengapa sukrosa berlebih berbahaya bagi anak?
Menurut penelitian, bahaya sukrosa berlebih bisa meningkatkan risiko kesehatan pada si Kecil, seperti karies gigi dini, obesitas dan gangguan metabolisme termasuk resistensi insulin dan diabetes tipe 2, serta risiko penyakit jantung. WHO merekomendasikan batas asupan gula bebas tidak melebihi 10% total energi harian anak.
Apakah susu harus bebas sukrosa?
Memilih susu pertumbuhan yang mengandung 0 gram sukrosa sangat dianjurkan karena membantu Moms mengontrol total asupan gula tambahan harian si Kecil. Susu tanpa sukrosa tetap memberikan rasa manis alami dari laktosa, yang merupakan gula alami susu. Ini juga sekaligus mendukung penyerapan kalsium untuk pertumbuhan tulang.
Source:
1. World Health Organization. (2015). Guideline: Sugars Intake for Adults and Children – Recommendations and remarks. Geneva: WHO. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK285525/
2. Gupta, P., et al. (2013). Role of Sugar and Sugar Substitutes in Dental Caries: A Review. International Scholarly Research Notices. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3893787/
3. Kwak, H. S., et al. (2012). Revisiting lactose as an enhancer of calcium absorption. Dikutip dalam: Conway, et al. (2020). The Role of Milk Components, Pro-, Pre-, and Synbiotic Foods in Calcium Absorption and Bone Health Maintenance. PMC7539038 https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7539038/
4. Grenov, B., et al. (2016). Undernourished Children and Milk Lactose. Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition. https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/0379572116629024
5. Gupta, P., et al. (2013). Op. cit.; PMC12364400. Cariogenic Potential of Lactose-Free Infant Formulas. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12364400/
6. Zheng, X., et al. (2020). Sucrose promotes caries progression by disrupting the microecological balance in oral biofilms. NPJ Biofilms and Microbiomes. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7031525/
7. Echeverria, M. S., et al. (2025). Sugar consumption and early childhood caries: a systematic review and meta-analysis of cohort studies. Brazilian Oral Research, 39, 122. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC12628725/
8 World, et al. (2024). Impact of unhealthy food and beverage consumption on children's risk of dental caries: a systematic review. Nutrition Reviews. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC11465133/
9. World Health Organization. (2015). Op. cit. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK285525/
10. World Health Organization. (2015). Guideline: Sugars Intake for Adults and Children – Executive Summary. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK285538/
11. Calcaterra, V., et al. (2023). Sugar-Sweetened Beverages and Metabolic Risk in Children and Adolescents with Obesity: A Narrative Review. Nutrients, 15(3), 702. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/36771409/
12. Vos, M. B., et al. (2017). Added Sugars and Cardiovascular Disease Risk in Children: A Scientific Statement From the American Heart Association. Circulation. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5365373/
13. World Health Organization. (2015). Op. cit. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK285525/
14. Vos, M. B., et al. (2017). Op. cit.; AAP News. (2016). AHA: Limit children's sugar consumption to 6 teaspoons per day. https://publications.aap.org/aapnews/news/7400/AHA-Limit-children-s-sugar-consumption-to-6
15. Ilesanmi-Oyelere, B. L., & Kruger, M. C. (2020). The Role of Milk Components, Pro-, Pre-, and Synbiotic Foods in Calcium Absorption and Bone Health Maintenance. Frontiers in nutrition, 7, 578702. https://doi.org/10.3389/fnut.2020.578702