Waktu baca: 2 menit
Saat musim pancaroba, diare menjadi salah satu penyakit yang sering mengintai anak-anak. Insiden diare dapat meningkat pada periode tertentu, yang seringkali berkaitan dengan perubahan perilaku, kondisi lingkungan, serta paparan terhadap patogen infeksius seperti virus dan bakteri.
Penyebab diare anak salah satunya adalah infeksi di usus yang disebut gastroenteritis. Kerap dialami anak usia dini karena sistem pencernaannya yang belum sempurna dan masih beradaptasi dengan berbagai jenis makanan dan minuman. Diare merupakan respons tubuh akibat gangguan fungsi usus, yang dapat disebabkan oleh infeksi sehingga terjadi peningkatan sekresi atau penurunan absorpsi cairan di usus.
Gejala Diare Pada Anak
Diare adalah penyakit yang menyebabkan penderitanya mengalami buang air besar (BAB) lebih sering dan lebih encer. Jika anak BAB lebih dari 3 kali sehari dan konsistensi feses lunak hingga cair, maka bisa dikatakan ia mengalami diare. Pada bayi, diagnosis diare harus mempertimbangkan perubahan dari pola buang air besar normal (frekuensi atau konsistensi yang lebih encer dari biasanya).
Gejala dan tanda anak diare bisa berbeda tergantung kondisi anak. Namun, secara umum, gejala diare pada anak di antaranya meliputi:
- BAB cair
- Tidak nafsu makan
- Mual dan muntah
- Berat badan turun
- Kram pada perut
- Perut mulas atau kembung
- Dorongan untuk BAB meningkat
- Tidak mampu menahan BAB
- Demam
- Bercak darah pada feses
- Dehidrasi.
Faktor Penyebab Diare Anak
Penyebab diare pada anak bisa dibedakan menjadi dua, yakni karena infeksi maupun non-infeksi. Virus merupakan penyebab tersering diare akut pada anak secara global, terutama rotavirus dan norovirus.
Diare karena infeksi lainnya bisa disebabkan oleh bakteri (10-20%) dan parasit (<10%). Bakteri penyebab diare pada anak di antaranya adalah bakteri Salmonella, E. coli, Campylobacter, dan Shigella. Diare juga bisa disebabkan oleh infeksi parasit bernama Giardia.
Sedangkan, untuk penyebab diare anak non-infeksi di antaranya adalah karena:
- Alergi makanan/minuman
- Keracunan makanan
- Intoleransi laktosa
- Penyakit pada organ pencernaan, seperti celiac, radang usus, dan iritasi usus
- Pengaruh obat-obatan seperti antibiotik
- Terlalu banyak mengonsumsi minuman manis, seperti jus buah dengan pemanis buatan, juga bisa menjadi penyebab anak mengalami diare.
Baca Juga: Susu untuk Pencernaan Anak
Pertolongan Pertama Mengatasi Anak Diare
Penting bagi Moms mengetahui secara pasti apa penyebab diare pada anak. Hal ini agar dapat segera dilakukan langkah penanganan yang sesuai.
Meski pada umumnya diare pada anak dapat sembuh dengan sendirinya, beberapa kasus diare membutuhkan penanganan medis dan obat-obatan yang tepat.
Sebagian besar diare akut tidak memerlukan antibiotik. Antibiotik hanya diberikan pada kondisi tertentu berdasarkan evaluasi dokter, seperti infeksi bakteri spesifik atau diare berat dengan indikasi klinis.
Langkah pertama menangani diare saat di rumah adalah mencegah Si Kecil mengalami dehidrasi. Dehidrasi pada anak yang terlambat ditangani dapat mengancam nyawa.
Saat diare, Si Kecil dapat kehilangan banyak cairan tubuh yang keluar bersama dengan BAB. Tak hanya itu, tubuh juga akan mengalami ketidakseimbangan elektrolit. Saat tubuh kekurangan cairan dan elektrolit maka dapat mengakibatkan dehidrasi, yang jika tidak ditangani dengan tepat dapat menyebabkan masalah kesehatan yang lebih serius, mulai dari kerusakan organ, syok, koma, bahkan kematian.
Itulah alasan mengapa menjaga hidrasi tubuh saat diare menjadi sangat penting. Selain mengganti cairan yang keluar saat BAB, Moms juga perlu memperhatikan keseimbangan elektrolit dalam tubuh Si Kecil. Sehingga tidak cukup hanya dengan air minum biasa, berikan juga cairan rehidrasi oral atau oralit.
Perhatikan tanda-tanda dehidrasi seperti mata cekung, air mata tidak keluar saat menangis, urin berkurang dan berwarna pekat, tubuh lemas, dan sulit makan atau minum.
Perhatikan asupan cairan Si Kecil saat diare. Berikan minum setiap setelah anak BAB. Jika air putih biasa tidak cukup, Moms bisa memberi minum oralit untuk mengganti elektrolit yang keluar, bisa juga dengan memberikan makanan berkuah, seperti sup dan sayur.
WHO merekomendasikan penggunaan oralit dengan osmolaritas rendah sebagai terapi utama rehidrasi pada diare.
Bila anak masih mendapat asupan ASI, jangan berhenti memberinya ASI. Bahkan bila memungkinkan, tambahkan frekuensi menyusu Si Kecil.
Jangan berikan obat pada anak yang sedang diare seperti antibiotik maupun penghenti diare tanpa petunjuk dari dokter. Selain itu, jangan lupa untuk segera melakukan konsultasi ke dokter.
Makanan yang Harus Dihindari Anak Saat Diare
Saat anak diare, penting bagi Moms untuk menjaga asupan makanan dan minumannya. Hal ini bertujuan agar bayi diare tetap aktif. Selain memberikan cairan yang cukup, ada beberapa jenis makanan maupun minuman yang perlu dihindari saat Si Kecil diare, di antaranya:
- Makanan gorengan dan berminyak, karena lemak sulit dicerna dan dapat memicu kontraksi
- Makanan cepat saji, juga mengandung tinggi lemak yang butuh tenaga ekstra untuk dicerna usus
- Kue kering
- Makanan dengan pemanis buatan, zat seperti aspartam, sorbitol, atau xylitol yang digunakan sebagai pemanis buatan dapat memiliki efek pencahar alami
- Makanan pedas dan asam
- Jus buah, karena mendorong sering BAB dan kandungan fruktosa (gula alami buah) yang berlebih dapat memperparah diare
- Sayuran dan buah mengandung gas, seperti brokoli, buncis, dan durian karena memicu kembung dan rasa tak nyaman di perut
- Minuman mengandung kafein dan soda
Anak dengan diare dianjurkan tetap mengonsumsi diet seimbang sesuai usia, tanpa pembatasan makanan ketat, dengan fokus pada makanan yang mudah dicerna.
Untuk daging dan juga ayam sebaiknya diolah dengan cara direbus atau dipanggang. Hindari makanan yang digoreng menggunakan minyak. Untuk buah dan sayuran yang biasa dimakan dengan kulitnya, seperti mentimun dan apel, saat diare sebaiknya kupas terlebih dahulu. Perhatikan asupan cairan. Selain dari air minum, lauk berkuah juga bagus sebagai sumber cairan untuk hidrasi tubuh saat diare
Demi mencegah diare kembali menyerang Si Kecil langkah pencegahan yang bisa Moms lakukan yakni dengan mengajarkan Si Kecil protokol kebersihan diri, menjaga keamanan pangan dan air untuk anak, serta meningkatkan kesehatan saluran cernanya.
Karena salah satu penyebab diare anak adalah bakteri dan kuman yang dapat masuk melalui makanan Si Kecil, penting untuk Moms menjaga kebersihan asupan makanan anak.
Biasakan Si Kecil mencuci tangan dengan sabun selama 20 detik setelah menggunakan toilet, dan sebelum dan sesudah makan, maupun saat mempersiapkan makanan. Biasakan juga disinfektasi benda di rumah yang sering disentuh.
Untuk membantu mencegah Si Kecil mudah terserang diare, Moms dapat memberikan makanan atau minuman yang mengandung probiotik. Probiotik merupakan bakteri baik yang berperan dalam menjaga keseimbangan mikrobiota usus dan mendukung kesehatan pencernaan anak. Beberapa studi menunjukkan bahwa strain tertentu, seperti L. reuteri DSM 17938, dapat membantu mempersingkat durasi diare pada anak dengan diare akut.
Lactogrow satu-satunya susu pertumbuhan yang mengandung L. reuteri, juga 0 gr sukrosa. Lactogrow dukung pencernaan sehat si kecil agar nutrisinya terserap optimal. Selain itu Lactogrow juga diperkaya dengan DHA, minyak ikan omega 3&6 yang mendukung perkebangan kognitif anak, serta dilengkapi 13 vitamin dan 7 mineral untuk membantu menunjang tumbuh kembang si kecil secara menyeluruh
Pertanyaan Umum Seputar Diare pada Anak
1. Apa penyebab paling umum diare pada anak?
Penyebab paling umum diare pada anak salah satunya adalah infeksi baik virus, bakteri, maupun parasit. Selain itu bisa juga karena sebab non-infeksi, seperti alergi makanan atau minuman, keracunan makanan, intoleransi laktosa, penyakit pada sistem pencernaan, hingga pengaruh obat-obatan. Mengetahui penyebab diare anak dapat membantu menentukan cara mengatasi yang tepat.
2. Kapan diare anak perlu segera dibawa ke rumah sakit?
Diare anak perlu segera dibawa ke rumah sakit apabila anak menunjukkan gejala atau tanda keparahan, seperti berlangsung dalam waktu lama, mengalami dehidrasi parah, demam tinggi, ada bercak darah di feses, hingga kondisi tubuh yang terus melemah.
Referensi:
- Diarrheal Diseases – Acute and Chronic - American College of Gastroenterology. Retrieved on May 10th 2026 from https://gi.org/topics/diarrhea-acute-and-chronic/
- What Common Foods Can Cause Diarrhea? - Healthline. Retrieved on May 10th 2026 from https://www.healthline.com/health/foods-that-cause-diarrhea
- What to Eat and Avoid When You Have Diarrhea - Healthline. Retrieved on May 10th 2026 from https://www.healthline.com/health/what-to-eat-when-you-have-diarrhea
- When you have diarrhea - Medline Plus. Retrieved on May 10th 2026 from https://medlineplus.gov/ency/patientinstructions/000121.htm
- Definition & Facts for Diarrhea - NIH. Retrieved on May 10th 2026 from https://www.niddk.nih.gov/health-information/digestive-diseases/diarrhea/definition-facts
- World ORS Day 2020: 5 Different Types Of Life-Saving Oral Rehydration Salts And Their Benefits - Netmeds. Retrieved on May 10th 2026 from https://www.netmeds.com/c/health-library/post/world-ors-day-2020-5-different-types-of-life-saving-oral-rehydration-salts-and-their-benefits? srsltid=AfmBOorm_9f5s7VH_PbXuxo3rWNX6d4UlzJrSIclQk434zXPGORowBfI
- Diarrhea - Cleveland Clinic. Retrieved on May 10th 2026 from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/4108-diarrhea
- Dinleyici, E. C., Dalgic, N., Guven, S., Metin, O., Yasa, O., Kurugol, Z., Turel, O., Tanir, G., Mustafa, A. S., Carabajal, N., & Vandenplas, Y. (2015). Lactobacillus reuteri DSM 17938 shortens acute infectious diarrhea in a pediatric outpatient setting. Jornal de Pediatria, 91(4), 392–396. https://doi.org/10.1016/j.jped.2014.10.009