Parenting Corner

Apa Perbedaan Diare Infeksi dan Diare Alergi? Simak Jawabannya!

10 September 2026

diare karena alergi

Diare infeksi disebabkan oleh virus atau bakteri yang masuk melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi, sedangkan diare alergi disebabkan oleh reaksi sistem imun terhadap makanan tertentu, seperti alergi susu sapi atau protein kedelai. Perbedaan utama keduanya terletak pada penyebabnya, yaitu infeksi kuman versus reaksi alergi tubuh, meski gejala yang muncul bisa sangat mirip sehingga sering sulit dibedakan di awal.

Melihat Si Kecil mengalami diare tentu bikin Moms khawatir, apalagi kalau kejadiannya berulang atau tidak kunjung membaik. Banyak orang tua langsung mengira penyebabnya infeksi, padahal tidak semua diare disebabkan oleh hal tersebut.

Oleh karena itu, Moms perlu memahami perbedaan antara diare akibat infeksi dan alergi, termasuk mengenali tanda-tanda khasnya agar bisa memberikan penanganan yang tepat.

Diare karena Infeksi vs Alergi, Apa Bedanya? 

Meski sama-sama ditandai dengan frekuensi BAB yang meningkat dan tekstur feses yang lebih cair, diare karena infeksi dan diare karena alergi sebenarnya memiliki penyebab, pola, dan respons tubuh yang sangat berbeda.

Diare karena Infeksi 

Diare akibat infeksi terjadi ketika virus atau bakteri masuk ke dalam saluran pencernaan. Penularannya biasanya melalui makanan atau minuman yang kurang higienis, tangan yang tidak bersih, atau kontak dengan benda yang terkontaminasi.

Pada anak, kondisi ini cukup sering terjadi karena sistem kekebalan tubuh mereka masih berkembang dan belum sekuat orang dewasa.

Saat tubuh mencoba melawan infeksi, usus akan bekerja lebih cepat untuk mengeluarkan “zat asing” tersebut, sehingga terjadilah diare.

Ciri-ciri diare karena infeksi:

  • Sering disertai demam sebagai tanda tubuh melawan infeksi
  • Anak tampak lemas, kurang responsif, atau lebih rewel dari biasanya
  • Feses cair, kadang disertai lendir, dan berbau lebih tajam dari normal
  • Bisa disertai muntah berulang
  • Muncul secara mendadak tanpa pola tertentu
  • Dapat terjadi dalam waktu singkat dan cukup intens

Pada kondisi ini, fokus utama penanganan adalah menjaga cairan tubuh agar anak tidak mengalami dehidrasi, serta mengatasi infeksi yang mendasarinya.

Diare karena Alergi 

Berbeda dengan infeksi, diare karena alergi terjadi bukan karena kuman, tetapi karena sistem imun tubuh bereaksi secara berlebihan terhadap makanan tertentu yang sebenarnya aman bagi kebanyakan orang.

Dalam kondisi ini, tubuh “salah mengenali” protein tertentu dalam makanan sebagai ancaman. Akibatnya, sistem imun akan memicu reaksi yang kemudian berdampak pada saluran pencernaan.

Reaksi ini bisa terjadi segera setelah anak mengonsumsi makanan pemicu atau muncul secara bertahap jika paparan terus berulang. Pemicu yang paling umum biasanya berasal dari protein susu. Gejala alergi susu sapi ini bisa muncul secara mendadak maupun bertahap.

Ciri khas diare karena alergi:

  • Tidak selalu disertai demam
  • Muncul setelah mengonsumsi makanan tertentu yang sama
  • Pola kejadian berulang dengan pemicu yang konsisten
  • Kadang disertai ruam dan mencret sebagai reaksi tambahan
  • Kondisi anak di awal bisa tetap aktif, sehingga sering tidak langsung disadari

Pada beberapa anak, gejala alergi juga bisa terbatas di saluran cerna saja tanpa tanda di kulit, sehingga sering dikira hanya gangguan pencernaan biasa.

Alergi yang “Menyamar” Menjadi Diare Biasa 

Alergi makanan pada anak tidak selalu muncul dalam bentuk gatal di kulit. Pada beberapa kasus, reaksi alergi hanya terlihat di saluran pencernaan tanpa disertai tanda pada kulit, sehingga sering disalahartikan sebagai diare biasa.

Karena gejalanya tidak khas, kondisi ini sering tidak langsung disadari. Apalagi jika Si Kecil terlihat seperti biasa dan tidak menunjukkan tanda sakit yang berat, diare berulang sering dianggap hanya gangguan pencernaan sementara.

Padahal, jika diare terus muncul meskipun kebersihan makanan sudah dijaga dengan baik, kondisi ini bisa menjadi sinyal adanya reaksi alergi terhadap makanan tertentu yang selama ini tidak disadari.

Baca Juga: Perbedaan L.Reuteri dan Rhamnosus

5 Daftar Makanan Pemicu Alergi yang Perlu Diperhatikan 

Beberapa kelompok makanan memang lebih sering dikaitkan dengan reaksi alergi pada anak maupun orang dewasa. Kondisi ini terjadi ketika sistem imun tubuh bereaksi berlebihan terhadap protein tertentu yang sebenarnya tidak berbahaya.

1. Susu Sapi dan Produk Olahannya

Susu sapi merupakan salah satu penyebab alergi paling umum, terutama pada anak usia dini. Protein seperti kasein dan whey dapat memicu reaksi seperti sakit perut, ruam, atau gangguan pencernaan.

2. Telur dan Gandum

Telur dan gandum juga termasuk alergen yang sering ditemukan pada anak-anak. Sistem pencernaan yang belum matang membuat tubuh lebih sensitif terhadap protein dalam makanan ini.

3. Kacang Tanah dan Kacang Pohon

Kacang-kacangan dikenal sebagai pemicu alergi yang cukup kuat dan bisa menimbulkan reaksi serius pada sebagian orang. Bahkan dalam jumlah kecil, makanan ini bisa memicu gejala seperti gatal, bengkak, hingga sesak napas.

4. Ikan dan Makanan Laut (Seafood)

Ikan dan seafood termasuk kelompok makanan yang sering menyebabkan alergi, terutama pada anak dengan riwayat alergi keluarga. Reaksinya bisa berupa gangguan pencernaan hingga reaksi alergi kulit.

5. Kedelai

Kedelai juga dapat menjadi pemicu alergi meskipun tidak seumum susu atau kacang. Beberapa anak bisa mengalami gejala seperti perut kembung, diare, atau reaksi kulit setelah mengonsumsinya.

Cara Dokter Mendiagnosis Diare Alergi

Untuk memastikan apakah diare yang dialami Si Kecil disebabkan oleh alergi, dokter biasanya tidak langsung menegakkan diagnosis hanya dari satu gejala saja. Diperlukan beberapa tahapan pemeriksaan untuk melihat pola reaksi tubuh secara lebih menyeluruh. 

1. Anamnesis (Tanya Jawab)

Pada tahap awal, dokter akan melakukan wawancara mendalam untuk menggali informasi dari orang tua. Dari sini, dokter bisa mendapatkan gambaran awal kemungkinan adanya pemicu alergi. 

Dokter biasanya akan bertanya seputar pola makan Si Kecil, jenis makanan yang dikonsumsi sebelum gejala diare muncul, durasi keluhan, serta apakah gejala tersebut sering berulang setelah mengonsumsi makanan tertentu. 

2. Diet Eliminasi

Jika ada kecurigaan terhadap makanan tertentu, dokter biasanya akan menyarankan diet eliminasi. Pada tahap ini, Moms diminta menghentikan sementara konsumsi makanan yang dicurigai sebagai pemicu selama sekitar 1–2 minggu. Tujuannya adalah untuk melihat apakah gejala diare akan membaik ketika paparan makanan tersebut dihilangkan dari pola makan Si Kecil.

3. Tes Alergi

Untuk memperkuat dugaan, pemeriksaan lanjutan dapat dilakukan melalui Skin Prick Test atau tes darah. Pemeriksaan ini bertujuan mendeteksi adanya antibodi tertentu yang menunjukkan reaksi alergi dalam tubuh terhadap zat atau makanan spesifik.

4. Uji Tantangan Makan Oral (Food Challenge)

Tahap ini biasanya dilakukan dengan pengawasan ketat dokter. Si Kecil akan diberikan kembali makanan yang sebelumnya dicurigai sebagai pemicu alergi dalam jumlah kecil, lalu dokter akan mengamati apakah muncul reaksi alergi. Prosedur ini membantu memastikan diagnosis secara lebih akurat karena dokter dapat melihat respons tubuh secara langsung. 

3 Langkah Tepat Menangani Diare Alergi

Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk menangani diare alergi.

1. Menghindari Makanan Pemicu 

Semua makanan yang sudah terbukti memicu reaksi alergi perlu dihentikan sepenuhnya untuk mencegah kambuhnya diare. Meskipun gejala sudah membaik, makanan yang pernah memicu reaksi sebaiknya tetap dihindari karena tubuh bisa bereaksi lebih cepat atau lebih berat saat terpapar ulang.

2. Menyesuaikan Pola Makan Ibu Menyusui (Jika Masih ASI)

Jika Si Kecil masih mendapatkan ASI, Moms mungkin perlu menyesuaikan asupan makanan harian sesuai anjuran tenaga medis agar alergen tidak ikut tersalurkan.

3. Menggunakan Susu Hipoalergenik Sesuai Anjuran Dokter

Pada kondisi tertentu, dokter dapat merekomendasikan susu khusus hipoalergenik yang lebih mudah dicerna oleh anak dengan sistem pencernaan sensitif.

Setelah penyebab diare diketahui dan Si Kecil mendapatkan penanganan sesuai anjuran dokter, Moms tetap perlu menjaga pemenuhan nutrisi hariannya melalui makanan bergizi seimbang dan asupan yang sesuai dengan kondisi anak.

Pencernaan sehat merupakan kunci penyerapan nutrisi optimal untuk mendukung tumbuh kembang anak setiap hari. Untuk melengkapi kebutuhan nutrisi hariannya, Moms dapat memilih LACTOGROW. LACTOGROW satu-satunya susu pertumbuhan dengan L. reuteri* dan juga 0g sukrosa. LACTOGROW juga dilengkapi inulin, DHA, ARA, omega 3 & 6, 13 vitamin, serta 7 mineral untuk membantu perut Si Kecil jadi lebih nyaman dan nutrisi terserap optimal.

Pertanyaan Seputar Diare Karena Alergi

  1. Bagaimana membedakan diare karena virus dan diare karena alergi?
    Diare virus biasanya muncul tiba-tiba, disertai demam, anak tampak lemas, dan tidak tergantung makanan tertentu. Sementara diare alergi muncul berulang setelah konsumsi makanan pemicu, tidak selalu disertai demam, dan sering membentuk pola yang sama. 
     
  2. Apa ciri alergi makanan yang bermanifestasi ke pencernaan?
    Ciri utamanya adalah diare berulang, kram atau sakit perut, muntah, serta gejala yang muncul setiap kali mengonsumsi makanan tertentu. Pada beberapa kasus, bisa tanpa gejala kulit dan anak tetap tampak seperti biasa. 

*Nestle adalah satu-satunya pemegang lisensi L. reuteri DSM 17938 untuk produk susu pertumbuhan.


Referensi:

Meisenheimer, E. S., MD, MBA, Epstein, C., DO, & Thiel, D., MD, MPH (2022). Acute Diarrhea in Adults. American family physician, 106(1), 72–80. 

National Library of Medicine. (2024). Cow Milk Allergy. National Library of Medicine. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK542243

Cook, V. E. et al. (2024). Non-immunoglobulin E-mediated food allergy. Allergy, Asthma & Clinical Immunology, 20. https://doi.org/10.1186/s13223-024-00933-4

Nuyttens L, De Vlieger L, Diels M, Schrijvers R and Bullens DMA (2023) The clinical and immunological basis of early food introduction in food allergy prevention. Front. Allergy 4:1111687. doi: 10.3389/falgy.2023.1111687   

Gupta RS, Epstein E and Wood RA (2024) The role of pediatricians in the diagnosis and management of IgE-mediated food allergy: a review. Front. Pediatr. 12:1373373. doi: 10.3389/fped.2024.1373373

Secord, E. A., & Kaliner, M. A. (2026). Food Allergies Workup: Approach Considerations, Laboratory Studies, Other Tests. Medscape Reference. https://emedicine.medscape.com/article/135959-workup

 Jones, J., & Kubala, J. (2024). Food Allergy Testing: What to Know. Healthline. https://www.healthline.com/health/food-allergy-testing

 Wright, K. et al. (2022). Nutritional Management of Children with Food Allergies. Curr Treat Options Allergy. https://doi.org/10.1007/s40521-022-00320-7




Bagikan : Facebook WhatsApp


Artikel Terkait

Lihat Artikel Lainnya