Diare pada bayi umumnya ditandai dengan peningkatan frekuensi BAB yang disertai perubahan konsistensi feses menjadi lebih cair dibandingkan pola normal bayi tersebut. Karena setiap bayi memiliki pola BAB yang berbeda, termasuk bayi yang mendapat ASI, orang tua perlu memperhatikan perubahan yang terjadi dari kebiasaan sehari-hari. Bila disertai tanda bahaya tertentu, diare dapat menyebabkan dehidrasi dan membutuhkan perhatian medis.
Kondisi ini memang cukup umum terjadi pada bayi, terutama di usia awal kehidupan ketika sistem cerna dan daya tahan tubuhnya masih berkembang. Si Kecil yang mengalami diare biasanya juga menjadi lebih rewel dan sulit menyusu, sehingga penting bagi Moms untuk memahami penyebab, tanda bahaya, dan cara mengatasinya sejak dini.
BAB Bayi yang Normal: Apa yang Perlu Moms Ketahui?
Pada bayi ASI, variasi pola BAB merupakan hal yang wajar. Tekstur feses dapat tampak lembut hingga agak cair dan frekuensinya dapat lebih sering dibandingkan anak yang lebih besar atau orang dewasa. Selama bayi tampak sehat dan tumbuh sesuai usia, kondisi ini umumnya masih normal.
Yang perlu diperhatikan adalah perubahan yang jelas dari pola BAB biasanya, terutama jika BAB menjadi jauh lebih sering, sangat cair, atau disertai tanda-tanda penyakit lainnya.
5 Penyebab Utama Diare pada Bayi
Diare pada bayi dapat dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari infeksi hingga reaksi terhadap makanan tertentu. Berikut beberapa penyebab bayi mencret yang paling umum terjadi.
1. Infeksi Rotavirus
Rotavirus merupakan salah satu penyebab paling umum diare pada bayi dan anak usia di bawah lima tahun. Virus ini menyerang saluran cerna dan dapat menyebar dengan mudah melalui tangan, makanan, atau benda yang terkontaminasi.
Bayi yang terinfeksi rotavirus biasanya mengalami BAB cair berulang, muntah, demam, dan tidak mau menyusu. Pada beberapa kasus, diare dapat berlangsung selama beberapa hari yang berisiko menyebabkan dehidrasi.
Baca Juga: Warna Pup Bayi Hijau? Ini Penyebabnya!
2. Infeksi Bakteri dan Virus Lainnya
Selain rotavirus, bayi diare juga disebabkan oleh infeksi bakteri seperti E. coli, Salmonella, atau Shigella. Infeksi ini biasanya terjadi akibat makanan, air, atau perlengkapan makan yang kurang higienis.
Pada kondisi tertentu, infeksi bakteri dapat menyebabkan gejala yang lebih berat, seperti BAB berdarah, demam tinggi, dan bayi tampak sangat lemas.
3. Alergi Susu Atau Intoleransi Makanan
Jika si Kecil mengalami diare berulang, bisa jadi penyebabnya adalah alergi protein susu sapi atau intoleransi terhadap makanan tertentu. Selain BAB cair, kondisi ini juga dapat disertai muntah, perut kembung, atau bayi tampak tidak nyaman setelah menyusu.
Jika Moms mencurigai adanya alergi atau intoleransi makanan, sebaiknya konsultasikan dengan dokter agar si Kecil mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang sesuai.
4. Efek Samping Antibiotik
Penggunaan antibiotik pada bayi terkadang dapat mengganggu keseimbangan bakteri baik di usus sehingga memicu diare. Kondisi ini biasanya bersifat sementara, tetapi tetap perlu dipantau agar si Kecil tidak dehidrasi.
Penting bagi Moms untuk tidak memberikan antibiotik tanpa anjuran dokter, karena tidak semua diare memerlukan pengobatan antibiotik.
5. Perubahan Pola Makan atau MPASI
Saat bayi mulai dikenalkan pada makanan pendamping ASI (MPASI), sistem pencernaannya masih beradaptasi dengan jenis makanan baru. Perubahan ini dapat menyebabkan diare, terutama jika makanan diperkenalkan terlalu cepat atau tidak cocok dengan kondisi pencernaan bayi.
Tanda Dehidrasi pada Bayi yang Perlu Diwaspadai
Saat diare, bayi rentan mengalami dehidrasi sebagai salah satu komplikasi yang perlu diwaspadai. Berikut beberapa tanda dehidrasi bayi yang perlu Moms perhatikan:
- Bayi tampak rewel, sangat lemas, dan mengantuk
- Popok tetap kering selama lebih dari 8 jam
- Mulut dan bibir tampak kering
- Air mata berkurang saat menangis
- Mata terlihat cekung
- Ubun-ubun terlihat cekung
- Frekuensi menyusu menurun
Jika si Kecil menunjukkan salah satu atau beberapa tanda di atas, segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
4 Pertolongan Pertama saat Bayi Diare
Saat bayi diare, penanganan awal yang tepat dapat membantu mencegah kondisi si Kecil menjadi lebih berat. Berikut beberapa langkah yang dapat Moms lakukan di rumah:
1. Tetap Berikan ASI Atau Cairan
ASI tetap menjadi asupan penting saat bayi mengalami diare. Pastikan Moms berikan ASI lebih sering. Kandungan cairan dan nutrisi dalam ASI dapat membantu menjaga kebutuhan cairan tubuh si Kecil, sekaligus meningkatkan kekebalan tubuhnya.
Pada kondisi tertentu, dokter mungkin menyarankan pemberian oralit untuk bantu menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang.
2. Perhatikan Pola Makan Bayi
Pada bayi yang sudah mulai MPASI, Moms bisa berikan makanan yang lembut dan mudah dicerna. Hindari makanan tinggi gula atau minuman manis karena dapat memperparah diare pada bayi.
Tetap perhatikan respons tubuh si Kecil terhadap makanan yang diberikan. Bila ada makanan tertentu yang tampak memicu keluhan, segera konsultasikan dengan dokter.
3. Jaga Kebersihan Tangan Dan Peralatan Makan
Menjaga kebersihan menjadi langkah penting untuk membantu mencegah penyebaran infeksi penyebab diare. Moms dianjurkan mencuci tangan sebelum menyiapkan makanan, setelah mengganti popok, dan sebelum menyusui si Kecil.
4. Pantau Kondisi Bayi Secara Berkala
Perhatikan frekuensi BAB, suhu tubuh, serta kondisi umum si Kecil selama mengalami diare. Jika gejala semakin berat atau bayi tampak lemas, segera bawa ke dokter.
Kapan Bayi Harus Dibawa ke Dokter?
Ada beberapa kondisi yang membutuhkan pemeriksaan dokter sesegera mungkin. Moms disarankan segera membawa si Kecil ke dokter apabila:
- Bayi berusia di bawah 6 bulan mengalami diare
- BAB cair berlangsung lebih dari 24 jam
- Ada darah pada feses
- Bayi mengalami muntah terus-menerus
- Demam tinggi
- Bayi sulit menyusu atau menolak minum
- Muncul tanda dehidrasi
- Bayi tampak sangat lemas atau kurang responsif
Dokter akan melakukan pemeriksaan untuk mengetahui penyebab diare dan menentukan penanganan yang sesuai dengan kondisi si Kecil.
Peran Probiotik dalam Pemulihan Diare pada Bayi
Probiotik adalah mikroorganisme baik yang dapat membantu menjaga keseimbangan bakteri di saluran cerna. Dalam beberapa penelitian, probiotik diketahui dapat membantu mempercepat pemulihan diare pada anak akibat infeksi tertentu.
Menurut studi, probiotik L.reuteri diklaim dapat membantu mendukung kesehatan saluran pencernaan sekaligus bantu mengurangi durasi dan gejala diare pada anak.
Yuk Moms, gabung LACTOCLUB Community untuk berbagi pengalaman, tips parenting, dan mendapatkan insight tumbuh kembang Si Kecil bersama sesama Moms dan Expert!
Pertanyaan Seputar Diare pada Bayi
- Bagaimana membedakan diare dan BAB bayi ASI normal?
BAB bayi ASI biasanya lembek dan frekuensinya lebih sering. Sementara, diare pada bayi ditandai BAB sangat cair, lebih sering dari biasanya, dan bayi tampak lemas atau rewel.
- Apa pertolongan pertama saat bayi diare?
Tetap berikan ASI atau cairan lebih sering, pantau tanda dehidrasi, jaga kebersihan, dan segera ke dokter bila diare makin parah atau bayi tampak lemas.
*Nestle adalah satu-satunya pemegang lisensi L. reuteri DSM 17938 untuk produk susu pertumbuhan.
Referensi:
Breastfed Poop: Color, Texture, Frequency, Smell, and More. (2018, October 29). Healthline. https://www.healthline.com/health/parenting/breastfed-poop#frequency
symptomviewer. (2017, June 24). HealthyChildren.org. https://www.healthychildren.org/English/tips-tools/symptom-checker/Pages/symptomviewer.aspx?symptom=Diarrhea+(0-12+Months)
Clinic, C. (2024, December 23). Baby Diarrhea: Causes, Treatment & When to Worry. Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/symptoms/baby-diarrhea
Diarrhea (0-12 Months). (n.d.). Seattle Children’s Hospital. https://www.seattlechildrens.org/conditions/a-z/diarrhea-0-12-months/
Sun, X., Kong, J., Zhu, S., & Liu, C. (2023). A systematic review and meta-analysis: the therapeutic and preventive effect of Lactobacillus reuteri DSM 17,938 addition in children with diarrhea. BMC Gastroenterology, 23(1). https://doi.org/10.1186/s12876-023-02778-4