Sukrosa pada susu perlu Moms cermati karena kandungan ini kerap ditambahkan untuk memberi rasa manis agar produk lebih mudah diterima si Kecil. Hal ini penting diperhatikan mengingat kesukaan anak terhadap rasa manis memang cukup alami, namun rasa manis pada makanan dan minuman anak sering kali berasal dari gula tambahan, bukan dari bahan alami dalam produk itu sendiri.
Sukrosa sendiri adalah salah satu jenis gula tambahan yang banyak digunakan dalam makanan dan minuman anak. Inilah mengapa penting bagi Moms untuk memahami apa bedanya sukrosa dengan laktosa, bagaimana cara membaca label susu, dan mengapa konsumsi gula tambahan berlebih perlu diwaspadai.
Semakin sering gigi si Kecil terpapar gula tambahan, bakteri di mulut dapat memproses gula tersebut dan menghasilkan asam yang dapat merusak lapisan gigi. Jika terjadi berulang, kondisi ini bisa meningkatkan risiko karies atau gigi berlubang, membuat anak merasa nyeri, sulit makan, tidur kurang nyaman, hingga mengganggu kualitas hidupnya.
Apakah Sukrosa Secara Alami Ada di dalam Susu Sapi?
Ketika membaca kemasan susu si Kecil, mungkin muncul pertanyaan di benak Moms, soal apakah sukrosa memang secara alami terdapat dalam susu sapi? Jawabannya, tidak.
Gula yang secara alami terdapat dalam susu sapi adalah laktosa, bukan sukrosa. Jadi, jika Moms menemukan sukrosa pada susu pertumbuhan, biasanya sukrosa tersebut merupakan gula tambahan yang dimasukkan saat proses pembuatan produk.
Hal ini penting dipahami agar Moms tidak langsung menyamakan semua jenis gula dalam susu. Laktosa adalah bagian alami dari susu, sedangkan sukrosa umumnya ditambahkan untuk meningkatkan cita rasa. Karena itu, keberadaan sukrosa dalam susu pertumbuhan perlu Moms perhatikan, terutama jika si Kecil juga sering mengonsumsi camilan atau minuman manis lainnya.
Apa Bedanya Sukrosa dan Laktosa dalam Kandungan Gula Susu?
Salah satu hal yang sering membingungkan saat membaca kandungan gula susu adalah membedakan sukrosa dan laktosa. Keduanya sama-sama termasuk gula, tetapi asal dan perannya berbeda.
Laktosa adalah gula alami yang memang terdapat dalam susu. Artinya, laktosa bukan gula yang sengaja ditambahkan untuk membuat susu terasa manis. American Academy of Pediatrics (AAP) menjelaskan bahwa susu mengandung gula alami berupa laktosa, sekaligus menyediakan kalsium, protein, vitamin D, dan nutrisi lain yang dibutuhkan anak.
Sementara itu, sukrosa biasanya berperan sebagai gula tambahan. Fungsinya lebih banyak untuk memberi rasa manis agar produk lebih mudah diterima anak. Jadi, perbedaan paling mendasarnya adalah laktosa merupakan gula alami susu, sedangkan sukrosa merupakan gula tambahan yang biasanya sengaja dimasukkan selama proses pengolahan.
Perbedaan ini penting karena total gula pada label nutrisi bisa mencakup gula alami dan gula tambahan sekaligus. Jadi, Moms sebaiknya tidak hanya melihat angka total gula, tetapi juga membaca daftar komposisi. Jika terdapat sukrosa, gula, sirup jagung, dextrose, maltose, atau nama gula tambahan lain, artinya produk tersebut memiliki pemanis tambahan.
Baca Juga: Sukrosa pada Susu Bahaya kah? Cek di Sini!
Mengapa Sukrosa pada Susu Perlu Diwaspadai?
Sukrosa pada susu perlu diperhatikan karena susu pertumbuhan bisa menjadi salah satu produk yang dikonsumsi rutin oleh anak. Jika susu yang dikonsumsi mengandung gula tambahan, asupan gula harian si Kecil bisa bertambah tanpa disadari, apalagi jika ia juga mengonsumsi camilan manis, minuman kemasan, biskuit, atau kue.
WHO merekomendasikan agar asupan free sugars pada anak dan orang dewasa dikurangi hingga kurang dari 10% total energi harian. WHO juga menyarankan pengurangan lebih lanjut hingga di bawah 5% untuk manfaat kesehatan tambahan. Rekomendasi ini bisa menjadi panduan bagi Moms untuk lebih cermat memperhatikan asupan gula harian si Kecil.
AAP juga menyarankan anak usia 2 tahun ke atas mengonsumsi gula tambahan kurang dari 25 gram atau sekitar 6 sendok teh per hari. Untuk anak di bawah 2 tahun, makanan dan minuman dengan gula tambahan sebaiknya dihindari.
Angka ini bukan berarti Moms harus menghitung setiap gram gula secara berlebihan setiap hari, ya. Namun, batas tersebut bisa membantu Moms lebih bijak saat membaca label produk yang dikonsumsi si Kecil secara rutin.
Batasan ini bukan hanya berlaku untuk permen, minuman bersoda, atau jus kemasan. Sukrosa yang tersembunyi dalam produk susu pertumbuhan, sereal sarapan, biskuit, saus, dan berbagai produk kemasan lainnya juga ikut dihitung dalam total gula harian. Inilah alasan Moms perlu memahami kandungan gula susu sebelum memilih produk untuk si Kecil.
3 Dampak Sukrosa Berlebih bagi Anak
Konsumsi sukrosa berlebih dapat berdampak pada beberapa aspek kesehatan si Kecil, terutama jika sumber gula tambahan ini sering muncul dari makanan atau minuman yang dikonsumsi setiap hari. Dampaknya tidak selalu langsung terlihat, sehingga Moms perlu lebih cermat memperhatikan pola makan si Kecil sejak dini.
1. Meningkatkan Risiko Karies Gigi
Paparan gula yang terlalu sering dapat meningkatkan risiko karies gigi. Hal ini terjadi karena bakteri di mulut memanfaatkan gula dan menghasilkan asam yang dapat merusak permukaan gigi.
Jika kebiasaan ini berlangsung terus-menerus, si Kecil bisa lebih rentan mengalami gigi berlubang. Kondisi ini tidak hanya mengganggu tampilan gigi, tetapi juga bisa membuat anak sulit makan, tidur kurang nyaman, atau merasa nyeri saat mengunyah.
2. Berdampak pada Metabolisme Anak
Selain karies, konsumsi sukrosa berlebih juga dapat berkaitan dengan kesehatan metabolisme anak. Makanan dan minuman tinggi sukrosa dapat menambah asupan kalori tanpa selalu memberikan zat gizi penting. Jika terlalu sering terjadi, si Kecil bisa menerima kalori berlebih dalam jangka panjang.
Lebih jauh lagi, konsumsi gula tambahan yang terlalu sering dapat berkaitan dengan risiko berat badan berlebih dan gangguan metabolik.
Sebuah tinjauan dalam jurnal Nutrients menemukan bahwa konsumsi minuman bergula berkaitan dengan peningkatan risiko obesitas, resistensi insulin, diabetes tipe 2, dan gangguan metabolik lainnya pada anak dan remaja.
3. Membentuk Kebiasaan Menyukai Rasa Terlalu Manis
Anak yang terlalu sering terpapar rasa manis bisa lebih terbiasa dengan makanan dan minuman yang sangat manis. Akibatnya, ia mungkin lebih sulit menerima rasa alami dari makanan lain, seperti buah tertentu, sayur, atau minuman tanpa tambahan gula.
Kebiasaan ini bisa terbawa dalam jangka panjang jika tidak diarahkan sejak dini. Karena itu, membatasi sukrosa juga dapat membantu Moms membentuk kebiasaan makan yang lebih seimbang dan membantu si Kecil lebih terbiasa dengan rasa alami dari makanan sehari-hari.
3 Cara Membaca Label Susu untuk Menemukan Sukrosa pada Susu
Saat memilih susu untuk si Kecil, Moms bisa mulai dari dua bagian penting pada kemasan, yaitu daftar komposisi dan informasi nilai gizi. Keduanya saling melengkapi. Daftar komposisi membantu Moms mengetahui bahan apa saja yang digunakan dalam produk, sedangkan informasi nilai gizi membantu Moms melihat kandungan nutrisi per sajian.
1. Cek Daftar Komposisi Terlebih Dahulu
Pada daftar komposisi, perhatikan apakah ada nama gula tambahan seperti sukrosa, sugar, cane sugar, corn syrup, glucose, dextrose, maltose, fructose, atau high fructose corn syrup. CDC menjelaskan bahwa gula tambahan bisa muncul dalam banyak nama, termasuk bahan dengan akhiran â-oseâ seperti glucose, fructose, maltose, dextrose, dan sucrose.
Moms juga bisa memperhatikan urutan bahan pada daftar komposisi. Biasanya, bahan yang ditulis lebih awal memiliki jumlah yang lebih banyak dibandingkan dengan bahan setelahnya. Jadi, jika sukrosa atau nama gula tambahan lain muncul di bagian awal daftar komposisi, Moms perlu lebih cermat karena kemungkinan kandungannya cukup dominan.
2. Perhatikan Informasi Nilai Gizi
Setelah mengecek daftar komposisi, Moms bisa melihat bagian informasi nilai gizi. Bagian ini membantu Moms mengetahui jumlah gula, energi, protein, lemak, vitamin, dan mineral dalam satu takaran saji produk.
Namun, saat membaca total gula, Moms perlu ingat bahwa angka tersebut bisa mencakup gula alami dan gula tambahan. Pada susu, total gula dapat mencakup laktosa yang memang secara alami terdapat dalam susu. Karena itu, membaca informasi nilai gizi sebaiknya tetap dibarengi dengan mengecek daftar komposisi.
3. Bedakan Total Gula dan Pemanis Tambahan
Total gula pada label belum tentu semuanya berasal dari pemanis tambahan. Inilah alasan Moms perlu memahami perbedaan antara gula alami seperti laktosa dan pemanis tambahan seperti sukrosa, sirup jagung, atau dextrose.
Dengan menggabungkan informasi dari daftar komposisi dan tabel nilai gizi, Moms bisa lebih mudah menilai apakah sebuah produk mengandung sukrosa atau tidak. Cara ini juga membantu Moms memilih susu yang sesuai untuk konsumsi harian si Kecil tanpa tambahan gula yang tidak diperlukan.
4 Tips Mengurangi Sukrosa dalam Asupan Harian si Kecil
Membatasi sukrosa bukan berarti Moms harus menghilangkan semua rasa manis dari makanan si Kecil. Rasa manis tetap bisa didapatkan dari sumber alami seperti buah, selama porsinya sesuai dengan usia dan kebutuhan anak.
1. Pilih Camilan dengan Rasa Manis Alami
Sebagai langkah awal, Moms bisa mengganti camilan manis seperti permen, biskuit manis, atau kue dengan buah segar yang teksturnya sesuai usia si Kecil. Cara ini dapat membantu mengurangi paparan gula tambahan tanpa membuat si Kecil merasa kehilangan rasa manis yang ia sukai.
Perubahan ini bisa dilakukan secara bertahap agar si Kecil tidak merasa dipaksa. Misalnya, Moms bisa mulai dengan menyediakan buah potong, yogurt plain dengan tambahan buah, atau camilan rumahan yang rasa manisnya lebih mudah Moms kontrol.
2. Biasakan si Kecil Minum Air Putih
Moms juga bisa mulai membiasakan si Kecil minum air putih sebagai pilihan minuman harian. Kebiasaan ini membantu mengurangi paparan gula tambahan dari minuman manis yang sering kali tidak terasa mengenyangkan, tetapi tetap menambah asupan gula harian.
AAP menyarankan anak lebih sering diberikan air putih dan susu, serta membatasi minuman seperti soda, sport drink, teh manis, kopi manis, dan minuman buah berpemanis. Jika si Kecil sudah terbiasa dengan minuman manis, Moms bisa mengurangi frekuensinya perlahan agar transisinya terasa lebih nyaman.
3. Kurangi Produk Kemasan Tinggi Gula
Selain camilan dan minuman manis, sukrosa juga bisa muncul dalam berbagai produk kemasan yang terlihat praktis untuk anak. Karena itu, Moms bisa mulai membaca daftar komposisi sebelum membeli biskuit, sereal, saus, minuman kemasan, atau produk susu tertentu.
Jika ada sukrosa, sirup jagung, dextrose, maltose, atau nama gula tambahan lain di bagian awal daftar komposisi, artinya kandungannya kemungkinan cukup dominan. Dengan membiasakan cek label, Moms bisa lebih mudah memilih produk yang sesuai untuk konsumsi harian si Kecil.
4. Lakukan Perubahan secara Bertahap
Mengurangi sukrosa tidak harus dilakukan secara drastis. Moms bisa mulai dari kebiasaan yang paling mudah, seperti mengurangi minuman manis, mengganti sebagian camilan dengan buah, atau memilih produk tanpa tambahan sukrosa.
Pendekatan bertahap biasanya lebih mudah diterima si Kecil karena ia tetap punya waktu untuk beradaptasi dengan rasa yang lebih alami. Dengan cara ini, Moms bisa membantu membentuk kebiasaan makan yang lebih seimbang tanpa membuat perubahan terasa terlalu mendadak.
Dari Mana Rasa Manis Susu Tanpa Sukrosa?
Moms mungkin bertanya-tanya, kalau susu tanpa sukrosa tidak menggunakan sukrosa, dari mana rasa manisnya berasal? Jawabannya, susu secara alami mengandung laktosa. Laktosa inilah yang memberi rasa manis alami pada susu, meskipun rasa manisnya tidak sekuat sukrosa.
Selain laktosa, rasa susu juga dipengaruhi oleh komposisi nutrisi, aroma, dan bahan lain yang digunakan dalam kandunganya. Jadi, rasa susu tidak selalu harus bergantung pada tambahan sukrosa. Inilah alasan mengapa Moms bisa mempertimbangkan susu dengan 0 gram sukrosa untuk membantu mengurangi paparan gula tambahan harian si Kecil.
Memilih susu tanpa sukrosa bukan berarti mengurangi nutrisi anak. Yang perlu Moms perhatikan adalah kandungan nutrisi secara keseluruhan, kesesuaian usia, serta bagaimana susu tersebut menjadi bagian dari pola makan seimbang.
Pilih Susu Tanpa Sukrosa sebagai Bagian dari Kebiasaan Sehat
Membentuk kebiasaan sehat sejak dini bisa dimulai dari pilihan kecil yang dilakukan setiap hari. Salah satunya adalah lebih teliti memilih makanan dan minuman yang dikonsumsi si Kecil secara rutin. Jika Moms ingin mengurangi paparan gula tambahan, memilih susu tanpa sukrosa atau susu dengan 0 gram sukrosa bisa menjadi salah satu langkah yang relevan.
Namun, Moms juga tetap perlu memperhatikan kandungan nutrisi lain dalam susu pertumbuhan, seperti vitamin, mineral, asam lemak esensial, serta kandungan yang bantu mendukung kesehatan saluran cerna. Dengan begitu, susu yang dipilih tidak hanya rendah atau tanpa sukrosa, tetapi juga tetap sesuai dengan kebutuhan nutrisi harian si Kecil.
Untuk melengkapi asupan Si Kecil, Moms dapat memilih LACTOGROW. LACTOGROW satu-satunya susu pertumbuhan dengan L. reuteri* dan 0g sukrosa. Selain itu, LACTOGROW juga diperkaya dengan inulin, DHA, ARA, omega 3 & 6, 13 vitamin, dan 7 mineral untuk membantu perut si Kecil jadi lebih nyaman dan nutrisi terserap optimal.
Pertanyaan Seputar Sukrosa pada Susu
- Apakah Sukrosa Alami Ada di dalam Susu Sapi?
Tidak. Gula alami utama dalam susu sapi adalah laktosa. Sukrosa biasanya merupakan gula tambahan yang digunakan untuk memberi rasa manis pada produk makanan atau minuman.
- Apa Bedanya Sukrosa dengan Gula Alami Laktosa?
Sukrosa adalah gula tambahan yang biasanya digunakan sebagai pemanis, sedangkan laktosa adalah gula alami yang terdapat dalam susu. Karena itu, Moms perlu membaca daftar komposisi untuk mengetahui apakah produk susu mengandung sukrosa atau pemanis tambahan lain.
*Nestle adalah satu-satunya pemegang lisensi L. reuteri DSM 17938 untuk produk susu pertumbuhan.
Referensi:
HealthyChildren.org / AAP. (2024). How to Reduce Added Sugar in Your Child's Diet: AAP Tips. American Academy of Pediatrics.https://www.healthychildren.org/English/healthy-living/nutrition/Pages/How-to-Reduce-Added-Sugar-in-Your-Childs-Diet.aspx
Healthline. (2019). Sugar in Milk: Sources, Amounts, Tips, and More (medically reviewed by Kathy W. Warwick, R.D., CDE). https://www.healthline.com/nutrition/sugar-in-milk; U.S. Food and Drug Administration (FDA). (2026). Added Sugars on the Nutrition Facts Label.https://www.fda.gov/food/nutrition-facts-label/added-sugars-nutrition-facts-label
HealthyChildren.org / AAP. (2024). How to Reduce Added Sugar in Your Child's Diet: AAP Tips. American Academy of Pediatrics.https://www.healthychildren.org/English/healthy-living/nutrition/Pages/How-to-Reduce-Added-Sugar-in-Your-Childs-Diet.aspx
World Health Organization. (2015). Guideline: Sugars Intake for Adults and Children â Recommendations and remarks. Geneva: WHO. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK285525/
HealthyChildren.org / AAP. (2024). How to Reduce Added Sugar in Your Child's Diet: AAP Tips. American Academy of Pediatrics.https://www.healthychildren.org/English/healthy-living/nutrition/Pages/How-to-Reduce-Added-Sugar-in-Your-Childs-Diet.aspx
Calcaterra, V., et al. (2023). Sugar-Sweetened Beverages and Metabolic Risk in Children and Adolescents with Obesity: A Narrative Review. Nutrients, 15(3), 702. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/36771409/
CDC. (2026). Spotting Hidden Sugars in Everyday Foods. Centers for Disease Control and Prevention.https://www.cdc.gov/diabetes/healthy-eating/spotting-hidden-sugars-in-everyday-foods.html
HealthyChildren.org / AAP. (2024). How to Reduce Added Sugar in Your Child's Diet: AAP Tips. American Academy of Pediatrics.https://www.healthychildren.org/English/healthy-living/nutrition/Pages/How-to-Reduce-Added-Sugar-in-Your-Childs-Diet.aspx