Parenting Corner

7 Masalah Pencernaan pada Anak beserta Solusi untuk Moms

08 September 2026

masalah pencernaan pada anak

7 masalah pencernaan yang paling sering dialami anak meliputi diare, sembelit, gastroenteritis, GERD, alergi makanan, kembung, dan kolik yang masing-masing dipicu oleh faktor berbeda seperti pola makan, infeksi, atau intoleransi tertentu. Kondisi ini penting Moms kenali karena kesehatan saluran cerna berperan besar dalam membantu tubuh menyerap nutrisi secara optimal dan menjaga daya tahan tubuh anak.

Yuk, kenali ke-7 jenis gangguan pencernaan tersebut beserta solusinya di bawah ini!

7 Masalah Pencernaan yang Sering Dialami Anak

Ada berbagai faktor yang bisa membuat perut Si Kecil terasa tidak nyaman. Berikut beberapa masalah yang paling sering terjadi.

1. Diare

Diare merupakan kondisi ketika anak buang air besar (BAB) lebih sering dari biasanya dengan tekstur feses yang encer. Penyebabnya bisa berupa infeksi virus, bakteri, konsumsi makanan tertentu, atau efek samping obat. 

Saat diare, tubuh anak kehilangan banyak cairan sehingga berisiko mengalami dehidrasi. Oleh sebab itu, Moms perlu memastikan Si Kecil tetap mendapatkan cukup cairan dan asupan makanan yang mudah dicerna.

2. Sembelit (Konstipasi)

Sembelit terjadi ketika tekstur feses menjadi keras dan anak mengalami kesulitan saat BAB. Kondisi ini cukup sering terjadi pada anak yang kurang minum, kurang asupan serat, atau memiliki kebiasaan menahan BAB.

Konstipasi dapat membuat anak merasa tidak nyaman, perut terasa penuh, hingga nyeri saat mengejan.

3. Gastroenteritis

Gastroenteritis adalah infeksi pada lambung dan usus yang umumnya disebabkan oleh virus, seperti rotavirus atau norovirus. Kondisi ini biasanya ditandai dengan muntah dan diare secara bersamaan.

Moms perlu memperhatikan tanda-tanda dehidrasi seperti bibir kering, anak jarang buang air kecil, atau tampak sangat lemas karena pada kondisi ini kehilangan cairan dapat terjadi cukup cepat.

4. Refluks asam lambung (GERD)

Refluks asam terjadi ketika isi lambung naik kembali ke kerongkongan. Pada anak, kondisi ini dapat menimbulkan rasa tidak nyaman di dada atau ulu hati, mual, hingga muntah.

5. Alergi makanan

Alergi makanan terjadi ketika sistem imun tubuh bereaksi berlebihan terhadap kandungan tertentu dalam makanan. Reaksinya bisa berupa ruam kulit, muntah, diare, hingga gangguan pencernaan lainnya.

6. Perut kembung

Perut kembung terjadi akibat penumpukan gas di saluran cerna. Kondisi ini bisa dipicu oleh kebiasaan makan terlalu cepat, terlalu banyak menelan udara, atau konsumsi makanan tertentu.

Jika terjadi berulang dalam jangka panjang, anak akan menjadi rewel dan kurang nyaman beraktivitas.

7. Kolik

Kolik adalah kondisi ketika bayi menangis terus-menerus dalam waktu yang cukup lama tanpa penyebab yang jelas. Kondisi ini diduga berkaitan dengan sistem pencernaan bayi yang masih berkembang sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman pada perut. 

Kolik umumnya terjadi pada bayi usia beberapa minggu pertama dan biasanya akan membaik seiring bertambahnya usia serta perkembangan sistem pencernaannya.

Baca Juga: BAB Anak Warna Hijau? Bahaya Kah? Cek di Sini!

Bagaimana Pola Makan Memengaruhi Kesehatan Usus Anak?

Pola makan memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan saluran cerna anak. Makanan yang dikonsumsi sehari-hari akan memengaruhi keseimbangan mikrobiota usus, yaitu kumpulan bakteri yang hidup di dalam sistem pencernaan dan berperan penting dalam menjaga fungsi usus.

Asupan serat dari buah, sayur, serta makanan alami dapat membantu mendukung pertumbuhan bakteri baik di dalam usus. Sebaliknya, konsumsi makanan tinggi gula dan rendah serat dapat mengganggu keseimbangan mikrobiota usus sehingga saluran cerna menjadi lebih sensitif.

Tidak hanya jenis makanan, kebiasaan makan juga turut memengaruhi kesehatan pencernaan Si Kecil. Jadwal makan yang teratur membantu sistem pencernaan bekerja lebih optimal, sementara kebiasaan makan terlalu cepat atau dalam porsi berlebihan dapat membuat perut terasa tidak nyaman. 

Tanda Gangguan Pencernaan Kronis pada Anak

Masalah gangguan usus anak yang dibiarkan dalam jangka panjang dikhawatirkan dapat menghambat penyerapan gizinya. Maka dari itu, Moms perlu lebih jeli dalam mengamati keluhan perut yang tidak kunjung membaik pada Si Kecil. 

Jangan ragu untuk segera berkonsultasi ke dokter jika Moms mulai melihat tanda-tanda berikut.

  • Diare yang berlangsung terus-menerus selama lebih dari 4 minggu.
  • Berat badan sulit naik atau justru menurun karena zat gizi tidak terserap optimal.
  • Perut kembung kronis yang membuat perut terasa keras, disertai kondisi anak yang sering rewel karena rasa tidak nyaman yang berulang.
  • Sering mual, muntah tanpa sebab yang jelas, dan nafsu makan yang menurun drastis.

Hubungan Antara Intoleransi Makanan dan Masalah Pencernaan Berulang

Masalah pencernaan yang berulang terkadang dapat berkaitan dengan intoleransi makanan tertentu. Kondisi ini terjadi ketika sistem pencernaan anak mengalami kesulitan mencerna kandungan tertentu dalam makanan atau minuman, sehingga memicu keluhan pada saluran cerna.

Salah satu contoh yang cukup umum adalah intoleransi laktosa, yaitu kondisi ketika tubuh kesulitan mencerna laktosa yang terdapat dalam susu. Anak dapat mengalami perut kembung, diare, sering buang gas, atau rasa tidak nyaman pada perut setelah mengonsumsi susu dan produk olahannya.

Karena gejalanya sering menyerupai gangguan pencernaan biasa, kondisi ini kerap tidak disadari. Oleh karena itu, Moms perlu memperhatikan pola munculnya keluhan pada Si Kecil. Jika gejala terus berulang setelah mengonsumsi makanan tertentu, kondisi tersebut dapat menjadi salah satu gejala intoleransi makanan yang perlu dikonsultasikan lebih lanjut.

5 Cara Memulihkan Kondisi Usus yang Bermasalah Secara Alami

Memperbaiki dan menjaga kesehatan pencernaan Si Kecil bisa dimulai dari langkah-langkah sederhana yang kita terapkan dalam kebiasaan sehari-hari di rumah, Moms. Berikut adalah beberapa caranya.

1. Perbaiki pola makan

Utamakan makanan utuh (whole food) yang kaya serat, vitamin, dan lemak sehat, seperti buah, sayur, biji-bijian, serta alpukat. Asupan serat membantu menjaga kesehatan mikrobiota usus, sehingga proses pencernaan berjalan lebih optimal. 

2. Cukupi kebutuhan air

Air membantu melunakkan feses, melarutkan makanan, dan mendukung kerja enzim pencernaan. Ketika kebutuhan cairan tercukupi, proses pencernaan dan penyerapan nutrisi dapat berlangsung lebih baik. 

3. Kebiasaan makan yang baik

Biasakan Si Kecil mengunyah makanan secara perlahan dan makan dalam porsi yang sesuai. Kebiasaan ini membantu makanan agar lebih mudah dicerna dan mengurangi udara yang masuk ke saluran cerna yang dapat memicu perut kembung kronis. 

4. Kualitas tidur

Kualitas tidur juga berpengaruh terhadap kesehatan pencernaan. Kurang tidur dapat memengaruhi keseimbangan mikrobiota usus dan membuat anak lebih mudah mengalami gangguan pencernaan. 

5. Dukung anak tetap aktif bergerak

Aktivitas fisik membantu merangsang pergerakan usus sehingga proses pencernaan menjadi lebih lancar. Anak yang aktif bergerak umumnya juga memiliki pola BAB yang lebih teratur. 

Peran Probiotik, Prebiotik, dan Serat dalam Menjaga Keseimbangan Pencernaan 

Untuk membantu menjaga kesehatan saluran cerna anak, keseimbangan mikrobiota usus juga perlu diperhatikan. Di sinilah peran probiotik, prebiotik, dan serat menjadi penting.

Probiotik adalah bakteri baik yang membantu menjaga keseimbangan mikrobiota usus. Sementara itu, prebiotik merupakan jenis serat yang menjadi sumber makanan bagi bakteri baik tersebut.

Jika asupannya tercukupi, keduanya bekerja saling melengkapi dalam mendukung fungsi pencernaan agar tetap optimal. Keseimbangan mikrobiota usus yang terjaga juga berperan dalam mendukung kenyamanan perut dan keteraturan pola BAB anak.

Untuk membantu mendukung kesehatan pencernaan Si Kecil, Moms bisa memberikan makanan sumber prebiotik seperti inulin serta melengkapi asupan hariannya dengan susu yang mengandung L. reuteri*. Asupan yang tepat dari kombinasi keduanya dapat mendukung Si Kecil agar merasa lebih nyaman dalam beraktivitas sehari-hari.

LACTOGROW hadir sebagai pilihan Moms untuk Si Kecil. LACTOGROW satu-satunya susu pertumbuhan dengan L. reuteri* dan juga 0g sukrosa. Selain itu, LACTOGROW juga dilengkapi inulin, DHA, ARA, omega 3 & 6, 13 vitamin, serta 7 mineral. LACTOGROW dukung Pencernaan Sehat Si Kecil.**

Pertanyaan Seputar Masalah Pencernaan Pada Anak

  1. Apa saja masalah pencernaan yang paling sering dialami balita?
    Masalah pencernaan yang paling sering dialami balita antara lain diare, sembelit (konstipasi), gastroenteritis, refluks asam lambung (GERD), alergi makanan, perut kembung, dan kolik.
     
  2. Bagaimana pola makan mempengaruhi kesehatan usus?
    Pola makan sangat memengaruhi kesehatan usus anak karena makanan yang dikonsumsi sehari-hari berperan dalam menjaga keseimbangan mikrobiota usus atau bakteri baik di saluran cerna, sehingga proses pencernaan dapat berjalan lebih optimal dan penyerapan nutrisi menjadi lebih baik. 

*Nestle adalah satu-satunya pemegang lisensi L. reuteri DSM 17938 untuk produk susu pertumbuhan. *disertai dengan konsumsi makanan beragam dan cukup serat


Referensi:

Higuera, V. (2023, May 26). Diarrhea: Causes and How to Treat It. Healthline. https://www.healthline.com/health/diarrhea

Johns Hopkins Medicine. (n.d.). Constipation in Children. Johns Hopkins Medicine. https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/constipation-in-children

Soliman, M., & Wartenberg, L. (2023, August 24). Bloating, Nausea, and Diarrhea at the Same Time: Causes, More. Healthline. https://www.healthline.com/health/bloating-nausea-diarrhea

Cleveland Clinic. (2023, September 28). Acid Reflux & GERD: Symptoms, What It Is, Causes, Treatment. Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/17019-acid-reflux-gerd

Cleveland Clinic. (2021, August 11). Food Intolerance: Symptoms, Causes and Treatment Options. Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/21688-food-intolerance

Mehta, S., et al. (2021, July 20). Nutritional Interventions and the Gut Microbiome in Children. Annual Review of Nutrition, 41:479-510. https://doi.org/10.1146/annurev-nutr-021020-025755

Laue HE, Coker MO, Madan JC. The Developing Microbiome From Birth to 3 Years: The Gut-Brain Axis and Neurodevelopmental Outcomes. Front Pediatr. 2022 Mar 7;10:815885. doi: 10.3389/fped.2022.815885. PMID: 35321011; PMCID: PMC8936143. 

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. (n.d.). Symptoms & Causes of Chronic Diarrhea in Children - NIDDK. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. https://www.niddk.nih.gov/health-information/digestive-diseases/chronic-diarrhea-children/symptoms-causes

Dix, M., & Klein, E. (2026, January 25). Improve and Reset Gut Health: Foods and Supplements to Try. Healthline. https://www.healthline.com/health/gut-health

Lewis, S. (2026, February). Probiotics and Prebiotics: What's the Difference? Healthline. https://www.healthline.com/nutrition/probiotics-and-prebiotics




Bagikan : Facebook WhatsApp


Artikel Terkait

Lihat Artikel Lainnya