Wactu Baca: 2 Menit
Moms, 70-80% dari sistem kekebalan tubuh anak terdapat dalam saluran pencernaan Si Kecil, lho. Karenanya, menjaga sistem pencernaan anak adalah hal yang penting untuk dilakukan. Pada usia dini, sistem pencernaan anak secara anatomi sudah lengkap, namun fungsi dan kematangannya masih berkembang.
Louise Goldberg, RD, LD, pemilik konsultan nutrisi di Texas, Amerika Serikat yang sempat menjadi ahli nutrisi di Children's Memorial Hermann Hospital, mengatakan bahwa agar sistem pencernaan anak menjadi sehat dan mencegah sakit perut pada anak, Si Kecil memerlukan serat, cairan dan gerak tubuh yang cukup.
Sehubungan dengan itu, untuk mendukung kesehatan sistem pencernaan anak, maka ada kebiasaan-kebiasaan yang sebaiknya juga dihindari ya, Moms. Simak apa saja kebiasaan yang menjadi penyebab pencernaan anak tidak sehat.
Cara Kerja Sistem Pencernaan untuk Anak
Sebelum membahas lebih dalam seputar pencernaan pada anak, tidak ada salahnya jika terlebih dahulu memahami bagaimana sih sistem pencernaan untuk anak bekerja?
1. Makanan masuk melalui mulut
Proses pencernaan makanan dimulai dengan masuknya makanan melalui mulut. Di dalam mulut, makanan dikunyah menjadi potongan kecil. Kelenjar ludah menghasilkan enzim amilase dan memecah karbohidrat kompleks menjadi gula sederhana.
2. Makanan menuju esofagus
Dari mulut, makanan yang sudah berbentuk bola halus bergerak menuju perut melalui kerongkongan atau esofagus sambil terus diremas dengan gerak peristaltik.
3. Makanan dicerna di dalam lambung
Sampai di lambung (perut) makanan kembali diolah menggunakan kontraksi otot lambung dan asam lambung. Makanan diaduk dan digiling hingga menjadi cairan kental. Di sini protein mulai dipecah menjadi bagian yang lebih kecil.
4. Nutrisi makanan diserap usus
Makanan yang sudah larut perlahan bergerak ke usus sedikit demi sedikit. Usus mulai menyerap sari makanan, masuk ke aliran darah lalu diedarkan ke seluruh tubuh sebagai energi maupun bahan pembentuk sel.
5. Dibuang melalui usus besar
Setelah sari makanan diserap usus halus, sisa makanan yang tidak diserap seperti serat terus bergerak ke usus besar, yang akan menyerap air kembali ke tubuh dan sisanya kembali berbentuk padat akan dikeluarkan dalam bentuk feses.
Baca Juga: Susu untuk Dukung Pencernaan Anak
Tahap Perkembangan Sistem Pencernaan Anak
Ketika lahir, bayi sudah memiliki organ pencernaan yang lengkap. Meski demikian sistem pencernaan Si Kecil belum terbentuk sempurna sehingga belum dapat mencerna makanan berat. Proses pematangan sistem pencernaan anak ini umumnya berlangsung hingga usia 5-7 tahun. Berikut tahapannya:
- Usia 0-6 bulan
Sistem pencernaan masih sangat muda dan hanya bisa mencerna ASI atau susu formula. Lambung bayi yang baru lahir juga masih sangat kecil dan akan berkembang seiring waktu. Refleks mulut untuk menghisap dan menelan.
- Usia 6-12 bulan
Lambung bayi mulai dapat menerima makanan bertekstur. Dimulai dari tekstur yang sangat halus seperti puree, kemudian ditingkatkan bertahap. Enzim pankreas makin meningkat sehingga bisa mencerna makanan yang lebih kompleks. Mulut sudah bisa mengunyah makanan. Organ pencernaan sudah lebih matang dan bisa memproses makanan padat.
- Usia 1-3 tahun
Sistem pencernaan mulai dapat berfungsi penuh namun ukurannya lebih kecil. Asam lambung semakin kuat dan mikrobiota usus semakin stabil. Gigi mulai lengkap sehingga dapat mengunyah lebih efisien.
- Usia 4 tahun ke atas
Pada usia prasekolah hingga sekolah, sistem pencernaan anak semakin matang dan mendekati kondisi dewasa, meskipun beberapa aspek seperti mikrobiota usus masih terus berkembang.
Peran Mikrobiota Usus untuk Kesehatan Anak
Di dalam usus Si Kecil, terdapat triliunan mikroorganisme, terdiri dari bakteri, virus, dan jamur, yang hidup membentuk suatu ekosistem yang disebut mikrobiota. Keseimbangan mikrobiota usus memiliki peran yang sangat penting bagi kesehatan anak.
Mikrobiota di usus berperan dalam imunitas tubuh dengan melatih sel imun membedakan mikroorganisme berbahaya seperti patogen, dan yang tidak berbahaya, seperti makanan. Mikrobiota usus berperan mendukung fungsi pelindung usus bersama sistem mukosa dan pertahanan imun, sehingga membantu menghambat pertumbuhan mikroorganisme patogen.
Bakteri di usus juga membantu dalam proses pencernaan dengan memecah serat menjadi asam lemak rantai pendek (SCFA) yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi sel usus. Mikrobiota usus juga berperan dalam metabolisme zat gizi tertentu dan berkontribusi pada pemanfaatan nutrisi oleh tubuh.
Selain itu, mikrobiota di usus juga memiliki peran dalam menghubungkan komunikasi antara usus, sistem imun, dan otak anak. Mikrobiota usus melatih sel imun untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
Mikrobiota usus juga terlibat dalam komunikasi antara usus dan otak (gut-brain axis), yang dapat memengaruhi berbagai fungsi tubuh, termasuk respons terhadap stres.
Usus juga berperan menyerap nutrisi penting untuk otak seperti asam lemak Omega-3 dari makanan. SCFA yang dihasilkan oleh bakteri usus berperan penting dalam menjaga kesehatan sel usus dan mendukung fungsi sistem imun.
5 Tanda Gangguan Pencernaan pada Anak
Organ pencernaan menjadi salah satu yang sering mengalami gangguan pada anak. Moms perlu tahu apa saja tanda adanya gangguan pada pencernaan Si Kecil, di antaranya:
- Perubahan konsistensi BAB, bisa feses yang lebih encer maupun keras dan frekuensi BAB yang bertambah maupun berkurang
- Nyeri di bagian perut, baik terpusat pada satu titik maupun merata.
- Perut kembung, membuat rasa tidak nyaman pada perut.
- Mual dan muntah
- Jejak darah pada feses
- Kesulitan untuk menelan (pada kondisi tertentu)
- Penurunan berat badan yang tidak direncanakan, bisa menjadi gejala masalah penyerapan nutrisi.
Penyebab Pencernaan Anak Tidak Sehat
Untuk mendukung pencernaan anak yang sehat, maka ada kebiasaan-kebiasaan yang sebaiknya dihindari. Berikut kebiasaan yang bisa menjadi penyebab pencernaan anak tidak sehat:
1. Makan terlalu cepat
Makan terlalu cepat dapat menyebabkan anak makan berlebihan atau kurang mengenali rasa kenyang, serta berpotensi menimbulkan rasa tidak nyaman pada perut.
Ayo, biasakan Si Kecil untuk duduk saat makan dan kurangi gangguan seperti televisi atau gadget. Ajak Si Kecil untuk mengenal dan menikmati apa yang ia makan. Ajarkan pula Si kecil untuk mengenal sinyal yang diberikan tubuhnya saat lapar atau saat sudah kenyang.
2. Pilih-pilih makanan bisa sebabkan anak kekurangan nutrisi
Kebiasaan pilih-pilih makanan dapat menyebabkan asupan nutrisi tidak seimbang, termasuk kekurangan serat yang berperan penting dalam menjaga kesehatan pencernaan.
Apalagi jika Si Kecil tidak suka sayur atau buah yang berakibat ia kekurangan serat, padahal serat dibutuhkan untuk mendukung kesehatan sistem pencernaan anak. Kebiasaan lain berhubungan dengan pilihan makanan anak yang perlu dihindari adalah terlalu sering makan jajanan. Makanan yang disajikan Moms di rumah tentu lebih terjaga kandungan nutrisi dan kebersihannya sehingga lebih baik bagi perut sehat anak.
3. Kurang minum air putih
Asupan cairan yang cukup penting untuk menjaga fungsi saluran cerna, termasuk membantu mencegah konstipasi.
Tetapi Moms sebaiknya tetap membiasakan Si Kecil untuk minum banyak air putih dan menghindari minuman kalori tinggi yang terlalu banyak. Hindari konsumsi minuman berwarna terlalu sering untuk mencegah pencernaan anak tidak sehat.
Kurang aktivitas fisik
Kurang aktivitas fisik dapat memengaruhi pergerakan usus dan meningkatkan risiko konstipasi pada anak.
Karenanya, yuk hindari Si Kecil terlalu banyak diam saja di depan televisi atau gadget. Aktivitas fisik yang cukup akan membantu menjaga berat badan Si Kecil, mencegah konstipasi, dan juga membuat Si Kecil lebih percaya diri.
Kebiasaan yang Mendukung Kesehatan Pencernaan
Sebaliknya, beberapa kebiasaan berikut mampu mendukung kesehatan pencernaan Si Kecil. Karenanya, Moms perlu mengajarkan Si Kecil untuk mulai menerapkan berbagai kebiasaan berikut:
- Menjaga kebersihan makanan, batasi konsumsi makanan yang kebersihannya tidak terjamin.
- Cuci tangan sebelum dan setelah makan.
- Makan makanan sehat dan seimbang, cukup serat, dan beraneka ragam.
- Cukup minum air putih
- Berolahraga rutin dan beraktivitas fisik.
- Cukup beristirahat.
- Mengelola stres.
Salah satu cara menjaga pencernaan anak sehat yakni dengan mencukupi kebutuhan gizi Si Kecil. Moms bisa memenuhinya melalui asupan makanan bergizi seimbang setiap hari dan bila perlu tambahkan asupan susu pertumbuhan LACTOGROW PRO 1+ untuk anak usia 1-3 tahun.
LACTOGROW PRO 1+ dengan L. reuteri probiotik yang telah diteliti dan berperan dalam membantu menjaga keseimbangan mikrobiota usus.
dan serat inulin sebagai prebiotik yang mendukung pertumbuhan bakteri baik di usus.
LACTOGROW PRO 1+ juga mengandung Omega 3 & 6, serta 12 vitamin dan 2 mineral. Tersedia pilihan rasa original, madu, dan vanila.
Demikian Moms, penjelasan lengkap seputar pencernaan untuk anak yang sehat, cara menjaga, serta penyebab gangguan yang mungkin dialami Si Kecil. Semoga informasi yang diberikan dapat bermanfaat untuk mendukung tumbuh kembang Si Kecil, ya Moms!
Pertanyaan Umum Seputar Proses Pencernaan Makanan
1. Bagaimana proses makanan dicerna di dalam perut anak?
Proses makanan dicerna di dalam perut anak atau lambung dengan bantuan otot lambung dan asam lambung. Kontraksi otot lambung mengaduk dan menggiling makanan menjadi cairan kental. Sedangkan asam lambung bekerja membunuh bakteri berbahaya dan enzim pepsin memecah protein. Setelah halus makanan diteruskan ke usus halus sedikit demi sedikit untuk diserap sari dan nutrisinya.
2. Mengapa lambung anak lebih sensitif daripada orang dewasa?
Lambung anak lebih sensitif daripada orang dewasa karena sistem pencernaannya yang belum matang sempurna, sehingga belum mampu mencerna makanan yang kompleks. Proses pematangan sistem pencernaan anak membutuhkan waktu hingga usia 5-7 tahun.