Parenting Corner

Berapa Kali Bayi BAB Dalam Sehari? Ini Penjelasannya!

20 April 2026

Berapa kali bayi bab dalam sehari

Memantau buang air besar (BAB) bayi merupakan salah satu cara mudah untuk memahami kondisi pencernaan Si Kecil. Moms mungkin bertanya-tanya, berapa kali bayi BAB dalam sehari? 

Yuk, simak penjelasan pola dan frekuensi BAB agar Moms lebih tenang memantau kesehatan pencernaan Si Kecil!

Frekuensi BAB Normal Bayi 

  • Hari-hari awal: Bayi mengeluarkan mekonium (hitam kehijauan, lengket) dalam 24–48 jam pertama; setelah itu tinja berangsur berubah menjadi kuning kehijauan, terutama pada bayi yang menyusu. 
  • Bayi ASI: Umumnya lebih sering BAB pada minggu-minggu awal, bahkan bisa setiap kali menyusu. Lalu setelah usia ±6 minggu, sebagian bayi bisa jarang BAB (bahkan 5–7 hari) dan tetap normal bila tinja lembut dan kenaikan berat badan baik.

Jadi, saat Moms bertanya, “berapa kali bayi BAB dalam sehari?” jawabannya tergantung usia dan jenis asupan, bukan pada angka “wajib” tertentu. Pantau konsistensi (lembut vs keras) dan pertambahan berat badan sebagai indikator utama

Faktor yang Memengaruhi BAB Bayi

1. Jenis asupan & usia

Bayi ASI cenderung lebih sering BAB di awal; semakin besar usianya, frekuensi bisa menurun. Refleks gastrokolika (dorongan BAB setelah makan) juga lebih nyata pada bayi/anak. 

2. Cairan & formula

Dehidrasi atau takaran formula yang kurang tepat dapat mengeraskan tinja dan menurunkan frekuensi BAB.

3. Mulai MPASI

Perubahan menu (termasuk serat) bisa mengubah pola BAB; beberapa bayi menjadi lebih jarang di awal perkenalan makanan padat.

4. Zat tertentu & kondisi medis

Suplemen besi dapat membuat tinja lebih keras pada sebagian anak; keluhan konstipasi juga dipengaruhi asupan serat/cairan dan, lebih jarang, kondisi medis tertentu. 

Baca Juga: 6 Manfaat Lactobacillus Reuteri untuk Anak

Tips Agar BAB Si Kecil Lancar

Untuk membantu menjaga BAB bayi tetap lancar, Moms bisa memperhatikan beberapa hal berikut:

1. Memberikan ASI atau Susu Sesuai Takaran dan Petunjuk

Teruskan ASI sesuai permintaan; namun untuk kondisi di mana ASI tidak dapat diberikan dan bayi diberikan nutrisi tambahan formula sesuai arahan dokter anak, pastikan rasio bubuk–air tepat.

2. Cairan Tambahan

Secara umum, tidak dianjurkan menambah cairan selain ASI untuk bayi <6 bulan. Pada beberapa kasus sembelit tertentu, dokter dapat mempertimbangkan sedikit air atau jus (apel/pear) pada bayi ≥1 bulan, tetapi hanya atas arahan dokter anak.

Kapan Harus Waspada?

Moms perlu segera berkonsultasi ke dokter jika terjadi hal-hal berikut:

1. Berat Badan Bayi Tidak Bertambah

Jika berat badan bayi tidak naik seperti seharusnya, ini bisa menandakan bayi tidak mendapatkan cukup nutrisi. 

2. Perubahan Pola BAB Berlangsung Lama

Jika perubahan pada feses bayi berlangsung lebih dari beberapa hari tanpa membaik, ini bisa menjadi tanda adanya masalah pencernaan.

3. Bayi Tampak Rewel, Lesu, Muntah, atau Mengalami Dehidrasi

Tanda-tanda ini bisa menunjukkan bayi sedang sakit atau tidak mendapatkan cukup cairan. 

Intinya, tidak ada angka baku untuk berapa kali bayi BAB dalam sehari. Hal yang penting adalah: tinja lembut, bayi nyaman, hidrasi baik, dan tumbuh sesuai kurva. Dengan memahami rentang normal, faktor yang memengaruhi, serta tanda bahaya, Moms bisa lebih percaya diri memantau kesehatan pencernaan Si Kecil setiap hari.

Untuk membantu Moms lebih tenang dalam memantau kesehatan pencernaan Si Kecil, termasuk memahami perubahan warna, tekstur, atau frekuensi feses bayi, Moms bisa bergabung dengan Lactoclub Community.

Di sana, Moms dapat berbagi pengalaman dengan orang tua lain, mendapatkan informasi terpercaya, serta tips dari para ahli seputar pencernaan dan tumbuh kembang anak. Yuk, bergabung dan temukan dukungan yang Moms butuhkan!

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan

  1. Berapa frekuensi BAB normal untuk bayi yang minum susu formula?
    Bayi yang minum susu formula umumnya BAB 1–2 kali sehari atau beberapa hari sekali, selama feses tetap lunak.
     
  2. Kapan frekuensi BAB bayi perlu dikhawatirkan?
    Perlu dikhawatirkan jika bayi tidak BAB disertai feses keras, mengejan berlebihan, perut kembung, atau bayi tampak kesakitan.

Referensi:

  1. Centre Pédiatrique de Bonapriso. (2024, October 14). All you need to know about newborn and infant stools.https://www.cpbonapriso.com/en/all-you-need-to-know-about-newborn-and-infant-stools
  2. Holscher, H. D., Faust, K. L., Czerkies, L. A., Litov, R., Ziegler, E. E., Lessin, H., Hatch, T., Sun, S., & Tappenden, K. A. (2012). Effects of prebiotic-containing infant formula on gastrointestinal tolerance and fecal microbiota in a randomized controlled trial. JPEN. Journal of parenteral and enteral nutrition, 36(1 Suppl), 95S–105S. https://doi.org/10.1177/0148607111430087
  3. Texas Department of Health. (2020, December). Nutrition education staff training: Infant nutrition module (Michigan WIC Program, adapted by Colorado WIC Program). Bureau of Nutrition Services.



Bagikan : Facebook WhatsApp