Sorry, you need to enable JavaScript to visit this website.

Artikel Parenting & Kesehatan Anak

Panduan tumbuh kembang & pencernaan anak

yang didukung oleh Tim Expert LACTOCLUB

Filter berdasarkan:

perut anak berbunyi dan mencret
Pencernaan
Pencernaan

Perut Anak Berbunyi dan Mencret? Pahami Penyebabnya!

Perut anak berbunyi dan mencret biasanya terjadi akibat gangguan pada sistem pencernaan, baik yang bersifat ringan maupun akibat infeksi, di mana suara yang lebih keras berasal dari peningkatan aktivitas usus saat mencerna makanan, cairan, dan gas. Saat diare, gerakan usus menjadi lebih cepat sehingga suara perut terdengar lebih jelas dan sering, kombinasi yang cukup umum terjadi saat sistem pencernaan anak sedang tidak seimbang. Meski kondisi ini umumnya dapat membaik dengan perawatan sederhana di rumah, Moms tetap perlu memahami penyebabnya agar bisa mengenali kondisi mana yang masih tergolong normal dan kapan anak perlu mendapatkan perhatian lebih lanjut. Kenapa Perut Anak Bisa Berbunyi Keras Sebelum dan Saat Diare? Perut berbunyi pada Si Kecil terjadi karena lambung dan usus tetap bergerak dalam proses mencerna makanan, cairan, serta udara yang ikut tertelan. Saat campuran ini bergerak di dalam saluran cerna, akan muncul suara gemuruh yang bisa terdengar dari luar tubuh. Sebelum diare terjadi, aktivitas usus dapat meningkat sebagai respons awal terhadap gangguan pencernaan. Kondisi ini biasanya dipicu oleh makanan tertentu yang sulit dicerna, produksi gas berlebih, infeksi ringan pada saluran cerna, atau ketidakseimbangan sementara pada bakteri usus. Pada fase ini, perut anak bisa terdengar lebih aktif dari biasanya meski belum ada perubahan pada konsistensi feses. Jika gangguan pada saluran cerna berlanjut, barulah pada sebagian kasus dapat berkembang menjadi diare. Pada tahap awal inilah sering muncul keluhan seperti perut mulas bunyi, yang terdengar lebih jelas akibat peningkatan pergerakan usus sebagai respons tubuh terhadap iritasi di saluran cerna. Apa Arti Suara Usus yang Sangat Aktif Saat Mencret? Suara usus aktif saat mencret biasanya terjadi karena usus anak bergerak lebih cepat untuk mendorong cairan dan sisa makanan keluar dari saluran cerna. Usus meningkatkan kontraksi untuk mempercepat pengeluaran cairan, sisa makanan, dan zat yang dianggap mengganggu dari dalam saluran cerna. Proses ini membuat pergerakan udara dan cairan di dalam usus menjadi lebih intens sehingga bunyi perut terdengar lebih jelas dan kadang lebih keras dari biasanya. Kondisi ini umumnya muncul pada diare atau gangguan infeksi pada saluran cerna. Selain itu, peningkatan suara usus juga bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor lain, seperti: Produksi gas berlebih di dalam usus Infeksi pada saluran cerna Intoleransi terhadap makanan tertentu Konsumsi makanan tinggi serat atau minuman bersoda Meski sering bersifat sementara, Moms perlu lebih waspada jika kondisi ini disertai gejala lain seperti perut kembung berat, muntah berulang, demam tinggi, atau adanya darah pada BAB Si Kecil. Kombinasi Perut Bunyi dan Mencret Bisa Jadi Tanda Gastroenteritis Salah satu penyebab paling umum dari perut anak berbunyi dan mencret adalah gastroenteritis, yaitu peradangan pada lambung dan usus akibat infeksi. Kondisi ini menyebabkan gangguan pada proses pencernaan dan penyerapan cairan, sehingga memunculkan diare disertai suara usus yang lebih aktif dari biasanya. Gejala gastroenteritis pada anak umumnya meliputi: Diare atau BAB encer berulang Mual dan/atau muntah Nyeri perut atau rasa mulas Tubuh anak tampak lemas dan kurang aktif Sebagian besar kasus gastroenteritis disebabkan oleh infeksi virus. Namun, bakteri dan parasit dari makanan atau minuman yang terkontaminasi juga dapat menjadi pemicunya. Pada kondisi ini, tubuh akan berusaha mengeluarkan penyebab infeksi melalui peningkatan gerakan usus yang kemudian menghasilkan suara perut yang lebih jelas. Baca Juga: Perbedaan L.Reuteri dan Rhamnosus Suara Usus Normal vs Tanda Infeksi, Apa Bedanya? Suara usus sebenarnya merupakan hal yang normal dan terjadi pada setiap anak. Dalam kondisi sehat, suara ini biasanya terdengar ringan, sesekali, atau seperti “ krucuk-krucuk ”, terutama saat anak merasa lapar atau setelah makan. Namun, Moms perlu waspada jika suara usus aktif terdengar lebih sering, lebih keras, dan disertai gejala lain seperti: Diare atau mencret berulang Nyeri atau kram perut yang parah Mual dan muntah Demam Perut terasa kembung atau tidak nyaman Pada infeksi saluran cerna, gerakan usus meningkat sebagai respons tubuh terhadap iritasi atau infeksi. Peningkatan ini menyebabkan lebih banyak cairan, gas, dan kontraksi otot usus, sehingga bunyi perut terdengar lebih dominan. Tidak semua suara perut menandakan kondisi berbahaya, tetapi kombinasi dengan gejala lain menjadi kunci penting untuk mengenali apakah Si Kecil mengalami gangguan pencernaan yang membutuhkan perhatian lebih lanjut. 5 Pertolongan Pertama Saat Anak Mencret dan Perut Berbunyi Saat Si Kecil mengalami kondisi perut mulas bunyi disertai diare, fokus utama perawatan di rumah adalah menjaga keseimbangan cairan tubuh agar tidak terjadi dehidrasi. Diare menyebabkan tubuh kehilangan cairan dan elektrolit dalam jumlah cukup banyak, sehingga perlu segera digantikan untuk menjaga kondisi anak tetap stabil. Berikut langkah pertolongan pertama yang bisa dilakukan di rumah: 1. Berikan cairan secara cukup dan rutin Air putih, oralit, atau cairan elektrolit dapat membantu menggantikan cairan tubuh yang hilang akibat diare. Pemberian cairan secara berkala penting untuk mencegah dehidrasi, terutama jika anak sering buang air besar. 2. Sajikan makanan yang ringan dan mudah dicerna Pilihan seperti pisang, nasi, apel, atau roti lebih mudah diproses oleh sistem pencernaan yang sedang sensitif. Makanan ini membantu menjaga energi anak tanpa membebani kerja usus. 3. Hindari makanan yang dapat memperburuk kondisi pencernaan Makanan pedas, berlemak, minuman berkafein, dan minuman bersoda sebaiknya dihindari karena dapat memperparah iritasi saluran cerna serta meningkatkan risiko diare berlanjut. 4. Pastikan anak cukup istirahat Istirahat yang cukup membantu tubuh Si Kecil fokus pada proses pemulihan. Saat tubuh lebih rileks, kerja sistem pencernaan juga menjadi lebih stabil. 5. Konsultasikan sebelum memberikan obat diare Pemberian obat sebaiknya tidak dilakukan tanpa arahan dokter, terutama pada anak, agar sesuai dengan penyebab dan kondisi yang dialami. Kapan Harus ke Dokter? Meskipun sebagian besar kasus perut anak berbunyi dan mencret dapat membaik dengan perawatan di rumah, ada kondisi tertentu yang membutuhkan pemeriksaan medis segera. Moms perlu segera membawa Si Kecil ke dokter jika muncul tanda-tanda berikut: Nyeri perut berat atau terdapat darah pada BAB. Muntah terus-menerus dan tidak dapat menerima cairan. Demam tinggi yang tidak turun. Tanda dehidrasi seperti mulut kering, sangat haus, menangis tanpa air mata, atau jarang pipis. Diare terjadi sangat sering atau anak tampak sangat lemas. Pada beberapa kondisi, probiotik juga dapat membantu menjaga keseimbangan bakteri baik di usus. Dukungan ini dapat membantu menjaga kesehatan saluran cerna sebagai bagian dari pemulihan dan pemeliharaan fungsi pencernaan yang optimal. Selain itu, kebutuhan nutrisi harian anak juga tetap perlu dipenuhi melalui pola makan bergizi seimbang, asupan cairan yang cukup, serta kebiasaan hidup sehat. Sebagai pelengkap asupan nutrisi hariannya, Moms dapat memilih LACTOGROW . Pencernaan sehat merupakan kunci penyerapan nutrisi optimal. Karena itu, menjaga kesehatan saluran cerna menjadi langkah penting untuk mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh. LACTOGROW satu-satunya susu pertumbuhan dengan L. reuteri * dan juga 0gr sukrosa. Selain itu, LACTOGROW mengandung inulin serta diperkaya dengan omega 3 dan 6, 13 vitamin, serta 7 mineral untuk membantu melengkapi kebutuhan nutrisi harian Si Kecil. LACTOGROW dukung pencernaan sehat Si Kecil agar nutrisinya terserap optimal. Pertanyaan Seputar Perut Anak Berbunyi dan Mencret Mengapa perut anak berbunyi keras sebelum diare? Perut anak bisa berbunyi lebih keras sebelum diare karena aktivitas usus meningkat saat sistem pencernaan mulai tidak seimbang. Pada fase ini, usus bergerak lebih aktif untuk mengolah makanan, cairan, serta gas di dalam saluran cerna. Apa arti suara usus yang sangat aktif saat mencret? Suara usus yang sangat aktif saat mencret menandakan bahwa usus sedang bekerja lebih cepat dari biasanya untuk mengeluarkan cairan dan sisa makanan dari dalam tubuh. Kondisi ini umum terjadi pada diare atau infeksi saluran cerna, ketika tubuh berusaha membersihkan penyebab gangguan. *Nestle adalah satu-satunya pemegang lisensi L. reuteri DSM 17938 untuk produk susu pertumbuhan.

Disusun Oleh: Tim LACTOCLUB • Sep 2026

Makanan yang membuat BAB keras
Pencernaan
Pencernaan

Mengatasi Sembelit pada Anak: Penyebab BAB Keras

Penyebab BAB keras pada anak umumnya adalah kurangnya asupan cairan dan serat, konsumsi susu formula tertentu, atau perubahan pola makan seperti transisi ke MPASI. Makanan seperti pisang, nasi putih berlebihan, dan produk olahan susu tinggi lemak juga bisa memperparah kondisi ini. BAB yang keras sering menjadi salah satu keluhan utama pada anak, terutama di masa-masa awal pertumbuhan, dan bisa menyebabkan rasa tidak nyaman, perut kembung, hingga kesulitan saat buang air besar. Beberapa Si Buah Hati bahkan jadi trauma setiap kali ke kamar mandi karena rasa sakit saat mengejan. Kenali lebih lengkap makanan penyebab BAB keras dan cara mengatasinya agar BAB Si Buah Hati kembali normal berikut ini. Tabel Makanan yang Perlu Diwaspadai dan Dihindari Makanan yang perlu diwaspadai dan dihindari agar BAB si Kecil tidak keras umumnya rendah serat dan tinggi gula, garam, atau lemak, sehingga memperlambat kerja saluran cerna dan membuat feses lebih kering serta sulit dikeluarkan. Berikut daftar lengkapnya: Tabel Makanan yang Perlu Diwaspadai dan Dihindari Kategori Contoh Makanan Efek pada Pencernaan Tinggi gula Biskuit, permen, kue Rendah serat, sulit dicerna Tinggi garam Snack kering Rendah serat, sulit dicerna Tinggi lemak, rendah serat Gorengan, daging olahan Memperlambat pergerakan usus Rendah serat Roti dan biskuit minim serat Feses tertahan lebih lama Cepat saji/instan Makanan instan Gizi tidak seimbang Tinggi lemak dan garam Keripik, camilan asin Gizi tidak seimbang Jika konsumsi makanan-makanan ini tidak diimbangi dengan asupan sehat lainnya, risiko sembelit bisa semakin meningkat. Dampak Makanan Rendah Serat pada Kesehatan Usus Serat membantu menjaga keseimbangan bakteri baik di usus, yang penting untuk proses pencernaan dan penyerapan nutrisi. Kalau asupan serat si Kecil kurang, kerja saluran cerna bisa ikut terganggu. Salah satu dampaknya, feses menjadi lebih kering dan keras karena tubuh tidak memiliki cukup serat untuk menahan air di dalam usus. Padahal, serat sangat dibutuhkan agar feses tetap lunak dan mudah dikeluarkan. Bila kondisi ini dibiarkan terus-menerus, bukan hanya bikin BAB jadi tidak nyaman, tapi juga bisa membuat penyerapan nutrisi dari makanan jadi kurang optimal. Baca Juga: Penyebab Anak Sembelit dan Cara Atasinya Makanan yang Perlu Dihindari Agar BAB Tidak Keras Supaya pencernaan si Kecil tetap lancar, Moms disarankan untuk membatasi beberapa jenis makanan berikut ini, karena termasuk dalam kategori makanan yang membuat BAB keras: Roti dan biskuit yang minim kandungan serat Makanan cepat saji atau instan Keripik dan camilan asin tinggi lemak dan garam Kandungan gizi yang kurang seimbang dalam makanan-makanan ini bisa menjadi penyebab BAB keras pada si Kecil. Ini Daftar Makanan yang Membantu BAB Tidak Keras Salah satu cara agar BAB tidak keras, Moms bisa memastikan si Kecil mendapatkan cukup asupan serat dan cairan setiap harinya. Berikut beberapa contoh makanan yang membuat BAB tidak keras: Buah-buahan, seperti pepaya, pir dan apel Sayuran, misalkan bayam, brokoli, dan sayuran hijau lainnya Oat, gandum utuh, dan kacang-kacangan Selain itu, Moms juga bisa membiasakan si Kecil untuk aktif bergerak. Aktivitas fisik ringan seperti bermain atau berjalan-jalan bisa membantu kerja saluran cerna lebih lancar. LACTOGROW PRO: Pilihan Susu Agar BAB si Kecil Tidak Keras Selain memperbaiki pola makan, memilih susu yang tepat juga bisa membantu mengatasi penyebab BAB keras pada anak. Moms bisa memberikan LACTOGROW PRO 1+ untuk anak usia 1–3 tahun atau LACTOGROW PRO 3+ untuk usia 4–5 tahun. LACTOGROW PRO 1+ merupakan satu-satunya susu pertumbuhan dengan probiotik Lactobacillus reuteri yang diperkaya dengan Omega 3 & 6, prebiotik Inulin, 13 vitamin dan 7 mineral yang dapat mendukung pencernaan baik, bantu akal cerdas, dan tubuh aktif si Kecil. Jika saluran cerna si Kecil sehat, proses BAB pun bisa lebih teratur dan terasa nyaman! Pertanyaan Seputar Makanan yang Membuat BAB Anak Keras Anak BAB keras apa solusinya? Jika anak BAB keras, solusinya adalah memperbanyak asupan serat dari buah, sayur, dan biji-bijian, serta memastikan anak minum cukup air putih. Ajarkan kebiasaan BAB teratur, misalnya setelah makan, dan dorong anak untuk aktif bergerak agar pencernaan lancar. Hindari makanan olahan dan tinggi lemak yang dapat memperburuk sembelit. Apa yang harus dilakukan jika anak sembelit? Saat anak sembelit, tingkatkan konsumsi makanan berserat seperti pepaya, pir, dan sayuran hijau, serta pastikan kebutuhan cairan tercukupi. Berikan yoghurt untuk menambah bakteri baik, ajak anak beraktivitas fisik, dan buat rutinitas toilet yang teratur. Jika sembelit berlangsung lama atau disertai nyeri hebat, segera konsultasikan ke dokter. Bagaimana cara melancarkan BAB Anak? Cara melancarkan BAB anak adalah dengan memberikan makanan kaya serat seperti buah, sayur, dan biji-bijian, mencukupi kebutuhan cairan, serta mengajarkan jadwal BAB yang teratur. Aktivitas fisik juga penting untuk merangsang pergerakan usus. Hindari kebiasaan menahan BAB dan batasi makanan pemicu sembelit seperti junk food.

Disusun Oleh: Tim LACTOCLUB • Jul 2026

Kenapa bab warna hitam
Pencernaan
Pencernaan

BAB Anak Hitam dan Bau, Bahaya atau Tidak?

Kotoran atau BAB berwarna hitam pada anak bisa disebabkan oleh konsumsi zat besi tambahan, ASI atau susu formula tertentu, atau sisa mekonium di hari-hari awal kelahiran, dan umumnya tidak berbahaya. Namun, jika warna hitam pekat disertai bau amis, ini bisa jadi tanda perdarahan saluran cerna yang perlu segera diperiksakan ke dokter. Perubahan warna BAB si Kecil bisa memberikan petunjuk penting soal kesehatannya, lho, Moms. Salah satu yang sering bikin khawatir adalah BAB berwarna hitam. Yuk, simak penjelasan lengkap berikut supaya Moms bisa lebih tenang dan tahu kapan saatnya membawa si Kecil berkonsultasi ke dokter: Pengaruh Makanan dan Minuman terhadap Warna BAB Warna feses sangat dipengaruhi oleh apa yang dikonsumsi si Kecil. Salah satu penyebab paling umum dari BAB anak warna hitam adalah konsumsi makanan atau minuman berikut: Suplemen zat besi (biasanya diberikan pada anak yang mengalami anemia) Makanan seperti hati ayam, daging merah, atau bayam dalam jumlah besar Camilan dan buah berwarna gelap seperti cokelat hitam, blueberry, atau anggur ungu Jika BAB hitam muncul setelah si Kecil mengonsumsi salah satu dari makanan di atas dan tidak disertai gejala lain, kemungkinan besar kenapa BAB warna hitam adalah karena faktor makanan saja. Warna feses biasanya akan kembali normal dalam beberapa hari setelah pola makan kembali seperti biasa. Kondisi Medis yang Menyebabkan BAB Hitam Meskipun faktor makanan sering jadi penyebab utama, tidak semua kasus BAB warna hitam bisa dianggap ringan, ya, Moms! Jika feses si Kecil terlihat hitam pekat, berbau sangat menyengat, dan disertai keluhan seperti perut kembung, lemas, muntah, atau demam, Moms perlu waspada. Warna feses yang hitam bisa mengindikasikan adanya perdarahan di saluran pencernaan bagian atas, seperti lambung atau usus halus. Kondisi ini dikenal dengan istilah melena dan termasuk gejala serius yang perlu segera ditangani oleh tenaga medis 1 . Perdarahan di saluran cerna bagian atas menyebabkan darah tercampur dengan cairan lambung, sehingga warnanya menjadi hitam dan berbau sangat menyengat. Gejala tambahan yang perlu diwaspadai antara lain: Muntah atau mual Perut kembung atau terasa nyeri Lemas dan tampak tidak aktif Demam Penurunan nafsu makan atau berat badan Jadi, jika Moms ingin tahu kenapa BAB anak warna hitam, padahal tidak mengonsumsi makanan atau obat tertentu, apalagi disertai gejala tambahan, lebih baik dicek segera ke dokter. Baca Juga: Anak Sembelit? Ini Tips Mengatasinya! Gunakan Bristol Stool Chart untuk Memantau Kondisi Feses si Kecil Moms bisa memantau kondisi feses si Kecil menggunakan Bristol Stool Chart 2 . Dalam panduan ini bentuk feses dibagi menjadi tujuh tipe, mulai dari yang sangat keras hingga sangat cair. Tipe 1 dan 2 Feses keras dan sulit dikeluarkan, biasanya mengindikasikan sembelit . si Kecil mungkin akan terlihat mengejan atau tidak nyaman saat BAB. Tipe 3 dan 4 Ini merupakan bentuk ideal feses. Teksturnya mirip sosis, permukaan halus atau sedikit retak, dan mudah dikeluarkan. Tipe 5 Cenderung lebih lunak, berbentuk potongan lembek. Bisa menjadi tanda awal menuju diare jika berlangsung terus-menerus. Tipe 6 dan 7 Feses sangat lembek hingga cair, dan biasanya menunjukkan diare. Meskipun tidak secara langsung menunjukkan kenapa BAB anak warna hitam, Moms bisa menggunakannya untuk melihat pola buang air besar si Kecil, termasuk tekstur dan konsistensinya. Segera konsultasikan ke dokter jika: BAB berwarna hitam pekat disertai bau amis menyengat, muncul tanpa riwayat konsumsi makanan/suplemen tertentu, atau disertai gejala tambahan seperti muntah, perut kembung, lemas, demam, penurunan nafsu makan, atau berat badan turun. Kombinasi warna hitam dan gejala-gejala ini bisa menandakan perdarahan saluran cerna (melena) yang memerlukan penanganan medis segera. LACTOGROW PRO: Susu untuk Mendukung Kesehatan Saluran Cerna si Kecil Salah satu cara mendukung pencernaan si Kecil sehat adalah dengan memastikan asupan nutrisi yang lengkap dan seimbang setiap hari. Jika sistem pencernaan si Kecil sehat, penyerapan nutrisi pun menjadi lebih optimal. Oleh karena itu, Moms dapat memberikan susu pertumbuhan, seperti susu LACTOGROW PRO 1+ untuk anak usia 1–3 tahun atau LACTOGROW PRO 3+ untuk usia 4–5 tahun. LACTOGROW PRO 1+merupakan satu-satunya susu pertumbuhan dengan probiotik Lactobacillus reuteri yang diperkaya dengan Omega 3 & 6, prebiotik Inulin, 13 vitamin dan 7 mineral yang dapat mendukung pencernaan baik, bantu akal cerdas, dan tubuh aktif si Kecil. Pertanyaan Seputar BAB Anak Hitam pada Anak BAB warna hitam pada anak pertanda apa? BAB hitam pada anak bisa disebabkan oleh makanan berwarna gelap, susu atau suplemen zat besi, serta obat yang mengandung bismut. Namun, jika disertai bau menyengat, muntah darah, nyeri perut, atau anak tampak lemas, ini bisa menandakan perdarahan saluran cerna dan perlu segera diperiksakan ke dokter. Obat apa yang menyebabkan BAB anak hitam? Suplemen zat besi, obat yang mengandung bismuth subsalicylate, dan beberapa antibiotik dapat membuat feses anak berwarna hitam. Perubahan ini umumnya tidak berbahaya dan akan hilang setelah penggunaan obat dihentikan. Kenapa BAB berwarna hijau kehitaman? BAB hijau kehitaman biasanya terjadi karena konsumsi sayuran hijau, pewarna makanan, atau suplemen zat besi. Proses pencernaan yang cepat, penggunaan antibiotik, atau infeksi bakteri juga bisa menjadi penyebab. Jika disertai gejala lain seperti demam atau diare berat, segera konsultasikan ke dokter.

Disusun Oleh: Tim LACTOCLUB • Jun 2026

Lactobacillus reuteri: Bakteri Baik untuk Usus Si Kecil
Pencernaan
Pencernaan

Apa Itu Lactobacillus reuteri? Manfaatnya untuk Usus Anak

Waktu baca: 2 menit Ditulis Oleh: Tim PenulisDitinjau Oleh: Mifta Novikasari S.P. M.K.M Probiotik adalah bakteri baik yang dapat membantu kesehatan tubuh kita, terutama untuk sistem pencernaan. Salah satu jenis probiotik yang paling banyak diteliti adalah L. reuteri DSM 17938. Di bawah ini kita akan membahas lebih lanjut tentang bakteri probiotik ini dan bagaimana manfaat L. reuteri untuk perut anak sehat. Yuk, kita simak bersama! Asal Usul L. reuteri L. reuteri atau L. reuteri adalah salah satu jenis bakteri probiotik yang paling banyak diteliti. Bakteri ini pertama kali ditemukan di dalam ASI dan saat ini ditemukan hampir di semua vertebrata dan mamalia, termasuk di dalam saluran pencernaan manusia. Nama "reuteri" diambil dari nama Gerhard Reuter, seorang ahli mikrobiologi dari Jerman yang menghabiskan sebagian besar karirnya untuk memahami bakteri di usus manusia. Namun, perlu diketahui bahwa keberadaan L. reuteri di ASI bisa berkurang seiring waktu, terutama setelah Si Kecil mulai mengkonsumsi makanan padat. Hal ini bisa berdampak pada kesehatan usus, karena L. reuteri memiliki banyak manfaat bagi kesehatan usus. Manfaat L. reuteri untuk Perut Anak Beberapa studi klinis menunjukkan bahwa L. reuteri DSM 17938 dapat membantu menjaga keseimbangan mikrobiota usus pada bayi, yang berperan dalam mendukung kesehatan saluran cerna. ● Probiotik vs Bakteri Jahat Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis sampel feses dari 60 bayi. Sebagian diberikan probiotik, sedangkan sebagian lainnya tidak. Hasilnya menunjukkan bahwa konsumsi probiotik L. reuteri memiliki efek yang baik dalam melawan beberapa jenis bakteri jahat. ● Metabolit dari Probiotik Yang menarik, manfaat probiotik reuteri ini dapat menghasilkan metabolit seperti reuterin yang dalam studi laboratorium menunjukkan aktivitas terhadap beberapa mikroorganisme. Penelitian sebelumnya juga telah menunjukkan bahwa dengan adanya probiotik, jumlah bakteri jahat dapat berkurang. ● Probiotik untuk Pencegahan Penyakit Usus Beberapa penelitian menunjukkan bahwa probiotik tertentu, termasuk L. reuteri , dapat membantu mengurangi risiko gangguan pencernaan tertentu, namun penggunaannya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi klinis. Nah, sekarang kita akan membahas lebih lanjut tentang manfaat probiotik ini. Probiotik dan Kesehatan Usus Si Kecil Bayi baru lahir memiliki mikrobiota usus yang masih berkembang dan akan dipengaruhi oleh proses persalinan, ASI, dan lingkungan. Terdapat hubungan antara usus dan otak (gut-brain axis), yang menunjukkan bahwa mikrobiota dapat berperan dalam regulasi sistem saraf dan respons stres. Namun, tidak semua bakteri ini baik untuk kesehatan. Ada beberapa jenis bakteri yang bisa menyebabkan masalah kesehatan, seperti diare dan infeksi usus. Nah, di sinilah probiotik seperti L.reuteri DSM 17938 berperan. L. reuteri DSM 17938: Pahlawan Kecil di Usus Si Kecil L. reuteri DSM 17938 adalah jenis bakteri probiotik yang bisa membantu melindungi usus sehat anak dari bakteri jahat. Bakteri ini bekerja dengan cara menghasilkan metabolit dalam melawan berbagai jenis bakteri jahat, termasuk yang bisa menyebabkan diare dan infeksi usus. Selain itu, penelitian juga menunjukkan bahwa probiotik ini bisa mengurangi jumlah bakteri jahat di usus. Bakteri jahat ini diketahui bisa meningkatkan risiko penyakit usus, sebuah kondisi yang bisa menyebabkan peradangan dan infeksi di usus. Jadi, dengan memberikan probiotik ini sejak dini, kita bisa membantu melindungi usus dari bakteri jahat dan mencegah kondisi seperti penyakit usus. Baca Juga: Susu untuk Pencernaan Anak Pentingnya Penemuan L. reuteri Penemuan L. reuteri ini sangat penting karena bakteri ini memiliki banyak manfaat bagi kesehatan kita. L. reuteri untuk perut anak dapat menghasilkan molekul yang dapat melawan bakteri jahat dan merombak komposisi bakteri di usus. Selain itu, L. reuteri juga dapat memperkuat dinding usus, sehingga dapat mengurangi perpindahan bakteri dari usus ke jaringan tubuh. Perpindahan bakteri ini telah dihipotesiskan sebagai pemicu peradangan. L. reuteri telah dipelajari dalam konteks respon imun dan inflamasi, namun manfaat klinisnya dapat bervariasi tergantung kondisi dan populasi. Jenis Bakteri Baik dalam Probiotik Jenis bakteri baik ada bermacam-macam dan masing-masing memiliki kegunaan serta manfaat yang berbeda dalam kesehatan. Berikut ini beberapa jenis bakteri baik yang telah dikenal dan diteliti manfaatnya: 1. Lactobacillus atau L. Jenis bakteri baik yang dapat ditemukan di dalam pencernaan dan probiotik. Ada lebih dari 50 spesies L. yang sudah dikenali, di antaranya: L. acidophilus, telah dipelajari untuk membantu mengurangi durasi diare dalam kondisi spesifik. L. rhamnosus GG, membantu mengatasi diare perjalanan dan eksim pada bayi L. plantarum, dapat meningkatkan sistem imun melawan penyakit akibat bakteri 2. Bifidobacteria Merupakan bakteri baik yang menyusun sebagian besar bakteri di usus dan menjadi penghuni sistem pencernaan sejak setelah bayi lahir. Ada lebih dari 30 strain bakteri ini yang dikenal, seperti: Bifidobacteria bifidum, yang membantu melindungi dari bakteri penyakit Bifidobacteria infantis, yang dapat meringankan gejala radang usus. Bifidobacteria lactis, yang membantu meningkatkan kolesterol pada wanita. 3. Streptococcus thermophilus Merupakan bakteri penghasil enzim laktase yang penting dalam mencerna susu. 4. Saccharomyces boulardii Bakteri dalam ragi yang membantu mencegah dan mengatasi diare perjalanan dan akibat antibiotik.1 Perbedaan Probiotik dan Prebiotik Probiotik dan prebiotik terdengar mirip, namun keduanya adalah dua hal yang berbeda. Meskipun, baik probiotik maupun prebiotik sama-sama memberi manfaat bagi kesehatan pencernaan. Probiotik secara sederhana adalah bakteri baik, seperti L. reuteri dan Bifidobacterium . Probiotik merupakan bakteri hidup yang memberi manfaat bagi kesehatan tubuh. Sedangkan prebiotik adalah makanan untuk probiotik, umumnya berupa serat pangan yang tidak dapat dicerna usus. Prebiotik merupakan komponen pangan yang dapat mendukung pertumbuhan mikroorganisme yang bermanfaat di usus. Tips Pola Makan Ramah Usus Pola makan dapat mempengaruhi kesehatan sistem pencernaan, terutama usus. Bagaimana pola makan yang ramah untuk usus? Berikut beberapa tipsnya: Penuhi kebutuhan serat makanan untuk membantu pencernaan dan mencegah sembelit. Disarankan untuk memenuhi 30 gram serat per hari. Minum cukup cairan, terutama air putih. Air baik untuk pencernaan dan melancarkan serta melembutkan feses. Kurangi makanan berlemak yang sulit dicerna dan mendorong usus bekerja lebih berat. Kurangi makan makanan pedas yang dapat memicu sakit perut hingga diare. Kenali pemicu masalah pencernaan. Bisa berbeda setiap orang, misal makanan asam atau mengandung susu. Konsumsi probiotik atau bakteri baik yang bermanfaat bagi kesehatan dan pencernaan. Probiotik juga dapat mengandung bakteri baik untuk sembelit.2 Pengaruh Stres dan Kesehatan Usus Anak Tahukah Moms jika kesehatan usus Si Kecil dapat saling mempengaruhi dengan otak anak? Hubungan yang dikenal dengan gut-brain axis (poros usus-otak) ini telah banyak diteliti dan diketahui sinyal saraf dengan hormon stres saling mempengaruhi. Stres pada anak dapat mendorong Si Kecil untuk makan makanan yang disukai sehingga mempengaruhi bakteri usus yang berkembang. Stres juga dapat mempengaruhi komposisi bakteri usus melalui hormon stres, peradangan, dan perubahan otonom. Sebaliknya, bakteri di usus dapat melepaskan hormon yang dapat mengubah perilaku makan dan suasana hati Si Kecil. Bakteri di usus juga dapat meningkatkan respons stres dan meningkatkan risiko depresi, yang dapat ditekan melalui konsumsi probiotik.3 Cara Memperbaiki Kualitas Mikrobiota Menjaga kualitas mikrobiota dalam usus penting sebagai upaya menjaga kualitas kesehatan tubuh dan juga pikiran. Beberapa cara untuk memperbaiki kualitas mikrobiota dalam tubuh di antaranya: Mengonsumsi beragam serat prebiotik. Mengonsumsi makanan sumber probiotik seperti yogurt dan tempe. Pola makan tinggi gula dapat mempengaruhi komposisi mikrobiota usus, sehingga keseimbangan konsumsi tetap penting. Mengelola stres dan cukup beristirahat. Hindari penggunaan antibiotik yang tidak perlu. Lactogrow satu-satunya susu pertumbuhan yang mengandung L. reuteri, juga 0 gr sukrosa. Lactogrow dukung pencernaan sehat si kecil agar nutrisinya terserap optimal. Selain itu Lactogrow juga diperkaya dengan DHA, minyak ikan omega 3&6 yang mendukung perkebangan kognitif anak, serta dilengkapi 13 vitamin dan 7 mineral untuk membantu menunjang tumbuh kembang si kecil secara menyeluruh. Dengan memahami manfaat probiotik dan perannya dalam menjaga kesehatan pencernaan, Moms dapat lebih bijak dalam memilih asupan yang tepat untuk Si Kecil Pertanyaan Seputar L. reuteri 1. Bagaimana L. reuteri membantu sistem pencernaan anak? L. reuteri membantu sistem pencernaan anak dengan melindungi usus dari bakteri jahat. Bakteri ini bekerja dengan cara menghasilkan senyawa yang ampuh dalam melawan berbagai jenis bakteri jahat, termasuk yang bisa menyebabkan diare dan infeksi usus. 2. Apakah L. reuteri aman dikonsumsi setiap hari? L. reuteri DSM 17938 umumnya dianggap aman pada populasi anak sehat berdasarkan studi klinis, namun sebaiknya digunakan sesuai anjuran tenaga kesehatan. Mengonsumsi probiotik dapat membantu menjaga keseimbangan bakteri di usus yang penting untuk kesehatan tubuh.

Disusun Oleh: Tim LACTOCLUB • May 2026

Nutrisi Pencernaan Anak: Kandungan Penting untuk Usus Sehat
Pencernaan
Pencernaan

Nutrisi Pencernaan Anak: Kandungan Penting untuk Usus Sehat

Wacktu baca: 2 menit Ditulis Oleh: Tim PenulisDitinjau Oleh: Mifta Novikasari S.P. M.K.M Agar tumbuh kembang anak dapat berjalan optimal, Si Kecil perlu mendapat asupan nutrisi seimbang setiap harinya. Selain itu, nutrisi pencernaan anak juga penting untuk menjaga usus Si Kecil tetap sehat. Selain melalui makanan pokok dengan menu sehat bergizi seimbang, susu juga dapat menjadi pilihan untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi harian Si Kecil. Susu mengandung berbagai vitamin, mineral dan nutrisi lain yang dapat mendukung tumbuh kembang anak. Masih berkaitan dengan pemenuhan nutrisi anak agar tumbuh kembangnya optimal, pencernaan yang sehat juga berperan penting agar nutrisi yang sudah Moms berikan untuk Si Kecil melalui menu sehat sehari-hari dapat diserap tubuh dengan baik. Nah, selain untuk memenuhi kebutuhan nutrisi seperti yang disebutkan di atas, susu dapat menjadi salah satu sumber nutrisi yang melengkapi kebutuhan harian anak, yang secara tidak langsung turut mendukung fungsi pencernaan sebagai bagian dari tumbuh kembang. Yuk Moms, baca lebih lanjut mengenai manfaat susu untuk pencernaan anak berikut ini! Nutrisi Pencernaan Anak untuk Kesehatan Usus Dalam menjaga kesehatan usus, tidak bisa lepas dari keberadaan mikrobiota di dalamnya. Mikrobiota usus merupakan kumpulan mikroorganisme yang berperan dalam metabolisme nutrisi, menjaga fungsi barier usus, serta berinteraksi dengan sistem imun. Karenanya, dalam menjaga usus tetap sehat, beberapa zat gizi untuk usus ini berperan penting sebagai nutrisi pencernaan anak sekaligus menjaga kesehatan mikrobiota di usus: • Serat Ketika membahas makanan untuk kesehatan usus dan sistem pencernaan, serat menjadi salah satu nutrisi yang paling penting. Asupan serat berperan dalam mendukung fungsi saluran cerna, termasuk membantu pergerakan usus dan pembentukan konsistensi feses. Sebagian serat juga bersifat prebiotik yang dapat mendukung pertumbuhan mikroorganisme yang bermanfaat di usus. Prebiotik seperti GOS, FOS, dan inulin merupakan jenis serat yang dapat difermentasi dan secara selektif mendukung pertumbuhan mikroorganisme tertentu di usus. Selain itu, inulin juga telah dipelajari dapat membantu meningkatkan produksi asam lemak rantai pendek (SCFA) yang berperan dalam menjaga kesehatan saluran cerna. Lalu, apa saja makanan tinggi serat yang baik untuk anak? Moms bisa memberi Si Kecil sumber tinggi serat seperti gandum utuh, kacang-kacangan, buah dan sayuran, serta biji-bijian. • Polifenol Senyawa alami dalam tumbuhan yang tidak mudah dicerna dan sampai usus besar untuk dimetabolisme oleh mikroorganisme usus. Polifenol merupakan senyawa bioaktif dari bahan nabati yang dapat berinteraksi dengan mikrobiota usus dan berpotensi memberikan efek antioksidan. Sumber polifenol diantaranya apel, anggur, pir, stroberi, brokoli, kubis, tomat, jahe, kacang-kacangan, dan kedelai. • Asam lemak Omega-3 Merupakan asam lemak tak jenuh ganda yang berfungsi mengurangi peradangan. Asam lemak omega-3 diketahui memiliki peran dalam proses inflamasi dan dalam beberapa studi dikaitkan dengan komposisi mikrobiota usus, meskipun mekanismenya masih terus diteliti. Omega-3 banyak ditemukan dalam ikan berlemak seperti salmon, makarel, tuna, dan sarden. • Probiotik Probiotik adalah mikroorganisme hidup yang, jika dikonsumsi dalam jumlah cukup, dapat memberikan manfaat bagi kesehatan, termasuk dalam mendukung keseimbangan mikrobiota usus. Sumber probiotik diantaranya yogurt, acar, kefir, kimchi, miso, dan pangan fermentasi lainnya. Baca Juga: Susu untuk Pencernaan Anak Kombinasi Nutrisi yang Dukung Mikrobiota Usus Menjaga keseimbangan mikrobiota usus tidak cukup hanya dengan asupan satu jenis nutrisi. Kombinasi beberapa zat gizi untuk usus diperlukan dalam menciptakan ekosistem yang mendukung fungsi mikrobiota di dalam usus. • Prebiotik dan Probiotik Serat prebiotik yang tidak dapat dicerna tubuh menjadi bahan pangan bakteri probiotik sehingga dapat berkembang di usus dan mendukung keseimbangan komposisi mikrobiota usus. • Polifenol dan Serat Senyawa polifenol dari bahan nabati yang sulit diserap tubuh turun ke usus besar untuk dicerna mikrobiota usus yang pertumbuhannya didukung serat. Oleh mikrobiota usus, polifenol diubah menjadi metabolit aktif yang bermanfaat bagi tubuh. Nutrisi Susu yang Dukung Kesehatan Pencernaan Anak Nutrisi apa di dalam susu yang dapat mendukung kesehatan pencernaan anak? Nutrisi yang mendukung pencernaan anak salah satunya adalah dengan konsumsi susu. Secara alami, susu mengandung protein, kalsium, dan potasium. Beberapa jenis nutrisi lain juga dapat difortifikasi ke dalam susu, misalnya vitamin D, vitamin A, dan probiotik sebagai vitamin pencernaan. Susu juga mengandung laktosa, yaitu sumber karbohidrat terpenting di dalam susu. Laktosa dapat dipecah oleh enzim laktase untuk menjadi glukosa dan galaktosa. Hasil hidrolisis ini kemudian akan diserap ke dalam aliran darah sebagai nutrisi. Nutrisi yang mendukung pencernaan anak seperti laktosa inilah yang juga merupakan komponen susu yang berperan dalam menjaga kesehatan pencernaan anak. Manfaat Laktosa Susu untuk Pencernaan Anak Apa manfaat laktosa dalam susu untuk pencernaan anak? Laktosa merupakan sumber karbohidrat utama dalam susu yang berperan sebagai sumber energi. Pada beberapa kondisi, laktosa juga dapat berkontribusi terhadap lingkungan usus. Dalam kondisi normal, metabolisme laktosa di usus dapat mempengaruhi lingkungan mikrobiota, meskipun efeknya dapat bervariasi antar individu. Susu Probiotik untuk Jaga Kesehatan Pencernaan Anak Bagaimana susu dengan probiotik dapat menjaga kesehatan pencernaan anak? Seperti yang disebutkan di atas, susu juga bisa difortifikasi dengan probiotik. Probiotik adalah mikroorganisme hidup yang memiliki manfaat bagi tubuh kita. Karenanya probiotik juga dikenal sebagai bakteri baik. Probiotik dapat mengandung berbagai jenis mikroorganisme, dua diantaranya adalah L. dan bifidobacterium. Lebih lanjut lagi, penelitian menunjukkan bahwa L. reuteri berperan positif dalam mengatasi berbagai gangguan pencernaan fungsional pada anak, misalnya kolik, diare, dan juga konstipasi. Lactogrow satu-satunya susu pertumbuhan yang mengandung L. reuteri, juga 0 gr sukrosa. Lactogrow dukung pencernaan sehat si kecil agar nutrisinya terserap optimal. Selain itu Lactogrow juga diperkaya dengan DHA, minyak ikan omega 3&6 yang mendukung perkebangan kognitif anak, serta dilengkapi 13 vitamin dan 7 mineral untuk membantu menunjang tumbuh kembang si kecil secara menyeluruh. Moms, memberikan susu tidak hanya untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi harian, tetapi juga dapat mendukung kesehatan pencernaan sebagai bagian dari tumbuh kembang anak. Oleh karena itu, penting untuk memilih susu yang sesuai agar manfaat yang diberikan dapat optimal. Pertanyaan Seputar Nutrisi Pencernaan Anak 1. Apa nutrisi paling penting untuk kesehatan usus anak? Berbagai nutrisi, seperti serat, prebiotik, dan komponen lain dalam pola makan seimbang, berperan dalam mendukung kesehatan usus anak. 2. Bagaimana serat membantu sistem pencernaan? Serat membantu sistem pencernaan dengan mempengaruhi bagaimana usus bekerja mencerna makanan, menyerap gizi, menggerakkan makanan di saluran cerna, dan melancarkan buang air besar. Serat juga berfungsi untuk makanan bakteri baik di usus yang dapat meningkatkan sistem imun dengan menekan dan melawan bakteri jahat.

Disusun Oleh: Tim LACTOCLUB • Jun 2026

Perlu Diketahui! Kenali Penyebab Diare Anak dan Cara Mengatasinya
Pencernaan
Pencernaan

Jenis Diare pada Anak dan Cara Mencegahnya

Waktu baca: 2 menit Saat musim pancaroba, diare menjadi salah satu penyakit yang sering mengintai anak-anak. Insiden diare dapat meningkat pada periode tertentu, yang seringkali berkaitan dengan perubahan perilaku, kondisi lingkungan, serta paparan terhadap patogen infeksius seperti virus dan bakteri. Penyebab diare anak salah satunya adalah infeksi di usus yang disebut gastroenteritis. Kerap dialami anak usia dini karena sistem pencernaannya yang belum sempurna dan masih beradaptasi dengan berbagai jenis makanan dan minuman. Diare merupakan respons tubuh akibat gangguan fungsi usus, yang dapat disebabkan oleh infeksi sehingga terjadi peningkatan sekresi atau penurunan absorpsi cairan di usus. Gejala Diare Pada Anak Diare adalah penyakit yang menyebabkan penderitanya mengalami buang air besar (BAB) lebih sering dan lebih encer. Jika anak BAB lebih dari 3 kali sehari dan konsistensi feses lunak hingga cair, maka bisa dikatakan ia mengalami diare. Pada bayi, diagnosis diare harus mempertimbangkan perubahan dari pola buang air besar normal (frekuensi atau konsistensi yang lebih encer dari biasanya). Gejala dan tanda anak diare bisa berbeda tergantung kondisi anak. Namun, secara umum, gejala diare pada anak di antaranya meliputi: BAB cair Tidak nafsu makan Mual dan muntah Berat badan turun Kram pada perut Perut mulas atau kembung Dorongan untuk BAB meningkat Tidak mampu menahan BAB Demam Bercak darah pada feses Dehidrasi. Faktor Penyebab Diare Anak Penyebab diare pada anak bisa dibedakan menjadi dua, yakni karena infeksi maupun non-infeksi. Virus merupakan penyebab tersering diare akut pada anak secara global, terutama rotavirus dan norovirus. Diare karena infeksi lainnya bisa disebabkan oleh bakteri (10-20%) dan parasit (<10%). Bakteri penyebab diare pada anak di antaranya adalah bakteri Salmonella, E. coli, Campylobacter, dan Shigella. Diare juga bisa disebabkan oleh infeksi parasit bernama Giardia. Sedangkan, untuk penyebab diare anak non-infeksi di antaranya adalah karena: Alergi makanan/minuman Keracunan makanan Intoleransi laktosa Penyakit pada organ pencernaan, seperti celiac, radang usus, dan iritasi usus Pengaruh obat-obatan seperti antibiotik Terlalu banyak mengonsumsi minuman manis, seperti jus buah dengan pemanis buatan, juga bisa menjadi penyebab anak mengalami diare. Baca Juga: Susu untuk Pencernaan Anak Pertolongan Pertama Mengatasi Anak Diare Penting bagi Moms mengetahui secara pasti apa penyebab diare pada anak. Hal ini agar dapat segera dilakukan langkah penanganan yang sesuai. Meski pada umumnya diare pada anak dapat sembuh dengan sendirinya, beberapa kasus diare membutuhkan penanganan medis dan obat-obatan yang tepat. Sebagian besar diare akut tidak memerlukan antibiotik. Antibiotik hanya diberikan pada kondisi tertentu berdasarkan evaluasi dokter, seperti infeksi bakteri spesifik atau diare berat dengan indikasi klinis. Langkah pertama menangani diare saat di rumah adalah mencegah Si Kecil mengalami dehidrasi. Dehidrasi pada anak yang terlambat ditangani dapat mengancam nyawa. Saat diare, Si Kecil dapat kehilangan banyak cairan tubuh yang keluar bersama dengan BAB. Tak hanya itu, tubuh juga akan mengalami ketidakseimbangan elektrolit. Saat tubuh kekurangan cairan dan elektrolit maka dapat mengakibatkan dehidrasi, yang jika tidak ditangani dengan tepat dapat menyebabkan masalah kesehatan yang lebih serius, mulai dari kerusakan organ, syok, koma, bahkan kematian. Itulah alasan mengapa menjaga hidrasi tubuh saat diare menjadi sangat penting. Selain mengganti cairan yang keluar saat BAB, Moms juga perlu memperhatikan keseimbangan elektrolit dalam tubuh Si Kecil. Sehingga tidak cukup hanya dengan air minum biasa, berikan juga cairan rehidrasi oral atau oralit. Perhatikan tanda-tanda dehidrasi seperti mata cekung, air mata tidak keluar saat menangis, urin berkurang dan berwarna pekat, tubuh lemas, dan sulit makan atau minum. Perhatikan asupan cairan Si Kecil saat diare. Berikan minum setiap setelah anak BAB. Jika air putih biasa tidak cukup, Moms bisa memberi minum oralit untuk mengganti elektrolit yang keluar, bisa juga dengan memberikan makanan berkuah, seperti sup dan sayur. WHO merekomendasikan penggunaan oralit dengan osmolaritas rendah sebagai terapi utama rehidrasi pada diare. Bila anak masih mendapat asupan ASI, jangan berhenti memberinya ASI. Bahkan bila memungkinkan, tambahkan frekuensi menyusu Si Kecil. Jangan berikan obat pada anak yang sedang diare seperti antibiotik maupun penghenti diare tanpa petunjuk dari dokter. Selain itu, jangan lupa untuk segera melakukan konsultasi ke dokter. Makanan yang Harus Dihindari Anak Saat Diare Saat anak diare, penting bagi Moms untuk menjaga asupan makanan dan minumannya. Hal ini bertujuan agar bayi diare tetap aktif. Selain memberikan cairan yang cukup, ada beberapa jenis makanan maupun minuman yang perlu dihindari saat Si Kecil diare, di antaranya: Makanan gorengan dan berminyak, karena lemak sulit dicerna dan dapat memicu kontraksi Makanan cepat saji, juga mengandung tinggi lemak yang butuh tenaga ekstra untuk dicerna usus Kue kering Makanan dengan pemanis buatan, zat seperti aspartam, sorbitol, atau xylitol yang digunakan sebagai pemanis buatan dapat memiliki efek pencahar alami Makanan pedas dan asam Jus buah, karena mendorong sering BAB dan kandungan fruktosa (gula alami buah) yang berlebih dapat memperparah diare Sayuran dan buah mengandung gas, seperti brokoli, buncis, dan durian karena memicu kembung dan rasa tak nyaman di perut Minuman mengandung kafein dan soda Anak dengan diare dianjurkan tetap mengonsumsi diet seimbang sesuai usia, tanpa pembatasan makanan ketat, dengan fokus pada makanan yang mudah dicerna. Untuk daging dan juga ayam sebaiknya diolah dengan cara direbus atau dipanggang. Hindari makanan yang digoreng menggunakan minyak. Untuk buah dan sayuran yang biasa dimakan dengan kulitnya, seperti mentimun dan apel, saat diare sebaiknya kupas terlebih dahulu. Perhatikan asupan cairan. Selain dari air minum, lauk berkuah juga bagus sebagai sumber cairan untuk hidrasi tubuh saat diare Demi mencegah diare kembali menyerang Si Kecil langkah pencegahan yang bisa Moms lakukan yakni dengan mengajarkan Si Kecil protokol kebersihan diri, menjaga keamanan pangan dan air untuk anak, serta meningkatkan kesehatan saluran cernanya. Karena salah satu penyebab diare anak adalah bakteri dan kuman yang dapat masuk melalui makanan Si Kecil, penting untuk Moms menjaga kebersihan asupan makanan anak. Biasakan Si Kecil mencuci tangan dengan sabun selama 20 detik setelah menggunakan toilet, dan sebelum dan sesudah makan, maupun saat mempersiapkan makanan. Biasakan juga disinfektasi benda di rumah yang sering disentuh. Untuk membantu mencegah Si Kecil mudah terserang diare, Moms dapat memberikan makanan atau minuman yang mengandung probiotik. Probiotik merupakan bakteri baik yang berperan dalam menjaga keseimbangan mikrobiota usus dan mendukung kesehatan pencernaan anak. Beberapa studi menunjukkan bahwa strain tertentu, seperti L. reuteri DSM 17938 , dapat membantu mempersingkat durasi diare pada anak dengan diare akut. Lactogrow satu-satunya susu pertumbuhan yang mengandung L. reuteri, juga 0 gr sukrosa. Lactogrow dukung pencernaan sehat si kecil agar nutrisinya terserap optimal. Selain itu Lactogrow juga diperkaya dengan DHA, minyak ikan omega 3&6 yang mendukung perkebangan kognitif anak, serta dilengkapi 13 vitamin dan 7 mineral untuk membantu menunjang tumbuh kembang si kecil secara menyeluruh Pertanyaan Umum Seputar Diare pada Anak 1. Apa penyebab paling umum diare pada anak? Penyebab paling umum diare pada anak salah satunya adalah infeksi baik virus, bakteri, maupun parasit. Selain itu bisa juga karena sebab non-infeksi, seperti alergi makanan atau minuman, keracunan makanan, intoleransi laktosa, penyakit pada sistem pencernaan, hingga pengaruh obat-obatan. Mengetahui penyebab diare anak dapat membantu menentukan cara mengatasi yang tepat. 2. Kapan diare anak perlu segera dibawa ke rumah sakit? Diare anak perlu segera dibawa ke rumah sakit apabila anak menunjukkan gejala atau tanda keparahan, seperti berlangsung dalam waktu lama, mengalami dehidrasi parah, demam tinggi, ada bercak darah di feses, hingga kondisi tubuh yang terus melemah.

Disusun Oleh: Tim LACTOCLUB • May 2026

Masalah Pencernaan Bayi dan Cara Mengatasinya
Pencernaan
Pencernaan

Masalah Pencernaan Bayi yang Sering Terjadi

Waktu baca: 2 menit Masalah pencernaan bayi biasanya disertai sejumlah gejala seperti perut kembung, mual, rewel, diare, hingga dehidrasi. Kondisi itu dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari gangguan fungsional pencernaan hingga infeksi saluran cerna Sejumlah gangguan pencernaan perlu penanganan medis apabila sudah mengganggu kesehatan dan tumbuh kembang bayi. Berikut ini bahasan yang perlu Moms ketahui terkait masalah pencernaan Si Kecil dan cara mengatasinya. Penyebab dan Gejala Infeksi Pencernaan pada Bayi Infeksi dapat menyebabkan masalah pada sistem pencernaan bayi. Organ pencernaan Si Kecil yang masih berkembang membuatnya lebih rentan terhadap serangan infeksi oleh bakteri, virus, atau parasit. Salah satu bentuk infeksi pencernaan pada bayi adalah muntaber atau gastroenteritis. Gejala infeksi pencernaan pada bayi dapat berupa muntah, diare, demam, dan rewel, dan tidak selalu dapat dibedakan penyebabnya tanpa pemeriksaan medis. Muntaber pada bayi bisa disebabkan oleh virus seperti Rotavirus dan Norovirus, atau bakteri E.coli dan Salmonella, maupun parasit, seperti giardia. Penanganan pertama untuk infeksi pencernaan pada bayi adalah memastikan asupan cairan terjaga agar mencegah bayi mengalami dehidrasi karena banyak mengeluarkan cairan lewat muntah dan diare. Selain ASI, pada kondisi tertentu dapat diberikan oralit sesuai anjuran tenaga kesehatan. Pada bayi usia di bawah 6 bulan disarankan untuk diperiksakan ke dokter. Pastikan bayi tetap mendapat asupan ASI atau susu formula. Tahap Perkembangan Saluran Cerna Bayi Saat lahir sistem pencernaan bayi sudah terbentuk sempurna namun belum berfungsi secara optimal. Sistem pencernaan bayi berkembang secara bertahap selama tahun pertama kehidupan, sehingga pada awal kehidupan masih belum berfungsi secara optimal. Karenanya, penting bagi Moms untuk mengetahui perkembangan saluran cerna Si Kecil dan memberikan asupan yang sesuai. Usia 0-3 hari Sistem pencernaan sudah lengkap namun belum berfungsi dengan optimal. Mengeluarkan feses pertama yang berwarna hijau kehitaman dan kental seperti aspal yang disebut meconium. Usia 0-3 bulan Pada tahap ini sistem pencernaan bayi masih dalam proses pematangan dan adaptasi sehingga hanya bisa menerima asupan cair berupa ASI maupun susu formula. Usia 4-6 bulan Pada usia ini bayi masih direkomendasikan mendapat ASI eksklusif hingga usia 6 bulan sebelum mulai MPASI. Feses masih berupa cairan kental berwarna hijau, kecoklatan, atau kekuningan, dengan butiran kecil mirip biji. Usia 6-9 bulan Usus mulai dapat beradaptasi dengan protein yang lebih kompleks dan serat. Mulai dapat menerima makanan padat berupa MPASI dengan tekstur dinaikkan bertingkat, mulai dari lembut atau puree. Feses akan mulai terlihat menggumpal dan lebih padat. Usia 9-12 bulan Pada usia ini, kemampuan pencernaan semakin berkembang dan bayi mulai mampu menerima variasi makanan keluarga dengan tekstur yang disesuaikan. Contoh Masalah Pencernaan Bayi Ada sejumlah gangguan pencernaan yang umum dialami bayi. Berikut ulasannya. 1. Perut Kembung Saluran cerna yang belum berfungsi sempurna membuat bayi biasa mengalami perut kembung. Gangguan itu bisa dipicu makan atau minum terlalu cepat, intoleransi laktosa juga bisa memicu gangguan ini. 2. Gumoh Gumoh biasanya terjadi saat bayi terlalu banyak makan atau menelan udara saat menyusui. Gumoh terjadi karena kerongkongan bayi belum berkembang sempurna. Ukuran lambungnya pun masih sangat kecil. Gumoh pada bayi tidak termasuk kondisi mengkhawatirkan selama tidak muncul berkepanjangan atau berlebihan. 3. Sembelit Pada bayi berusia di atas enam bulan yang sudah menerima MPASI, susah buang air besar atau sembelit dapat dipengaruhi oleh perubahan pola makan, termasuk asupan serat dan cairan yang kurang, serta factor lain. Sembelit pada bayi lebih dinilai dari konsistensi feses yang keras dan kesulitan saat BAB, bukan hanya frekuensi. Beberapa gejala lain seperti perut anak terasa tegang, nafsu makan menurun, dan menangis tiap kali diajak ke toilet. 4. Diare Masalah pencernaan bayi lain yang umum terjadi yakni diare. Moms perlu waspada jika si Kecil terlalu sering BAB, tekstur tinja cair atau berjumlah banyak. Diare pada bayi paling sering disebabkan oleh infeksi, meskipun dalam beberapa kasus dapat berkaitan dengan intoleransi atau alergi makanan. 5. Kolik Kolik adalah kondisi ketika bayi menangis secara berlebihan, biasanya lebih dari 3 jam per hari dan terjadi beberapa hari dalam seminggu, tanpa penyebab medis yang jelas. . Penyebab kolik masih belum diketahui pasti hingga kini. Namun, kondisi tersebut diduga terjadi saat bayi merasa tidak nyaman dengan perutnya akibat lapar, terlalu banyak gas dalam saluran cerna, atau terlalu kenyang. Jika masalah pencernaan pada bayi menimbulkan gejala demam tinggi, muntah berlebihan, atau penurunan berat badan yang signifikan, Moms sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter untuk mendapat tindakan medis. Baca Juga: Susu untuk Pencernaan Anak Cara Mengatasi Masalah Pencernaan pada Bayi Anak yang kerap mengalami gangguan pencernaan lebih berisiko mengalami kekurangan nutrisi. Gangguan pencernaan yang berlangsung lama dapat memengaruhi kenyamanan dan asupan makan anak. Oleh karena itu, penting mengetahui cara mengatasi masalah pencernaan pada bayi. 1. Memperhatikan Posisi Menyusui Moms perlu membiasakan diri menyusui atau menyuapi anak dalam keadaan lebih tegak. Pertahankan posisi itu sekitar 20 menit setelah pemberian susu atau makanan. Hal ini untuk mencegah susu dan makanan naik kembali ke kerongkongan. 2. Beri Asupan Serat Cukup Pada bayi di atas 6 bulan, pemberian makanan pendamping yang seimbang sesuai usia dianjurkan. Lengkapi dengan asupan serat yang cukup. 3. Pijat Lembut Perut Bayi Moms dapat memijat perut si Kecil dengan lembut agar bayi merasa nyaman. Moms juga bisa mengusap punggung bayi untuk tujuan serupa. Moms juga bisa menerapkan tummy time secara rutin. Tummy time atau membaringkan bayi dengan posisi tengkurap , hal ini penting untuk perkembangan motorik bayi, dan pada beberap bayi dapat membantu mengurangi rasa tidak nyaman di perut. 4. Cek Susu Formula Air susu ibu (ASI) adalah makanan terbaik bagi bayi baru lahir, baik bayi yang dilahirkan cukup bulan (matur) maupun kurang bulan (prematur). World Health Organization (WHO) merekomendasikan pemberian ASI secara eksklusif sekurang-kurangnya selama usia 6 bulan pertama, dan disarankan untuk dilanjutkan hingga 2 tahun. Bila karena indikasi medis bayi harus mendapatkan susu formula atas anjuran tenaga kesehatan, Moms dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk memastikan tidak ada masalah dengan pemberian susu formula tersebut. 5. Hindari Makanan Tertentu Hindari makanan yang berpotensi membuat diare semakin memburuk seperti makanan berminyak, makanan manis dan produk olahan susu. Itu dia sejumlah masalah pencernaan pada bayi berikut cara mengatasinya. Beri pola makan yang sehat ya Moms untuk menjaga kesehatan pencernaan Si Kecil. Pada Sebagian kasus, pola makan ibu dapat memengaruhi kenyamanan bayi, namun respons ini bervariasi dan tidak terjadi pada semua bayi. 6. Hindari Overfeeding Pemberian makan atau susu dalam jumlah berlebihan dapat menyebabkan perut kembung karena sistem pencernaan bayi belum sepenuhnya matang. Bolehkah Bayi Mendapat Probiotik? Probiotik merupakan bakteri hidup yang baik dan bermanfaat untuk kesehatan pencernaan dan tubuh. Namun bolehkah bayi diberi asupan probiotik? Probiotik dapat ditemukan secara alami dalam ASI, namun pemberian suplemen probiotik pada bayi sebaiknya dilakukan dengan rekomendasi tenaga kesehatan. Demikian Moms, penjelasan lengkap seputar infeksi pencernaan pada bayi dan masalah pencernaan bayi lainnya, serta cara mengatasinya. Bila masalah pencernaan bayi tidak kunjung membaik, sementara kondisi Si Kecil semakin menurun hingga pertumbuhannya terganggu, jangan ragu untuk segera berkonsultasi ke dokter spesialis anak atau ke fasilitas kesehatan terdekat untuk penanganan yang tepat. Jangan lupa juga untuk gabung LACTOCLUB Community untuk sharing parenting tanpa judging bareng Moms dan Expert! Pertanyaan Seputar Infeksi Pencernaan pada Bayi 1. Apa ciri bayi terkena infeksi pencernaan? Ciri bayi terkena infeksi pencernaan yang paling umum adalah muntah dan diare. Selain itu juga bisa disertai dengan nyeri atau sakit di bagian perut dan juga demam. Infeksi pencernaan pada bayi biasanya disebabkan virus seperti Rotavirus atau Norovirus, tetapi bisa juga akibat infeksi bakteri (E.coli atau Salmonella) dan parasit (Giardia). 2. Bagaimana penanganan pertama saat bayi muntaber? Penanganan pertama saat bayi muntaber atau gastroenteritis adalah menjaga asupan cairan agar anak tidak mengalami dehidrasi. Pada bayi usia kurang dari 6 bulan, tetap berikan ASI agar anak tidak kekurangan cairan. Lalu bawa ke dokter untuk penanganan medis lebih lanjut.

Disusun Oleh: Tim LACTOCLUB • Jun 2026

Perut Anak Sehat: Ciri-Ciri dan Cara Menjaganya
Pencernaan
Pencernaan

Ciri Perut Sehat pada Anak yang Perlu Diketahui

Waktu baca: 2 menit Memiliki tubuh yang sehat adalah hal yang sangat penting bagi siapapun, baik itu orang tua, muda, terutama anak-anak. Dalam masa pertumbuhan, setiap bagian tubuh penting untuk menjadi perhatian karena dapat mempengaruhi kesehatannya di masa yang akan datang. Salah satu yang tidak boleh disepelekan adalah kesehatan perut. Sistem pencernaan berperan dalam mencerna makanan, menyerap nutrisi, serta membuang sisa metabolisme yang tidak diperlukan tubuh. Ada berbagai ciri-ciri perut anak sehat yang sebaiknya Moms ketahui agar Si Kecil dapat mencerna segala asupan dengan baik. Sebelum memahami tanda perut anak yang sehat, ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kesehatan perut, mulai dari asupan makanan, tingkat stres, pola tidur, hingga penggunaan antibiotik. Memiliki perut yang menjadi 'rumah' bagi bakteri perut yang sehat sangat penting untuk kesehatan secara keseluruhan.1 Apalagi perut yang sehat memiliki mikrobiota usus bersama sistem imun berperan dalam menjaga keseimbangan lingkungan usus dan membantu mempertahankan fungsi pertahanan tubuh. Perut yang sehat juga berkomunikasi dengan otak melalui hormon dan saraf, yang membantu menjaga kesehatan secara keseluruhan. Ciri-ciri Perut Anak Sehat Ada beberapa kriteria dan ciri-ciri perut anak sehat yang mungkin perlu Moms ketahui, antara lain: 1. Perut sehat anak dilihat dari frekuensi BAB Ciri perut anak yang sehat pertama-tama dapat ditandai oleh frekuensi buang air besarnya. Saluran cerna yang sehat akan membuat BAB teratur pada anak. Frekuensi BAB pada anak dapat bervariasi, mulai dari beberapa kali sehari hingga beberapa kali dalam seminggu, selama tidak disertai keluhan seperti nyeri atau perubahan konsistensi yang signifikan. 2. Waktu transit makanan di perut Waktu transit makanan untuk dicerna oleh perut berbeda-beda. Waktu transit usus bervariasi antar individu dan dipengaruhi oleh usia, pola makan, dan aktivitas fisik. Pada anak sehat, variasi ini masih dapat dianggap normal selama tidak disertai gejala klinis. Baca Juga: Ciri-ciri Perut Sehat pada Anak Tekstur dan warna feses Tekstur feses juga menjadi ciri perut anak yang sehat. Feses yang sehat adalah yang memiliki sedikit makanan yang tidak tercerna serta tanpa darah atau lendir. Warnanya cokelat hingga cokelat tua. Teksturnya mulus dan keluar dalam satu bentuk atau beberapa potongan kecil. Warna feses Si Kecil juga bisa menunjukkan kondisi kesehatan pencernaannya. Warna feses umumnya cokelat, namun dapat dipengaruhi oleh makanan. Beberapa perubahan warna, seperti merah atau hitam, perlu diwaspadai terutama bila terjadi tanpa sebab yang jelas dan disertai gejala lain. Hijau, bisa karena klorofil dari sayuran atau pewarna makanan, namun bisa juga menjadi tanda infeksi bakteri dan iritasi usus. Kuning, bisa dari wortel atau lemak makanan, namun bisa juga pertanda gangguan pada pankreas atau penyakit celiac. Merah, bisa dari buah naga atau warna makanan, tetapi bisa juga berasal dari pendarahan di saluran cerna atau radang usus. Hitam, bisa dari sisa sayuran berdaun gelap, atau bisa akibat luka pendarahan di saluran cerna atas atau kelebihan zat besi. Abu-abu atau putih, bisa dari sisa susu yang tidak tercerna, namun lebih bisa diakibatkan gangguan pada hati, empedu, pankreas, atau obat-obatan1 Sedangkan tekstur dan bentuk feses yang normal adalah solid namun tetap lembut. Bila feses terlalu keras, encer, atau cair, maka bisa menjadi tanda sembelit atau diare. Tanda-tanda Perut Anak Sensitif Perut anak yang sensitif dapat membuat Si Kecil sering merasa tidak nyaman. Tanda-tandanya seperti sering kembung, kentut berulang, mual, muntah, sembelit, atau diare. Jika Si Kecil sering mengalami gangguan pencernaan dan perubahan kebiasaan BAB, mungkin disebabkan perutnya yang terlalu sensitif. Keluhan pencernaan berulang pada anak dapat berkaitan dengan gangguan fungsional saluran cerna (seperti functional abdominal pain) atau kondisi tertentu seperti intoleransi maupun alergi makanan, sehingga perlu evaluasi lebih lanjut. Bila tanda perut sensitif sudah terlalu parah dan serius, seperti berat badan turun, nafsu makan hilang, maka sebaiknya Moms segera membawa Si Kecil untuk diperiksa dokter. Kebiasaan Harian yang Membuat Perut Sehat Menjaga perut anak sehat bisa Moms lakukan dengan menerapkan kebiasaan rutin yang baik, di antaranya: 1. Tambahkan serat ke dalam menu harian Serat dari makanan penting sebagai prebiotik untuk perkembangan bakteri baik di usus. Asupan serat yang cukup berperan dalam membantu fungsi pencernaan dan dapat mendukung keteraturan buang air besar. 2. Cukup asupan cairan setiap hari Air penting untuk pencernaan sehat. Air membantu tubuh menyerap dan menyalurkan nutrisi ke seluruh tubuh. Cukup cairan penting untuk membantu proses pencernaan dan menjaga konsistensi feses. 3. Mengelola stres 4. Cukup tidur dan istirahat teratur 5. Rutin beraktivitas fisik Aktivitas fisik secara teratur berperan dalam menjaga kesehatan pencernaan dan metabolisme tubuh. Kebiasaan Makan yang Harus Dihindari Selain membiasakan kebiasaan baik di atas, Moms juga perlu memperhatikan asupan makanan Si Kecil. Hindari kebiasaan makan berikut untuk menjaga perut anak tetap sehat: Sering mengonsumsi makanan ultra processed, seperti fast food dan frozen food. Terlalu banyak konsumsi gula tambahan dan pemanis buatan. Terlalu sering makan makanan tinggi lemak dan digoreng. Banyak makan makanan dari bahan tepung olahan yang rendah serat. Sering makan makanan pedas. Sering makan makanan junk food yang tinggi lemak, gula, dan garam1 Penting bagi Si Kecil untuk menjaga kesehatan perutnya agar tumbuh kembangnya optimal. Pola makan kaya serat dari buah, sayur, dan kacang-kacangan dapat mendukung keberagaman mikrobiota usus. Makanan atau minuman yang mengandung prebiotik dan probiotik juga tidak kalah penting. Berikan Si Kecil yogurt, kefir, makanan yang telah difermentasi seperti acar, kimchi, atau sauerkraut, maupun miso. Di luar itu, Moms juga dapat memberikan susu yang mengandung probiotik dan prebiotik untuk membantu menjaga kesehatan pencernaan Si Kecil. Beberapa probiotik dapat membantu mendukung kesehatan saluran cerna dan keseimbangan mikrobiota usus, dengan manfaat yang dapat bervariasi tergantung jenis dan kondisi individu. Lactogrow satu-satunya susu pertumbuhan yang mengandung L. reuteri, juga 0 gr sukrosa. Lactogrow dukung pencernaan sehat si kecil agar nutrisinya terserap optimal. Selain itu Lactogrow juga diperkaya dengan DHA, minyak ikan omega 3&6 yang mendukung perkebangan kognitif anak, serta dilengkapi 13 vitamin dan 7 mineral untuk membantu menunjang tumbuh kembang si kecil secara menyeluruh. Menjaga kesehatan pencernaan anak merupakan langkah penting untuk mendukung tumbuh kembangnya. Dengan pemenuhan nutrisi yang tepat, Moms dapat membantu Si Kecil tetap sehat dan nyaman dalam beraktivitas sehari-hari. Pertanyaan Umum Perut Anak Sehat 1. Apa saja kriteria perut anak yang sehat? Kriteria perut anak yang sehat dapat dilihat dari frekuensi BAB, waktu transit makanan di perut, tekstur dan warna feses, bagaimana proses BAB, serta ada tidaknya gas yang menyebabkan perut anak kembung. 2. Bagaimana pola BAB yang dianggap normal untuk anak? Frekuensi BAB normal pada anak bervariasi dan tidak harus setiap hari, selama tidak disertai keluhan seperti nyeri, konstipasi, atau diare.

Disusun Oleh: Tim LACTOCLUB • Jun 2026

Konten yang ditinjau bersifat informatif dan tidak menggantikan konsultasi medis langsung.