Sorry, you need to enable JavaScript to visit this website.

Artikel

Artikel Parenting & Kesehatan Anak

Panduan tumbuh kembang & pencernaan anak

yang didukung oleh Tim Expert LACTOCLUB

Filter berdasarkan:

Anak Susah Kentut Penyebab dan Cara
Pencernaan
Pencernaan

Anak Susah Kentut: Penyebab dan Cara Aman Membantu Mengeluarkan Gas

Perut terasa penuh atau begah karena gas yang tidak kunjung keluar bisa membuat anak susah kentut sehingga ia merasa tidak nyaman. Kondisi ini dapat terjadi karena udara yang tertelan saat makan atau minum, makanan tertentu, perubahan pola makan, kurang bergerak, atau sembelit. Kondisi anak biasanya dapat membaik setelah gas keluar atau ia buang air besar (BAB). Namun, jika perut Si Kecil semakin membesar atau ia mengalami nyeri, muntah, dan tampak sangat kesakitan, Moms sebaiknya waspada. Simak penyebab, cara mengatasinya, dan kapan Si Kecil harus dibawa ke dokter. Perbedaan Gas Biasa dan Perut Kembung Keberadaan gas di dalam saluran pencernaan merupakan hal yang normal. Penumpukan gas memang membuat Si Kecil sesekali merasa begah, bersendawa, atau ingin kentut. Namun, masalah gas ringan biasanya tidak disertai nyeri hebat dan dapat membaik setelah gas keluar atau Si Kecil kentut atau BAB. Sementara itu, perut kembung pada anak perlu lebih diperhatikan jika perut terlihat semakin membesar, terasa sangat tegang, atau disertai nyeri yang menetap maupun semakin berat. Moms juga perlu mengamati kondisi Si Kecil secara keseluruhan, misalnya apakah ia masih aktif, mau makan dan minum, serta dapat BAB seperti biasa. Penyebab Anak Susah Kentut Produksi gas merupakan bagian normal dari proses pencernaan. Gas dapat terbentuk ketika bakteri di usus memecah makanan maupun ketika Si Kecil tanpa sadar menelan udara saat makan, minum, atau berbicara. Berikut beberapa kondisi dapat membuat gas terasa lebih banyak atau lebih sulit dikeluarkan. Makan atau minum terlalu cepat sehingga lebih banyak udara tertelan. Minum menggunakan sedotan atau dari botol tertentu. Mengonsumsi minuman berkarbonasi. Mengonsumsi makanan tertentu yang pada sebagian anak lebih mudah menghasilkan gas. Mengalami perubahan pola makan secara tiba-tiba. Mengalami sembelit sehingga feses yang menumpuk dapat membuat gas lebih sulit keluar. Kurang bergerak atau melakukan aktivitas fisik. Jadi, masalah anak susah kentut tidak selalu berarti ada gangguan serius pada saluran pencernaan. Moms juga dapat memperhatikan apakah Si Kecil masih bisa BAB, makan dan minum dengan baik, serta tetap aktif seperti biasanya. Baca Juga: Cara Mengatasi Diare pada Anak Cara Agar Anak Bisa Kentut dengan Aman Berikut beberapa cara agar anak bisa kentut yang dapat dicoba di rumah untuk membantu mengurangi rasa tidak nyaman. Ajak anak bergerak aktif Aktivitas fisik ringan seperti berjalan, bermain, atau melakukan gerakan tubuh dapat membantu pergerakan usus. Anak tidak perlu melakukan olahraga berat. Aktivitas sehari-hari yang sesuai usianya sudah cukup. Bantu anak makan lebih perlahan Makan terburu-buru dapat membuat lebih banyak udara tertelan. Biasakan Si Kecil makan dengan tenang, mengunyah makanan dengan baik, dan tidak terburu-buru saat minum. Perhatikan makanan yang memicu gas Jika anak berulang kali mengalami kembung setelah mengonsumsi makanan tertentu, catatlah makanan dan gejalanya. Jangan langsung menghilangkan beberapa jenis makanan sekaligus dari menu anak, terutama makanan bergizi, tanpa mengetahui apakah makanan tersebut benar-benar menjadi pemicu. Berikan kompres hangat Menempelkan kompres hangat pada perut dapat membantu memberikan rasa nyaman ketika Si Kecil mengalami kembung ringan. Pastikan suhunya tidak terlalu panas dan jangan memberikan tekanan kuat pada perut. Atasi sembelit jika ada Kalau Si Kecil juga mengalami sembelit yang ditandai dengan BAB keras, jarang BAB, atau perlu mengejan saat BAB, ini bisa semakin mempersulit keluarnya gas. Untuk membantu mengatasinya, pastikan Si Kecil cukup minum, mendapatkan makanan berserat sesuai usianya, dan tetap aktif bergerak. Kapan Harus ke Dokter? Tidak semua anak yang susah kentut membutuhkan pemeriksaan dokter. Namun, keluhan yang disertai gejala tertentu dapat menunjukkan adanya masalah pada saluran pencernaan yang perlu segera diperiksa. Segera bawa Si Kecil ke dokter jika ia mengalami kondisi berikut. Nyeri perut hebat atau nyeri yang semakin memburuk. Perut semakin membesar atau terasa sangat tegang. Muntah berulang, terutama muntah berwarna hijau. Tidak dapat BAB maupun buang gas. Demam. Darah pada feses. Anak terlihat sangat lemas atau sulit dibangunkan. Tidak mau minum atau menunjukkan tanda dehidrasi. Setelah keluhan membaik, pastikan kebutuhan nutrisi harian Si Kecil tetap terpenuhi melalui pola makan beragam dan bergizi seimbang. Sebagai pelengkap asupan nutrisi harian Si Kecil, Moms dapat memilih LACTOGROW. LACTOGROW satu-satunya susu pertumbuhan dengan L. reuteri* dan 0g sukrosa. Selain itu, LACTOGROW juga diperkaya dengan inulin, DHA, ARA, omega 3 & 6, 13 vitamin, dan 7 mineral untuk membantu menjaga kenyamanan pencernaan Si Kecil. Pencernaan yang sehat berperan penting dalam proses penyerapan nutrisi yang dibutuhkan untuk tumbuh kembangnya. Yuk, dukung kesehatan pencernaan Si Kecil dengan LACTOGROW! FAQ Mengenai Anak Susah Kentut yang Perlu Diketahui Kenapa anak bisa susah kentut atau buang gas? Anak dapat susah kentut karena gas menumpuk atau lebih sulit keluar dari saluran pencernaan. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh udara yang tertelan saat makan atau minum terlalu cepat, konsumsi makanan atau minuman tertentu, perubahan pola makan, kurang bergerak, hingga sembelit. Jika Si Kecil masih aktif, dapat BAB, serta makan dan minum seperti biasa, keluhan umumnya dapat dipantau terlebih dahulu. Cara alami apa yang bisa membantu anak kentut lebih lancar? Moms dapat mengajak Si Kecil bergerak atau bermain sesuai usianya untuk membantu pergerakan usus. Biasakan juga anak makan dan minum lebih perlahan, cukupi kebutuhan cairan, serta perhatikan makanan yang mungkin memicu gas. Kompres hangat pada perut juga dapat diberikan untuk membantu memberikan rasa nyaman saat Si Kecil mengalami kembung ringan. Apakah anak susah kentut bisa jadi tanda gangguan pencernaan serius? Tidak selalu. Namun, susah kentut perlu segera diperiksakan jika disertai nyeri perut hebat, perut semakin membesar atau terasa sangat tegang, muntah berulang terutama yang berwarna hijau, tidak dapat BAB maupun buang gas, demam, atau darah pada feses. Segera cari pertolongan medis jika Si Kecil juga tampak sangat lemas, sulit dibangunkan, tidak mau minum, atau menunjukkan tanda dehidrasi.

Disusun Oleh: Tim LACTOCLUB • Oct 2026

BAB Anak Warna Abu-Abu
Pencernaan
Pencernaan

BAB Anak Warna Abu-Abu atau Pucat? Cek Penyebab dan Kapan Harus ke Dokter

Warna feses saat anak buang air besar (BAB) dapat berubah, tergantung makanan yang dikonsumsi, proses pencernaan, hingga kondisi kesehatan Si Kecil. Namun, BAB anak warna abu-abu yang benar-benar pucat, putih, atau seperti dempul perlu mendapat perhatian, terutama jika perubahan tersebut terjadi berulang atau disertai keluhan lain. Perbedaan BAB Pucat Normal dan Berbahaya Salah satu faktor yang memengaruhi warna feses adalah empedu. Empedu diproduksi oleh hati dan dialirkan ke saluran pencernaan. Pigmen yang terkandung di dalam empedu kemudian memberikan warna pada feses. Jika aliran empedu ke usus berkurang atau terhambat, feses dapat kehilangan sebagian pigmennya sehingga terlihat lebih pucat. Kondisi ini dapat berkaitan dengan gangguan pada hati, saluran empedu, pankreas, atau bagian lain dari sistem pencernaan sehingga perlu dinilai lebih lanjut oleh dokter. Namun, tidak semua perubahan warna BAB menunjukkan adanya gangguan kesehatan. Makanan, obat, atau suplemen tertentu juga dapat membuat warna feses berubah sementara. Oleh sebab itu, Moms perlu memperhatikan seberapa pucat warna feses dan apakah warna feses kembali normal pada BAB berikutnya atau justru kembali berubah. Feses yang hanya tampak sedikit lebih terang belum tentu menunjukkan masalah. Sebaliknya, warna feses tidak normal anak yang terlihat benar-benar putih, abu-abu sangat pucat, atau seperti dempul perlu lebih diperhatikan, terutama jika terjadi lebih dari satu kali. Tips Mengatasi BAB Anak Pucat di Rumah Saat menemukan perubahan warna BAB, Moms dapat mengamati dan mendokumentasikan perubahan yang terjadi. Foto feses dapat membantu menunjukkan warna BAB, terutama jika warnanya kembali normal sebelum Si Kecil sempat diperiksa oleh dokter. Selain itu, Moms juga dapat mencatat beberapa hal berikut. Warna dan konsistensi feses. Seberapa sering Si Kecil BAB. Kapan perubahan warna pertama kali terlihat. Apakah warna BAB kembali normal pada BAB berikutnya. Makanan, obat, atau suplemen yang dikonsumsi Si Kecil. Warna urine. Ada atau tidaknya kulit atau bagian putih mata yang tampak kuning. Keluhan lain seperti gatal, demam, muntah, atau nyeri perut. Catatan tersebut dapat membantu dokter memahami pola perubahan BAB dan menentukan apakah diperlukan pemeriksaan lebih lanjut. Baca Juga: Cara Mengatasi Diare pada Anak Kapan Harus ke Dokter? Jika penyebab feses anak pucat belum diketahui dan warna BAB sering tampak putih atau abu-abu yang cenderung sangat pucat, sebaiknya Moms membawa Si Kecil ke dokter untuk diperiksa daripada mencoba mengatasinya sendiri di rumah. Moms juga perlu segera berkonsultasi jika perubahan warna BAB disertai gejala lain, seperti: kulit atau bagian putih mata tampak kuning, urine berwarna lebih gelap dari biasanya, gatal pada kulit, nyeri atau rasa tidak nyaman pada perut, demam, mual atau muntah, nafsu makan menurun, atau berat badan turun atau pertumbuhan tidak sesuai. Setelah penyebab perubahan warna BAB dievaluasi dan kondisi Si Kecil mendapatkan penanganan yang sesuai, pastikan kebutuhan nutrisi hariannya tetap terpenuhi melalui pola makan yang beragam dan bergizi seimbang. Sebagai pelengkap asupan nutrisi harian Si Kecil, Moms dapat memberikan LACTOGROW. LACTOGROW satu-satunya susu pertumbuhan dengan L. reuteri* dan 0g sukrosa. Selain itu, LACTOGROW juga diperkaya dengan inulin, DHA, ARA, omega 3 & 6, 13 vitamin, dan 7 mineral untuk membantu menjaga kenyamanan pencernaan Si Kecil. Pencernaan yang sehat berperan penting dalam proses penyerapan nutrisi yang dibutuhkan untuk tumbuh kembangnya. Yuk dukung kesehatan pencernaan Si Kecil dengan LACTOGROW! FAQ Tentang BAB Anak Berwarna Abu-abu atau Pucat Apa arti feses anak berwarna abu-abu atau pucat? Feses anak yang berwarna abu-abu atau pucat dapat terjadi ketika jumlah pigmen empedu yang masuk ke saluran pencernaan berkurang. Jika feses terlihat benar-benar putih, abu-abu sangat pucat, atau seperti dempul, terutama jika terjadi berulang, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan gangguan aliran empedu atau masalah pada hati, saluran empedu, maupun pankreas dan perlu diperiksakan ke dokter. Apakah BAB warna abu-abu selalu berbahaya? Tidak selalu. Warna feses dapat berubah sementara akibat makanan, obat, atau suplemen tertentu. Feses yang hanya sedikit lebih terang dan kembali normal pada BAB berikutnya belum tentu menandakan masalah kesehatan. Namun, jika feses berulang kali terlihat putih atau abu-abu sangat pucat, sebaiknya Si Kecil diperiksakan ke dokter untuk mengetahui penyebabnya. Apa yang perlu dilakukan orang tua saat menemukan BAB anak warna abu-abu? Moms dapat memotret feses dan mencatat perubahan warna, konsistensi, serta frekuensi BAB Si Kecil. Perhatikan juga makanan, obat, atau suplemen yang dikonsumsi dan gejala lain yang menyertai. Segera konsultasikan ke dokter jika warna pucat terjadi berulang atau disertai kulit atau mata menguning, urine berwarna gelap, demam, muntah, nyeri perut, nafsu makan menurun, atau berat badan turun.

Disusun Oleh: Tim LACTOCLUB • Oct 2026

10 Sumber Probiotik
Pencernaan
Pencernaan

10 Sumber Probiotik Alami untuk Anak dan Cara Memberikannya

Probiotik alami untuk anak dapat ditemukan pada beberapa makanan fermentasi, seperti yoghurt, kefir, dan tempe. Makanan yang mengandung mikroorganisme hidup dapat menjadi bagian dari pola makan yang beragam dan bergizi seimbang. Namun, sebelum memilih makanan yang menjadi sumber probiotik alami untuk anak, Moms perlu memahami terlebih dahulu bagaimana probiotik bekerja dan apa bedanya dengan prebiotik. Perbedaan Probiotik dan Prebiotik Probiotik merupakan mikroorganisme hidup yang dapat memberikan manfaat kesehatan jika dikonsumsi dalam jumlah yang memadai, sedangkan prebiotik merupakan komponen makanan yang dimanfaatkan oleh mikroorganisme tersebut di dalam saluran cerna. Keduanya memiliki peran yang berbeda, tetapi sama-sama dapat menjadi bagian dari pola makan yang mendukung kesehatan pencernaan. 10 Sumber Probiotik Alami untuk Anak Beberapa makanan fermentasi dapat mengandung mikroorganisme hidup. Namun, jenis dan jumlahnya dapat berbeda-beda sehingga tidak semua makanan fermentasi dapat memberikan manfaat probiotik yang sama. Berikut beberapa contoh sumber probiotik. 1. Yoghurt Yoghurt merupakan salah satu sumber probiotik alami yang praktis untuk Si Kecil. Pilih yoghurt yang mencantumkan keterangan kultur hidup (live cultures ) dan perhatikan kandungan gula tambahannya. Yoghurt juga dapat diberikan langsung atau dikombinasikan dengan buah sebagai camilan. 2. Kefir Kefir merupakan minuman berbahan dasar susu yang difermentasi dan dapat mengandung beragam mikroorganisme. Jika diberikan kepada Si Kecil, pilih produk dengan kandungan gula yang rendah dan perhatikan bahan tambahan yang digunakan. 3. Tempe Tempe merupakan makanan fermentasi berbahan dasar kedelai yang juga menjadi sumber protein nabati. Moms bisa mengolah tempe menjadi berbagai menu dengan tekstur yang sesuai dengan kemampuan makan Si Kecil. 4. Miso Miso merupakan pasta hasil fermentasi kedelai yang dapat digunakan sebagai penambah rasa pada makanan. Namun, kandungan natrium miso umumnya cukup tinggi. Oleh karena itu, gunakan dalam jumlah kecil dan sesuaikan dengan kebutuhan Si Kecil. 5. Kimchi Kimchi merupakan sayuran fermentasi yang umumnya mengandung bakteri asam laktat. Namun, rasanya yang pedas dan kandungan natriumnya yang cukup tinggi membuat kimchi perlu diberikan secara terbatas dan disesuaikan dengan toleransi Si Kecil. 6. Sauerkraut Sauerkraut merupakan kol yang difermentasi dan dapat mengandung mikroorganisme hidup. Jika ingin memberikannya kepada Si Kecil, sebaiknya perhatikan proses pengolahan dan kandungan natriumnya. 7. Natto Natto merupakan kedelai yang difermentasi dan memiliki tekstur lengket serta aroma yang khas. Makanan ini dapat diperkenalkan secara bertahap sebagai bagian dari menu utama dengan porsi yang sesuai. 8. Acar Fermentasi Tidak semua acar dibuat melalui fermentasi. Jika memilih acar sebagai sumber probiotik alami untuk anak, Moms perlu memastikan produk memang dibuat melalui proses fermentasi dan memperhatikan kandungan garamnya. 9. Kombucha Kombucha merupakan minuman berbahan dasar teh yang difermentasi dan mengandung campuran mikroorganisme. Namun, kandungan gula, kafein, dan keasamannya dapat berbeda pada setiap produk sehingga kombucha bukan pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan probiotik Si Kecil. 10. Produk Susu Selain yoghurt dan kefir, terdapat berbagai produk susu fermentasi lain yang menggunakan kultur mikroorganisme. Jenis dan jumlah mikroorganismenya dapat berbeda antar produk sehingga Moms perlu memperhatikan informasi pada label sebelum memilih. Baca Juga: Cara Mengatasi Diare pada Anak Cara Memberikan Makanan Probiotik kepada Anak Makanan yang mengandung mikroorganisme hidup tidak perlu diberikan dalam jumlah besar. Jadikan makanan tersebut sebagai bagian dari pola makan yang beragam dan sesuai dengan kebutuhan Si Kecil. Beberapa hal yang dapat Moms perhatikan saat memberikan makanan probiotik anak adalah sebagai berikut. Sesuaikan dengan Usia dan Kemampuan Makan Anak Perhatikan tekstur, ukuran, dan cara penyajian untuk membantu mengurangi risiko tersedak. Berikan dalam Porsi yang Sesuai Makanan fermentasi cukup menjadi salah satu bagian dari menu, bukan pengganti makanan utama. Perkenalkan Secara Bertahap Jika Si Kecil belum terbiasa dengan makanan fermentasi, berikan dalam jumlah kecil dan amati penerimaannya. Tetap Berikan Makanan yang Beragam Pastikan Si Kecil tetap mendapatkan sumber karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan serat dari berbagai jenis makanan. Bagaimana Cara Memilih Produk yang Mengandung Probiotik? Selain cara memberikannya, pemilihan produk juga perlu diperhatikan, terutama jika Moms ingin memberikan makanan fermentasi sebagai bagian dari pola makan Si Kecil. Pasalnya, tidak semua produk fermentasi mengandung mikroorganisme hidup dalam jumlah yang cukup untuk memberikan manfaat kesehatan. Proses fermentasi, pengolahan, dan penyimpanan dapat memengaruhi jenis serta jumlah mikroorganisme hidup yang terkandung di dalam produk. Saat memilih produk, Moms dapat melihat informasi berikut pada kemasannya. Kesesuaian dengan usia Anak Pastikan produk sesuai dengan usia dan tahap perkembangan Si Kecil. Moms juga dapat memperhatikan komposisi, tekstur, serta cara penyajian produk agar sesuai dengan kemampuan makan Si Kecil. Jenis dan jumlah probiotik Jika produk mencantumkan probiotik, Moms dapat melihat informasi mengenai jenis atau strain serta jumlah mikroorganisme hidup yang terkandung di dalamnya. Informasi ini penting karena manfaat probiotik dapat bersifat spesifik terhadap strain dan jumlah yang diberikan. Tanggal kedaluwarsa dan penyimpanan Perhatikan tanggal kedaluwarsa serta petunjuk penyimpanan pada kemasan. Kondisi penyimpanan dan lamanya produk disimpan dapat memengaruhi jumlah mikroorganisme hidup yang masih bertahan hingga akhir masa simpan. Kapan Keluhan Pencernaan Anak Perlu Diperiksa ke Dokter? Makanan yang mengandung probiotik dapat menjadi bagian dari pola makan sehat untuk mendukung kesehatan pencernaan Si Kecil. Namun, jika Si Kecil mengalami keluhan pencernaan yang menetap atau cukup berat, makanan probiotik tidak menggantikan pemeriksaan dan penanganan dari dokter. Segera konsultasikan dengan dokter jika Si Kecil mengalami diare atau sembelit yang menetap, muntah berulang, darah pada feses, nyeri perut berat, tanda dehidrasi, sulit makan, atau pertumbuhan yang tidak sesuai. Ingin mendapatkan lebih banyak insight tumbuh kembang Si Kecil? Yuk, gabung LACTOCLUB Community untuk sharing pengalaman, tips parenting , dan berdiskusi bersama Expert! FAQ Tentang Sumber Probiotik Alami untuk Anak Apa saja sumber probiotik alami yang aman untuk anak? Beberapa makanan fermentasi yang dapat mengandung mikroorganisme hidup antara lain yoghurt dengan kultur hidup, kefir, tempe, miso, natto, sauerkraut, dan beberapa jenis acar fermentasi. Saat memberikannya kepada Si Kecil, pilih makanan yang sesuai dengan usia dan kemampuan makannya serta perhatikan kandungan gula, garam, dan bahan tambahan lainnya. Berapa banyak makanan probiotik yang boleh diberikan pada anak setiap hari? Tidak ada satu jumlah atau porsi makanan probiotik yang berlaku untuk semua anak. Pemberiannya perlu disesuaikan dengan usia, kebutuhan gizi, dan jenis makanan yang dikonsumsi. Makanan yang mengandung probiotik cukup diberikan sebagai bagian dari pola makan yang beragam dan bergizi seimbang, bukan sebagai pengganti makanan utama. Jika Si Kecil baru mencobanya, Moms dapat memperkenalkannya dalam jumlah kecil secara bertahap. Apakah semua makanan fermentasi mengandung probiotik? Tidak selalu. Meskipun dibuat melalui proses fermentasi, tidak semua makanan fermentasi masih mengandung mikroorganisme hidup saat dikonsumsi. Proses pengolahan, seperti pemanasan, serta kondisi penyimpanan dapat memengaruhi jumlah mikroorganisme yang masih hidup. Jika memilih produk kemasan, Moms dapat memeriksa label untuk melihat informasi mengenai kultur hidup atau jenis probiotik yang terkandung di dalamnya.

Disusun Oleh: Tim LACTOCLUB • Oct 2026

Kebutuhan Serat Pada Bayi
Pencernaan
Pencernaan

Kebutuhan Serat pada Bayi Sesuai Usia dan Sumber MPASI yang Aman

Asupan serat tidak hanya penting untuk orang dewasa, tetapi juga anak-anak, termasuk bayi yang mulai mengenal makanan pendamping ASI (MPASI). Serat membantu menjaga kesehatan saluran pencernaan dan mendukung kelancaran buang air besar (BAB). Pada bayi, kebutuhan serat mulai dapat dipenuhi melalui berbagai makanan bergizi yang diberikan saat MPASI, seperti sayuran, buah-buahan, dan biji-bijian. Meskipun serat penting untuk bayi, pemberiannya tidak bisa sembarangan karena kelebihan asupan serat juga tidak baik untuk tubuh Si Kecil. Lalu, bagaimana cara aman memenuhi kebutuhan serat pada bayi? Simak jawabannya berikut ini. Peran Serat pada Bayi MPASI Serat merupakan nutrisi dalam sumber pangan nabati, seperti buah-buahan dan sayuran, yang tidak dapat diserap tubuh. Jika tidak bisa diserap tubuh, mengapa serat begitu penting? Ternyata karena serat dibutuhkan untuk membantu proses pencernaan di dalam usus. Pada bayi, serat dapat diberikan mulai usia 6 bulan melalui MPASI. Selama 6 bulan pertama, kebutuhan nutrisi Si Kecil sudah dapat dipenuhi melalui ASI. Menambahkan makanan sumber serat ke dalam menu MPASI memberikan sejumlah manfaat bagi Si Kecil. Berikut adalah beberapa di antaranya. Membantu menjaga konsistensi feses Serat dapat membantu melunakkan feses dengan mengikat cairan sehingga feses menjadi tidak terlalu kering atau keras. Beberapa jenis serat dapat membantu membentuk konsistensi feses yang lebih normal. Mendukung perkembangan mikrobiota usus Asupan serat prebiotik dapat mendukung perkembangan mikrobiota usus dengan membantu pertumbuhan kelompok bakteri yang bermanfaat, termasuk Bifidobacteria . Hal ini dapat membantu menciptakan lingkungan mikroba yang lebih sehat di dalam usus. Mendukung perkembangan sistem kekebalan tubuh Keberadaan mikrobiota di usus penting untuk menjaga kekebalan tubuh. Mikrobiota usus berperan dalam perkembangan dan fungsi sistem imun. Asupan serat sebagai bagian dari pola makan seimbang dapat membantu mendukung perkembangan mikrobiota usus yang sehat. Sumber serat yang berasal dari tumbuhan membantu bayi untuk mengenal lebih banyak jenis makanan, seperti buah dan sayuran. Pemberian sejak dini akan membantu Si Kecil terbiasa mengonsumsi beraneka ragam makanan sehat. Baca Juga: Manfaat Serat pada Susu Memenuhi Kebutuhan Serat pada Bayi Seperti telah disinggung di atas, Moms dapat memberikan Si Kecil asupan serat umumnya mulai usia 6 bulan ke atas. Pasalnya, bayi di bawah usia 6 bulan umumnya masih membutuhkan ASI sebagai sumber nutrisi utama. Memasuki usia sekitar 6 bulan, bayi mulai dapat dikenalkan dengan makanan padat melalui MPASI sesuai dengan kesiapan perkembangannya. Jumlah kebutuhan serat pada bayi sebenarnya juga relatif masih rendah. Berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang ditetapkan Kementerian Kesehatan RI, kebutuhan serat bayi 6–11 bulan adalah sekitar 11 gram per hari. Untuk memenuhi kebutuhan serat Si Kecil, Moms bisa memilih sumber serat yang aman dan mudah dicerna serta sesuai untuk MPASI. Contohnya, Moms bisa memilih buah alpukat, pisang, atau pepaya yang dihaluskan menjadi puree . Untuk sayuran, Moms bisa memilih brokoli, wortel, bayam, atau labu siam yang dikukus hingga lunak lalu dilumatkan. Hati-hati jika memilih kacang atau biji-bijian untuk bayi. Selalu pastikan kacang dan biji-bijian sudah diolah hingga lunak dan disajikan dalam bentuk yang sesuai dengan kemampuan makanan Si Kecil agar mengurangi risiko tersedak. Cara Menaikkan Asupan Serat Bertahap Sistem pencernaan bayi masih berkembang dan perlu beradaptasi dengan makanan baru. Karenanya, penting untuk meningkatkan asupan makanan tinggi serat untuk bayi secara bertahap dan tidak terburu-buru. Selain itu, pertimbangkan juga kapasitas perut Si Kecil yang masih sangat terbatas. Jangan langsung memaksakan untuk harus mencapai kebutuhan harian serat tersebut. Berikut adalah beberapa cara meningkatkan asupan serat Si Kecil secara bertahap yang dapat Moms coba di rumah. Mulai dari porsi kecil. Mengenalkan serat pada bayi untuk pertama kali mulai dengan jumlah kecil dan tingkatkan bertahap. Memberikan makanan berserat terlalu banyak dapat membuat Si Kecil lebih cepat kenyang. Kenalkan satu jenis setiap waktu. Meski ada banyak jenis makanan yang ingin Moms berikan pada Si Kecil, beri jarak waktu beberapa hari untuk masing-masing jenis makanan agar Si Kecil dapat beradaptasi. Pastikan makanan sudah dimasak sampai lunak. Untuk MPASI bayi 6 bulan, berikan makanan bertekstur lembut seperti puree . Seimbangkan dengan cairan. Berikan Si Kecil asupan cairan yang cukup setelah mulai mengenalkan makanan padat untuk membantu melancarkan pencernaannya. Tanda Kekurangan dan Kelebihan Serat Memberikan asupan serat untuk bayi perlu dilakukan dengan tepat karena kekurangan maupun kelebihan serat dapat berdampak pada kesehatan pencernaan dan tumbuh kembang Si Kecil. Karena itu, Moms perlu mengetahui tanda-tanda bayi kekurangan atau kelebihan serat. Tanda kelebihan serat Asupan serat yang berlebihan dapat memicu produksi gas yang membuat perut Si Kecil kembung. Kondisi ini juga dapat menyebabkan sakit perut atau perut melilit. Selain itu, terlalu banyak serat tanpa diimbangi asupan cairan yang cukup dapat memicu sembelit karena feses menjadi lebih sulit bergerak melalui saluran pencernaan. Asupan serat yang terlalu banyak juga dapat membuat bayi lebih cepat kenyang. Akibatnya, Si Kecil mungkin makan dalam jumlah lebih sedikit sehingga asupan energi dan zat gizi lain yang dibutuhkan untuk tumbuh kembangnya ikut berkurang. Tanda kekurangan serat Kekurangan serat dapat membuat feses menjadi lebih keras dan sulit dikeluarkan sehingga meningkatkan risiko sembelit. Selain itu, asupan serat yang cukup juga dapat membantu mempertahankan rasa kenyang lebih lama karena beberapa jenis serat dapat memperlambat proses pencernaan. Serat juga berperan dalam mendukung kesehatan mikrobiota usus yang berkaitan dengan fungsi sistem kekebalan tubuh. Asupan serat yang tidak memadai dapat memengaruhi komposisi mikrobiota usus, yang diketahui berperan dalam fungsi sistem imun. Pada bayi yang sudah mulai MPASI, kebutuhan serat dapat dipenuhi melalui makanan yang sesuai dengan usia dan kemampuan makannya. Jika asupan serat Si Kecil tidak terpenuhi dan muncul keluhan seperti sembelit atau diare, Moms perlu memperhatikan kondisinya. Begitu pula jika Si Kecil mengalami gangguan pertumbuhan, seperti berat atau tinggi badan yang sulit bertambah. Sebaiknya Moms berkonsultasi dengan dokter anak untuk mengetahui penyebab dan mendapatkan penanganan yang sesuai. —---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Dapatkan informasi terpercaya seputar tumbuh kembang anak sekaligus berbagi pengalaman dengan sesama Moms di LACTOCLUB Community! Ingin mendapatkan lebih banyak insight tentang tumbuh kembang Si Kecil? Yuk, gabung di LACTOCLUB Community untuk berbagi pengalaman, mendapatkan tips parenting , dan berdiskusi bersama para Expert! Dengan memahami kebutuhan serat pada bayi, semoga Moms dapat memenuhi kebutuhan nutrisi seimbang Si Kecil agar ia dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. FAQ Tentang Kebutuhan Serat pada Bayi Berapa kebutuhan serat harian bayi sesuai usia? Bayi usia 0–6 bulan belum membutuhkan asupan serat dari makanan karena kebutuhan gizinya sudah dicukupi dari ASI. Mulai usia 6–11 bulan, bayi membutuhkan 11 gram serat sehari dan bisa diberikan melalui MPASI. Pada usia 1–3 tahun, kebutuhan seratnya 19 gram sehari. Apa risiko bayi kelebihan atau kekurangan serat? Kelebihan serat pada bayi dapat menyebabkan sembelit dan malnutrisi karena serat tanpa diimbangi cairan membuat feses menjadi lebih keras. Asupan serat yang berlebihan dapat membuat bayi cepat kenyang sehingga berpotensi mengurangi asupan energi dan zat gizi penting lainnya. Di sisi lain, kekurangan serat juga dapat meningkatkan risiko sembelit karena membuat feses menjadi lebih keras dan sulit dikeluarkan. Serat juga berperan sebagai prebiotik yang mendukung pertumbuhan dan aktivitas mikrobiota usus, yang turut berperan dalam mendukung fungsi sistem imun. Apa dampaknya jika kebutuhan serat bayi tidak terpenuhi dengan tepat? Jika kebutuhan serat pada bayi tidak terpenuhi secara tepat, baik kekurangan maupun kelebihan, hal ini dapat menyebabkan keluhan pencernaan seperti sembelit, kembung, atau perubahan pola BAB.

Disusun Oleh: Tim LACTOCLUB • Oct 2026

penyebab bayi gumoh
Pencernaan
Pencernaan

Kenapa Bayi Sering Gumoh? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya!

Gumoh adalah keluarnya sebagian susu dari lambung ke mulut bayi tanpa tenaga, biasanya saat atau setelah menyusu. Bayi sering gumoh karena otot katup di antara kerongkongan dan lambung belum matang, kapasitas lambungnya masih kecil, dan bayi banyak menelan udara saat menyusu. Gumoh umumnya normal dan dialami sekitar separuh bayi pada 3 bulan pertama. Kondisi ini biasanya berkurang setelah bayi bisa duduk dan hilang sekitar usia 12 bulan. Periksakan ke dokter jika bayi muntah menyembur, muntahan berwarna hijau atau berdarah, berat badan tidak naik, atau bayi rewel dan menolak menyusu. Sebagai orang tua baru, melihat bayi gumoh setelah menyusu atau makan mungkin membuat Moms panik. Tapi jangan khawatir, gumoh pada bayi adalah hal yang normal dan umumnya tidak berbahaya. Artikel ini akan membahas kenapa bayi sering gumoh, penyebab bayi gumoh, dan cara mengatasi bayi sering gumoh agar Moms tidak perlu cemas. Kenapa Bayi Sering Gumoh? Gumoh adalah kondisi keluarnya sebagian susu saat atau setelah bayi selesai menyusu. Ini adalah hal yang normal hingga bayi berusia kurang dari 1 tahun. Volume susu yang mengalir keluar dari mulut bayi bervariasi, umumnya 1-2 sendok makan. Lantas kenapa bayi sering gumoh? Ini karena lambungnya yang kecil dan katup lambung yang lemah. Lambung bayi di bawah 4 bulan hanya mampu menampung sedikit susu dalam satu waktu. Memberikan susu berlebihan dapat menyebabkan gumoh. Gumoh pada bayi berbeda dengan muntah ya Moms. Saat bayi gumoh, susu keluar dengan mudah melalui mulut dan dapat disertai sendawa. Sementara kalau muntah, isi perut bayi keluar dengan cepat seperti menyemprot dari mulut bayi, bukan mengalir. Penyebab Bayi Gumoh Ada beberapa alasan bayi sering gumoh, antara lain: Menyusu atau makan terlalu banyak: Bayi yang makan atau minum terlalu banyak dalam waktu singkat, atau terlalu cepat, lebih mudah gumoh. Posisi menyusui atau makan yang tidak tepat: Posisi menyusui atau makan bayi dapat menyebabkan gumoh. Jaga agar bayi tetap tegak setidaknya selama 30 menit agar susu atau makanan tidak naik ke kerongkongan. Terlalu banyak aktivitas setelah makan: Stimulasi atau aktivitas berlebihan setelah makan, seperti tummy time dapat menyebabkan gumoh. Aerophagia : Saat bayi terlalu banyak menelan udara ketika menyusu Apa Gumoh Mempengaruhi Pertumbuhan Bayi? Gumoh pada bayi yang normal tidak mengganggu kesehatannya. Selama bayi Moms tampak nyaman, tetap mau menyusu, dan berat badannya juga naik sesuai usianya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Baca Juga: Cara Menyendawakan Bayi Setelah Minum ASI Cara Mengatasi Bayi Gumoh Berikut cara mengatasi bayi sering gumoh yang bisa Moms lakukan di rumah: Jangan memberi makan terlalu banyak sekaligus. Sebaliknya, berikan mereka dalam jumlah yang lebih kecil dan lebih sering. Ukuran dot sesuaikan usia. Jika bayi Moms menyusu dengan botol, pastikan ukuran puting atau dotnya tepat. Lubang dot yang terlalu besar membuat bayi minum terlalu cepat, sementara lubang terlalu kecil membuat bayi menelan udara lebih banyak. Jaga waktu makan tetap tenang. Lebih sedikit gangguan dapat mengurangi gumoh. Sering-sering sendawakan bayi. Moms dapat menyendawakan bayi saat atau setelah menyusu untuk membantu membuang gas yang dapat menambang masalah gumoh. Caranya, katupkan tangan Moms dan tepuk lembut di punggung bayi. Jaga bayi Moms tetap tegak selama 30 menit setelah menyusu agar susu tidak naik ke kerongkongan. Jangan terlalu banyak memberikan aktivitas atau stimulasi tummy time setelah menyusui. Jaga bayi tetap tenang setidaknya 20 menit setelah menyusu. Pastikan tidak ada tekanan pada perut setelah makan. Misalnya, tunggu setidaknya 30 menit sebelum Moms mendudukkan bayi di car seatnya. Gumoh pada bayi adalah hal yang normal dan umumnya tidak berbahaya. Dengan menerapkan beberapa tips di atas, Moms dapat membantu mengurangi gumoh pada bayi dan membuatnya lebih nyaman. Namun, jika Moms masih khawatir atau bayi menunjukkan tanda-tanda yang tidak normal, jangan ragu untuk segera berkonsultasi dengan dokter. Semoga pertanyaan Moms soal kenapa bayi sering gumoh dapat terjawab dari artikel ini ya! Pertanyaan Seputar Bayi Gumoh 1. Gumoh adalah apa? Gumoh adalah keluarnya sebagian susu dari lambung ke mulut bayi tanpa tenaga, biasanya saat atau setelah menyusu. Gumoh berbeda dengan muntah yang keluar dengan kuat atau menyembur. 2. Kenapa bayi sering gumoh? Bayi sering gumoh karena otot katup antara kerongkongan dan lambung belum matang, lambungnya masih kecil, dan bayi banyak menelan udara saat menyusu. 3. Apakah gumoh normal? Ya, gumoh normal selama bayi tetap aktif, mau menyusu, dan berat badannya naik. Gumoh biasanya hilang sekitar usia 12 bulan. 4. Bagaimana cara agar bayi tidak gumoh setelah minum ASI? Agar bayi tidak mudah gumoh, susui dalam posisi kepala lebih tinggi, sendawakan bayi di tengah dan setelah menyusu, hindari menyusui berlebihan, dan gendong bayi tegak sekitar 20 sampai 30 menit setelah menyusu. 5. Kapan gumoh harus diperiksakan ke dokter? Gumoh perlu diperiksakan jika bayi muntah menyembur, muntahan berwarna hijau atau berdarah, berat badan tidak naik, bayi tampak kesakitan, atau menolak menyusu.

Disusun Oleh: Tim LACTOCLUB • Oct 2026

Ciri-ciri anak diare
Pencernaan
Pencernaan

Ciri-Ciri Diare pada Anak dan Tanda Bahaya yang Perlu Diwaspadai

Ciri-ciri diare adalah buang air besar (BAB) cair atau lembek sebanyak 3 kali atau lebih dalam sehari, atau lebih sering dari biasanya. Ciri lain yang sering menyertai meliputi perut mulas atau kram, perut kembung, mual atau muntah, nafsu makan menurun, dan kadang demam. BAB lembek pada bayi yang minum ASI tidak termasuk diare. Pada anak, diare perlu diwaspadai karena tubuhnya lebih cepat kehilangan cairan dan mengalami dehidrasi. WHO mencatat diare sebagai penyebab kematian ketiga terbanyak pada anak usia 1 sampai 59 bulan, meski sebenarnya dapat dicegah dan diobati. Ciri-Ciri Anak Diare Beberapa tanda yang sering menyertai kondisi diare antara lain: BAB encer atau cair, bisa lebih dari tiga kali sehari Perut terasa mulas atau kembung Nafsu makan menurun Anak tampak lebih rewel atau mudah lelah Kondisi ini umumnya masih bisa dipantau di rumah selama Si Kecil tetap mau minum dan tampak aktif. Namun, perlu dipahami bahwa diare tidak selalu bersifat ringan. Pada situasi tertentu, diare bisa berkembang menjadi kondisi yang lebih serius, sehingga Moms perlu mengenali tanda-tanda bahaya yang perlu diwaspadai sejak awal. Tanda Bahaya yang Harus Diwaspadai Moms perlu lebih waspada jika diare disertai tanda-tanda yang mengarah pada kondisi serius. Berikut beberapa di antaranya: Anak tampak sangat lemas atau mengantuk Mulut dan bibir kering, jarang buang air kecil Mata terlihat cekung atau menangis tanpa air mata Diare berlangsung lebih dari beberapa hari atau disertai darah Demam tinggi atau muntah terus-menerus Tanda-tanda ini bisa mengarah pada dehidrasi atau infeksi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut. Agar lebih mudah mengambil keputusan, Moms juga perlu memahami perbedaan diare ringan dan diare berat pada Si Kecil. Baca Juga: 6 Manfaat Lactobacillus Reuteri untuk Anak Tanda Dehidrasi pada Anak Diare Menurut WHO Tingkat keparahan diare pada anak dinilai dari tanda dehidrasinya: Tanpa dehidrasi: anak aktif, mau minum seperti biasa, dan buang air kecil normal. Dehidrasi ringan sampai sedang: anak rewel atau gelisah, mata cekung, sangat haus dan minum dengan lahap, serta cubitan kulit perut kembali lambat. Dehidrasi berat: anak lemas atau sulit dibangunkan, mata sangat cekung, malas atau tidak bisa minum, serta cubitan kulit perut kembali sangat lambat. Dehidrasi ringan sampai sedang dapat ditangani dengan oralit di rumah sesuai arahan tenaga kesehatan. Dehidrasi berat memerlukan penanganan segera di rumah sakit. Berapa Lama Diare pada Anak Berlangsung? Menurut WHO, diare pada anak dibedakan berdasarkan lamanya: Diare akut: berlangsung kurang dari 14 hari. Jenis ini paling sering terjadi dan umumnya disebabkan infeksi virus. Diare persisten: berlangsung 14 hari atau lebih dan perlu diperiksakan ke dokter. Disentri: diare yang disertai darah pada feses dan perlu segera diperiksakan ke dokter. Langkah Awal untuk Pemulihan Kementerian Kesehatan RI menerapkan 5 langkah tuntas diare (LINTAS Diare) untuk menangani diare pada anak: Berikan oralit setiap kali anak BAB cair: 50 sampai 100 ml untuk anak di bawah 1 tahun, 100 sampai 200 ml untuk usia 1 sampai 4 tahun, dan 200 sampai 300 ml untuk usia 5 tahun ke atas. Jika anak muntah, tunggu 10 menit lalu berikan lagi sedikit demi sedikit. Berikan zinc selama 10 hari berturut-turut, yaitu 10 mg per hari untuk bayi di bawah 6 bulan dan 20 mg per hari untuk usia 6 bulan ke atas, meskipun diare sudah berhenti. Teruskan ASI dan makan seperti biasa dalam porsi kecil tapi sering. Hindari jus kemasan, minuman manis, dan soda. Berikan antibiotik hanya jika diresepkan dokter. Pantau frekuensi BAB, jumlah cairan yang masuk, dan tanda dehidrasi. Jika diare disertai muntah, baca juga Penyebab Muntaber pada Anak dan Cara Mengatasinya Tips Agar Anak Tidak Diare Selain penanganan, membangun kebiasaan sehari-hari juga berperan penting dalam menurunkan risiko diare pada anak. Berikut beberapa kebiasaan yang dapat membantu menurunkan risiko diare pada anak: Membiasakan cuci tangan dengan sabun, terutama sebelum makan, setelah dari toilet, dan setelah bermain. Memastikan makanan dan minuman diolah dengan bersih serta matang sempurna sebelum dikonsumsi. Menjaga kebersihan peralatan makan agar tidak menjadi sumber kuman. Mengajarkan kebiasaan hidup bersih sesuai usia anak, seperti tidak memasukkan tangan atau benda kotor ke dalam mulut. Menjaga kesehatan pencernaan Si Kecil tidak hanya bergantung pada penanganan saat diare terjadi, tetapi juga pada dukungan nutrisi sehari-hari yang tepat. Asupan gizi yang seimbang membantu sistem pencernaan anak bekerja lebih optimal dan mendukung daya tahan tubuhnya. Sebagai pilihan, Moms bisa memilih LACTOGROW PRO yang diformulasikan untuk membantu menjaga kesehatan pencernaan Si Kecil. LACTOGROW PRO 1+ untuk anak usia 1–3 tahun dan LACTOGROW PRO 3+ untuk anak usia 4–5 tahun adalah satu-satunya susu pertumbuhan dengan Lactobacillus reuteri yang terbukti secara klinis dapat mendukung kesehatan pencernaan anak, diperkaya dengan Omega 3 & 6, prebiotik Inulin, 13 vitamin, dan 7 mineral. Pertanyaan Seputar Ciri Anak Diare Bagaimana mengenali tanda-tanda anak sedang mengalami diare? Anak mengalami diare jika mengalami BAB yang frekuesinya lebih sering dan konsistensi feses lebih encer dari biasanya. Apa perubahan perilaku yang biasanya muncul saat anak diare? Anak bisa menjadi lebih rewel, lemas, nafsu makan menurun, atau sering merasa ingin BAB. Kapan diare pada anak perlu penanganan segera? Segera cari penanganan jika diare lebih dari 24 jam, disertai demam tinggi, muntah terus-menerus, darah pada feses, atau tanda dehidrasi.

Disusun Oleh: Tim LACTOCLUB • Oct 2026

Tips Memilih Susu Pertumbuhan untuk Pencernaan Si Kecil
Pencernaan
Pencernaan

7 Tips Memilih Susu Pertumbuhan Anak untuk Dukung Pencernaan

Susu pertumbuhan adalah susu yang diformulasikan khusus untuk anak usia 1 sampai 3 tahun sebagai bagian dari menu gizi seimbang. Cara memilih susu pertumbuhan yang tepat adalah dengan memperhatikan tujuh hal: kesesuaian usia, kandungan gizi utama, kandungan pendukung pencernaan (prebiotik dan probiotik), kadar gula tambahan, reaksi tubuh Si Kecil, jumlah konsumsi harian, serta label dan izin edar BPOM. Susu merupakan pelengkap, bukan pengganti makanan utama. Kebutuhan gizi anak tetap dipenuhi terutama dari makanan yang beragam, dan ASI dianjurkan tetap diberikan hingga usia 2 tahun atau lebih.¹ Apa Itu Susu Pertumbuhan? Susu pertumbuhan (growing-up milk) adalah minuman berbahan dasar susu untuk anak usia 12 sampai 36 bulan. Susu ini umumnya diperkaya vitamin, mineral, dan zat gizi lain yang sering kurang dalam menu harian anak, seperti zat besi, vitamin D, dan asam lemak omega.² Susu pertumbuhan berbeda dengan susu formula bayi (0 sampai 12 bulan), yang komposisinya disesuaikan untuk bayi. 7 Tips Memilih Susu Pertumbuhan untuk Si Kecil 1. Pilih sesuai usia Pilih susu dengan keterangan usia yang sesuai di kemasan, misalnya 1+ untuk anak 1 sampai 3 tahun dan 3+ untuk anak 3 tahun ke atas. Kandungan gizinya disesuaikan dengan kebutuhan di tiap tahap usia. Susu sapi dan susu pertumbuhan tidak dianjurkan sebagai minuman utama sebelum anak berusia 1 tahun.³ 2. Cek kandungan gizi utama Zat gizi Peran untuk anak Protein Membangun dan memperbaiki jaringan tubuh Kalsium dan vitamin D Pembentukan tulang dan gigi; vitamin D membantu penyerapan kalsium Zat besi Pembentukan sel darah merah dan perkembangan otak; mencegah anemia Vitamin C Membantu penyerapan zat besi Omega 3 dan 6 (termasuk DHA) Mendukung perkembangan otak Vitamin A dan zinc Mendukung daya tahan tubuh 3. Perhatikan kandungan pendukung pencernaan Pencernaan yang sehat membantu tubuh menyerap nutrisi dengan baik. Dua kandungan yang berperan untuk pencernaan: Prebiotik seperti FOS dan GOS, yaitu serat yang menjadi makanan bakteri baik di usus dan membantu feses tetap lunak.⁴ Probiotik , yaitu bakteri baik yang hidup. Manfaat probiotik bergantung pada jenis strainnya, sehingga pilih probiotik dengan strain yang sudah banyak diteliti, misalnya Lactobacillus reuteri DSM 17938.⁵ 4. Cek gula tambahan pada komposisi American Heart Association menganjurkan anak di bawah 2 tahun tidak mengonsumsi gula tambahan.⁶ Baca daftar komposisi dan perhatikan bahan seperti sukrosa, gula pasir, sirup glukosa, atau fruktosa. Pilih susu yang tidak mengandung atau rendah gula tambahan. Baca juga: Apa Itu Sukrosa pada Susu? 5. Amati reaksi tubuh Si Kecil Susu yang cocok tidak menimbulkan keluhan. Konsultasikan dengan dokter jika setelah minum susu Si Kecil sering mengalami: diare, perut kembung, atau muntah; ruam kulit, gatal, atau bengkak; BAB keras dan sulit keluar; BAB berdarah atau berlendir. Keluhan ini bisa menjadi tanda alergi protein susu sapi atau intoleransi laktosa, yang penanganannya perlu diarahkan dokter. Moms juga bisa memantau kondisi BAB Si Kecil dengan Poop Check . 6. Sesuaikan jumlah konsumsi harian Anak usia 1 sampai 2 tahun cukup minum sekitar 2 sampai 3 gelas susu per hari (sekitar 480 sampai 720 ml).³ Susu yang berlebihan bisa membuat anak kenyang dan malas makan, serta mengganggu asupan zat besi dari makanan. Berikan susu dengan gelas atau cangkir setelah makan, bukan sebagai pengganti makan. 7. Periksa label dan izin edar BPOM Pastikan kemasan mencantumkan nomor izin edar BPOM (MD atau ML), tanggal kedaluwarsa, anjuran usia, cara penyajian, dan informasi nilai gizi. Kemasan juga harus dalam kondisi baik, tidak penyok, bocor, atau menggembung. Kenali Jenis Susu Sebelum Memilih Jenis susu Proses Catatan untuk anak Susu segar mentah Tidak dipanaskan Tidak dianjurkan karena berisiko mengandung bakteri berbahaya⁷ Susu pasteurisasi Dipanaskan untuk membunuh sebagian besar bakteri berbahaya, disimpan di kulkas Aman untuk anak 1 tahun ke atas Susu UHT Dipanaskan 135 sampai 145°C selama beberapa detik Aman untuk anak 1 tahun ke atas; pilih yang tanpa gula tambahan Susu bubuk Dikeringkan hingga berbentuk bubuk Termasuk susu pertumbuhan; ikuti takaran penyajian di kemasan Susu kental manis (SKM) Susu yang diuapkan dan diberi banyak gula Bukan untuk minuman susu anak. BPOM mewajibkan label bahwa SKM tidak untuk menggantikan ASI, tidak cocok untuk bayi hingga 12 bulan, dan tidak dapat menjadi satu-satunya sumber gizi⁸ Susu Pertumbuhan dengan L. reuteri untuk Pencernaan Si Kecil LACTOGROW PRO 1+ untuk anak usia 1 sampai 3 tahun dan LACTOGROW PRO 3+ untuk anak usia 3 tahun ke atas dilengkapi Lactobacillus reuteri DSM 17938 dan prebiotik FOS:GOS untuk mendukung kesehatan pencernaan Si Kecil. Nestlé adalah satu-satunya pemegang lisensi L. reuteri DSM 17938 untuk produk susu pertumbuhan.* Lihat LACTOGROW PRO 1+ | Lihat LACTOGROW PRO 3+ Pertanyaan Seputar Susu Pertumbuhan 1. Susu apa yang baik untuk anak? Susu yang baik untuk anak adalah susu yang sesuai usianya, mengandung protein, kalsium, vitamin D, dan zat besi, rendah atau tanpa gula tambahan, serta tidak menimbulkan keluhan pencernaan. Untuk anak di bawah 1 tahun, ASI tetap menjadi pilihan utama. 2. Kapan anak mulai boleh minum susu pertumbuhan? Anak mulai boleh minum susu pertumbuhan atau susu sapi sebagai minuman sejak usia 1 tahun. Sebelum usia 1 tahun, bayi diberi ASI, atau susu formula bayi jika ASI tidak memungkinkan, sesuai saran tenaga kesehatan. 3. Berapa banyak anak 1 sampai 3 tahun boleh minum susu per hari? Anak usia 1 sampai 2 tahun cukup minum sekitar 2 sampai 3 gelas susu per hari (480 sampai 720 ml). Susu yang terlalu banyak dapat mengurangi nafsu makan dan asupan zat besi dari makanan. 4. Bagaimana cara memilih susu pertumbuhan untuk pencernaan anak? Pilih susu pertumbuhan yang mengandung prebiotik seperti FOS dan GOS serta probiotik dengan strain yang sudah diteliti, misalnya L. reuteri DSM 17938. Pastikan juga Si Kecil tidak mengalami diare, kembung, atau sembelit setelah meminumnya. 5. Bagaimana tanda susu tidak cocok untuk anak? Tanda susu tidak cocok untuk anak antara lain diare, perut kembung, muntah, ruam kulit, sembelit, atau BAB berdarah setelah minum susu. Konsultasikan ke dokter untuk memastikan apakah Si Kecil mengalami alergi protein susu sapi atau intoleransi laktosa. 6. Apakah susu kental manis boleh untuk anak? Susu kental manis tidak dianjurkan sebagai minuman susu anak karena kandungan gulanya tinggi. BPOM melarang SKM digunakan sebagai pengganti ASI atau satu-satunya sumber gizi.

Disusun Oleh: Tim LACTOCLUB • Oct 2026

Muntah dan Diare pada Anak
Pencernaan
Pencernaan

Diare pada Anak: Penyebab, Penanganan, dan Cara Mencegahnya

Diare pada anak adalah kondisi ketika Si Kecil buang air besar lebih sering dengan feses yang lebih encer atau berair dibandingkan pola BAB normalnya. Kondisi ini dapat disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, atau parasit maupun faktor lain seperti makanan atau minuman yang terkontaminasi dan efek obat tertentu. Saat anak diare, hal yang paling penting diperhatikan adalah menjaga kecukupan cairan karena diare dapat menyebabkan dehidrasi. Yuk, kenali penyebab diare pada anak, cara menanganinya, serta cara mencegah diare anak dalam pembahasan berikut! Penyebab Diare pada Anak Diare pada anak dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, mulai dari infeksi hingga pola makan atau gangguan pada saluran pencernaan. Berikut adalah beberapa penyebab diare pada anak yang paling umum. Infeksi Virus, Bakteri, atau Parasit Mikroorganisme penyebab infeksi dapat masuk ke saluran pencernaan dan mengganggu proses penyerapan cairan serta elektrolit di dalam usus. Penularannya dapat terjadi melalui makanan, minuman, tangan, atau benda yang telah terkontaminasi. Makanan atau Minuman yang Terkontaminasi Pengolahan, penyimpanan, atau penyajian makanan yang kurang higienis dapat meningkatkan risiko kontaminasi mikroorganisme. Ketika dikonsumsi, makanan atau minuman yang terkontaminasi dapat memicu infeksi saluran cerna, yang salah satu gejalanya adalah diare. Efek Samping Obat Tertentu Beberapa jenis obat, terutama antibiotik, dapat memengaruhi keseimbangan mikroorganisme di dalam usus. Perubahan ini dapat membuat konsistensi atau frekuensi BAB anak berubah selama atau setelah penggunaan obat. Perubahan Pola Makan atau Intoleransi Makanan Sebagian anak dapat mengalami kesulitan mencerna komponen makanan tertentu. Misalnya, pada anak dengan intoleransi laktosa, laktosa yang tidak tercerna dengan baik dapat menarik lebih banyak cairan ke dalam usus sehingga memicu BAB yang lebih encer. Gangguan pada Saluran Pencernaan Diare yang berlangsung lama atau berulang juga dapat berkaitan dengan kondisi tertentu pada saluran pencernaan. Jika diare tidak kunjung membaik atau disertai gejala lain, seperti darah pada feses, penurunan berat badan, atau nyeri perut yang berat, kondisi anak perlu diperiksakan lebih lanjut. Baca Juga: Cara Mengatasi Diare pada Anak Perbedaan Diare Akibat Bakteri dan Virus Diare akibat infeksi virus maupun bakteri dapat menimbulkan gejala yang serupa. Namun, pada infeksi virus, diare biasanya disertai gejala berupa mual, muntah, dan demam ringan, serta dapat berlangsung dalam waktu yang relatif singkat. Sementara itu, diare pada anak akibat infeksi bakteri pada beberapa kasus dapat menyebabkan keluhan yang lebih berat, seperti demam tinggi atau diare yang disertai darah. Waktu munculnya gejala juga dapat memberikan gambaran mengenai kemungkinan penyebab diare. Pada beberapa kasus infeksi bakteri, gejala dapat muncul dalam beberapa jam setelah anak terpapar, sedangkan pada infeksi virus, gejala dapat muncul setelah beberapa hari. Meski begitu, gejala tersebut tidak selalu dapat digunakan untuk memastikan apakah diare disebabkan oleh virus atau bakteri. Cara Menangani Diare pada Anak Berikut beberapa langkah penanganan diare pada anak. Berikan Cairan Oralit untuk Mengganti Cairan yang Hilang Anak yang mengalami diare sangat rentan mengalami dehidrasi. Bila si Kecil muntah setelah minum oralit, tunda dulu pemberiannya sejenak, lalu berikan kembali sedikit demi sedikit. Tetap Berikan ASI dan Makanan Jika Si Kecil masih menyusu, tetap berikan air susu ibu (ASI) seperti biasa. Anak yang sudah mengonsumsi makanan padat juga tetap perlu makan sesuai toleransinya Pilih Makanan dan Minuman yang Sesuai Berikan makanan yang biasa dikonsumsi Si Kecil dan mudah diterima selama diare, seperti nasi, kentang, roti, pisang, telur, atau sup. Untuk minuman, utamakan oralit dan air putih untuk membantu memenuhi kebutuhan cairan. Hindari minuman manis atau bersoda karena kandungan gulanya dapat memperburuk gejala diare pada sebagian anak. Berikan Makanan dalam Porsi Kecil dan Sering Saat Si Kecil diare, nafsu makannya mungkin menurun, tetapi asupan makanannya tetap harus diperhatikan. Berikan anak makanan dalam porsi kecil tapi sering untuk memenuhi kebutuhan gizinya. Berikan Zinc Sesuai Arahan Tenaga Kesehatan Pemberian suplemen zinc dapat menjadi bagian dari penanganan diare pada anak. Namun, pastikan pemberian zinc mengikuti anjuran tenaga kesehatan agar dosisnya sesuai dengan usia dan kondisi Si Kecil. Jangan Memberikan Obat Diare Sembarangan Tidak semua diare perlu ditangani dengan antibiotik. Antibiotik hanya digunakan pada kondisi tertentu sesuai penyebab dan indikasi medis. Jangan berikan obat tanpa arahan dokter. Tips Mencegah Diare pada Anak Sebagian cara mencegah diare anak dapat dilakukan melalui kebiasaan sehari-hari di rumah. Langkah sederhana yang dapat Moms terapkan adalah sebagai berikut. Biasakan Cuci Tangan dengan Sabun Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir membantu menghilangkan kotoran serta kuman yang dapat berpindah dari tangan ke mulut. Biasakan Si Kecil mencuci tangan terutama sebelum makan, setelah menggunakan toilet, dan setelah bermain di luar rumah. Pastikan Makanan dan Air Bersih Makanan atau air yang terkontaminasi bisa menjadi media masuknya virus, bakteri, atau parasit ke saluran pencernaan. Karena itu, perhatikan kebersihan bahan makanan, proses memasak, cara penyimpanan, serta keamanan air minum yang diberikan kepada Si Kecil. Jaga Kebersihan dan Sanitasi Mikroorganisme penyebab diare juga dapat menyebar melalui permukaan atau benda yang terkontaminasi. Membersihkan area yang sering digunakan Si Kecil, terutama toilet, area makan, dan benda yang sering disentuh, dapat membantu mengurangi risiko penularannya. Lengkapi Imunisasi Sesuai Anjuran Vaksin rotavirus dapat membantu melindungi anak dari gastroenteritis akibat infeksi rotavirus, salah satu penyebab diare pada anak. Pastikan imunisasi Si Kecil diberikan sesuai jadwal dan rekomendasi tenaga kesehatan. Setelah kondisi Si Kecil membaik, lanjutkan kembali pola makan yang beragam dan bergizi untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi dan mendukung proses pemulihan. Sebagai pelengkap asupan nutrisi harian Si Kecil, Moms dapat memberikan susu pertumbuhan, seperti LACTOGROW. LACTOGROW satu-satunya susu pertumbuhan dengan L. reuteri * dan 0g sukrosa. LACTOGROW juga diperkaya dengan inulin, DHA, ARA, omega 3 & 6, 13 vitamin, dan 7 mineral untuk membantu menjaga kenyamanan pencernaan Si Kecil. Pencernaan yang sehat berperan penting dalam proses penyerapan nutrisi yang dibutuhkan untuk tumbuh kembangnya. Yuk, dukung kesehatan pencernaan Si Kecil dengan LACTOGROW! *Nestle adalah satu-satunya pemegang lisensi L. reuteri DSM 17938 untuk produk susu pertumbuhan. FAQ Tentang Diare pada Anak Apa saja penyebab paling umum diare pada anak? Diare pada anak dapat disebabkan oleh infeksi (virus, bakteri, atau parasit), makanan dan minuman yang terkontaminasi, efek obat tertentu, perubahan pola makan, intoleransi makanan, atau gangguan pada saluran pencernaan. Bagaimana cara mencegah diare berulang pada anak? Biasakan anak mencuci tangan dengan sabun, konsumsi makanan dan air yang bersih, jaga kebersihan dan sanitasi lingkungan, serta lengkapi imunisasi sesuai anjuran tenaga kesehatan. Bagaimana cara membedakan diare karena virus dan karena bakteri pada anak? Diare akibat virus lebih sering disertai mual, muntah, dan demam, sedangkan infeksi bakteri pada beberapa kasus dapat menyebabkan demam tinggi atau diare berdarah. Namun, tetap periksakan Si Kecil ke dokter karena gejala saja tidak selalu dapat menentukan penyebab diare.

Disusun Oleh: Tim LACTOCLUB • May 2026

Konten yang ditinjau bersifat informatif dan tidak menggantikan konsultasi medis langsung.

Probiotik adalah mikroorganisme hidup yang bermanfaat bagi tubuh, terutama sistem pencernaan. Probiotik dapat dikonsumsi oleh orang dewasa maupun anak-anak dan bisa diperoleh dari makanan fermentasi, seperti yogurt dan tempe.

Muntaber, atau muntah dan berak, adalah kondisi yang ditandai dengan muntah dan buang air besar (BAB) secara berulang. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh peradangan pada lambung dan usus akibat infeksi virus atau bakteri.

Ciri-ciri diare akan sembuh pada anak antara lain feses mulai padat dan frekuensi BAB berkurang, nafsu makan kembali, rasa haus berkurang, dan anak kembali aktif. Diare pada anak umumnya membaik dalam beberapa hari, tetapi tekstur feses bisa butuh 1 sampai 2 minggu untuk benar-benar normal.

Anak muntah di malam hari umumnya dipicu infeksi virus pada saluran cerna, keracunan makanan, makan malam terlalu banyak dan dekat waktu tidur, batuk, atau refluks asam lambung.

Probiotik alami untuk anak dapat ditemukan pada beberapa makanan fermentasi, seperti yoghurt, kefir, dan tempe. Makanan yang mengandung mikroorganisme hidup dapat menjadi bagian dari pola makan yang beragam dan bergizi seimbang.

Maag saat hamil, terutama keluhan heartburn, cukup umum terjadi akibat perubahan hormonal dan meningkatnya tekanan di dalam perut seiring pertumbuhan kehamilan. Kondisi ini dapat menimbulkan rasa panas di dada atau tenggorokan, nyeri ulu hati, dan mual.

Kram perut saat hamil dapat terjadi akibat berbagai perubahan tubuh selama kehamilan, seperti rahim yang membesar, peregangan ligamen (jaringan ikat) pada panggul, penumpukan gas di dalam saluran pencernaan, atau sembelit (konstipasi).